WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 28) HADIAH DARI TUHAN


__ADS_3

HADIAH DARI TUHAN


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa dan siswi di kelasku pun berhamburan keluar kelas. Disisi lain aku masih disibukan menatap seorang wanita yang aku suka. Terlihat Keira sibuk memasukan satu persatu alat tulis miliknya kedalam tas.


Dalam benak diriku terpikir beragam siasat untuk menahannya lebih lama bersamaku, aku masih ingin menatapnya dan terus menatapnya. Setelah Keira selesai merapihkan semua buku dan alat tulisnya, Keira pun menatapku. Aku pun hanya terdiam karena aku belum menemukan alasan untuk menahannya lebih lama.


"Kok diam, gak mau pulang?” Tanya Keira.


Aku pun memikirkan segala alasan yang masuk akal, dan terpikir kemacetan di benak ku. Namun saat aku berfikir kembali, alasan itu tidak cukup kuat untuk menahannya. Karena di Jakarta, mau jam berapa pun akan macet. Tercipta alasan berikutnya di benak ku, namun aku langsung membuang jauh saat alasan itu datang di benak ku.


Alasan itu tentang mengajaknya pergi makan terlebih dahulu, karena aku tahu bahwa Keira hanya mau makan masakan rumah.


Aku pun terus berfikir, dan mencari cara, namun aku tidak bisa menemukan alasan karena aku awam akan hal ini.


Aku pun menyerah mencari alasan dan jujur kepadanya, dan berharap ia mengiyakan permintaanku. Aku mengambil spidol di dalam tasku dan tak lama menulis sebuah kalimat di atas meja. Aku menulis, bahwa aku masih ingin bersamanya, sedikit konyol memang. Tapi aku terlalu takut, jika harus mengatakannya langsung kepadanya.


Keira pun lantas mendekatkan dirinya dan menatap tulisan yang aku tulis, Keira hanya terdiam dan tak lama bibir ini tersenyum. Keira kembali membuka tasnya dan kembali menaruh alat tulisnya di atas meja, dan aku sadar bahwa keinginan kita dapat terwujud, jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya.


Tapi senyum ini, seketika hilang saat Keira membuka buku paket pelajaran biologi, mata pelajaran yang di ajar oleh Pak Widi. Teringat peristiwa tadi di ingatan, peristiwa saat Keira tersenyum saat menatap Pak Widi. Aku memang sedikit aneh akhir-akhir ini, aku selalu marah saat orang lain melukis senyum di wajah Keira.


"Kenapa harus biologi sih?” Tanyaku dengan ketus.


Keira hanya menatapku, dan tak lama ia memasukan buku biologinya kedalam tas. Dan mengambil buku pelajaran matematika, dan menatap kearah ku seraya memastikan bahwa aku tidak masalah jika ia belajar pelajaran matematika.


Melihat hal itu, aku hanya menganggukkan kepalaku seraya memberikan senyuman kearah nya. Keira hanya tersenyum sambil membuka buku paket itu, dan mulai serius menatap buku tersebut. Dan aku sadar, bahwa Keira sangat keren saat sedang belajar, dan aku menyukainya.


Waktu berlalu seperti tetesan air yang mengikis sebuah batu, dan aku menikmati setiap detiknya. Sementara aku tidak bisa berhenti menatapnya. Keira sesekali melirik sambil memberikan senyuman, dan senyuman itu bagai candu bagiku.


Aku terus ingin melihatnya dan terus melihatnya. Warna kemerahan pun telah menguasai langit, kulihat jam pun menunjukkan pukul 5 sore. Dan kita masih disibukan oleh sebuah romansa, yang kuharap romansa itu tidak berujung.


Keira adalah wanita pertama di hatiku, meskipun terlalu dini untuk menyimpulkannya, namun aku harap ia akan menjadi wanita terakhir di hidupku. Keira tiba-tiba berhenti menatap buku dan menutupnya seraya menatapku.

__ADS_1


"Jangan di liatin terus ah, berasa kaya lagi ulangan tahu.” Pinta Keira.


Aku hanya tersenyum setelah mendengar permintaanya, aku pun sudah mencobanya namun tidak bisa. Mataku terus menatap dan kembali menatapnya. Seorang pemimpin spiritual dan politikus India pernah berkata, where there is love there is life. Dan aku setuju akan kata-kata itu, dimana ada cinta, disana anda bisa hidup.


"Emang lagi ulangan kan?” Jawabku.


Keira tampak binggung akan kata-kataku, namun tak lama senyumnya larut di wajahnya. Lalu menyelaraskan tatapannya. Walau aku tidak terbiasa akan hal itu, aku sangat menikmatinya.


"Emang iya, pelajaran apa?” Tanya Keira sambil tersenyum.


"Cinta.” Jawabku.


Jawabanku membuat senyum di wajah Keira, terpana aku akan kecantikan dirinya. Aku lantas mengeluarkan hape yang ada di saku celanaku dan memotret Keira. Dan saat melihat hasilnya, senyum ini makin hingar di wajahku. Namun saat aku kembali menatap Keira, aku tertegun karena ia menatapku dengan wajah sedikit marah.


"Kamu ngapain?” Tanya Keira.


"Foto.” Jawabku.


"Gak mau.” Jawabku sambil terus memandangi foto hasil jepretan ku tadi.


Setelah mendengar penolakan ku, Keira hanya terdiam dengan raut wajah cemberut. Aku pun hanya menatapnya, dan aku sekali terpana olehnya. Walaupun ia sedang cemberut, Keira tetap terlihat cantik. Aku pun kembali mengarah ponselku kearahnya dan kembali memotretnya.


Mengetahui hal itu, Keira terlihat sangat marah. Dan saat aku melihat hasil jepretan ku tadi, tanpa aba-aba Keira berusaha meraih ponsel yang sedang aku pegang. Dan dengan refleks cepat aku menjauhkan hapeku dari jangkauan tangannya, namun Keira tidak menyerah dan terus mendesak untuk mengambil ponsel yang ada di tanganku.


Setelah berjibaku beberapa lama, Keira pun menyerah karena ia tak kunjung dapat meraihnya. Aku pun hanya tersenyum puas menggodanya, namun disisi lain Keira tiba-tiba memasukan bukunya kedalam tas. Dengan wajah marah, ia tergesa-gesa memasukkan buku dan alat tulisnya kedalam tasnya. Melihat hal itu aku pun menyerah untuk menggodanya, dan menatapnya seraya membuat gesture bersalah.


"Kamu marah ya?” Tanyaku.


Keira tidak menghiraukannya dan terus memasukan buku dan alat tulis kedalam tas miliknya. Melihat rujukannya aku hanya tersenyum, karena ia terlihat sangat imut. Aku pun meraih tangannya seraya kembali membuat gesture bersalah.


"Cantik kok fotonya.” Kataku kepada Keira.

__ADS_1


"Serius cantik?” Tanya Keira.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, dan tak lama raut cemberutnya memudar. Keira mendekati diriku dan melongok ponsel yang sedang aku pegang. Aku pun hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.


"Coba lihat, tuh kan gendut.” Kata Keira.”


Raut wajah Keira pun kembali berubah, dan ia kembali merajuk kepadaku. Aku pun hanya tersenyum, karena dia sangat lucu dan aku menyukai hal itu. Aku pun mendekat kearahnya.


"Foto yuk.” Pintaku.


Keira pun hanya terdiam dan tak lama melihat kerah ku, dan ia tersenyum. Aku pun mengarah ponselku untuk berfoto Selfi berdua dengannya, dan kulihat Keira lantas sibuk mengatur rambutnya untuk dapat terlihat cantik di foto.


Butuh waktu yang lama, untuk membuatnya siap. Aku pun mengambil foto itu, dan kita pun melihat hasil foto tersebut. Keira tampak cantik di foto ini, sementara wajahku berantakan karena penuh luka. Keira pun lantas menatapku dan memegang wajahku yang penuh luka, raut wajahnya pun tampak khawatir..


“Aku gak apa-apa.” Jawabku.


“Nanti kita foto lagi ya, kalo lu kamu udah sembuh.” Pinta Keira.


Waktu seakan berjalan cepat jika bersamanya,


dan aku hanya bisa mengutuk langit sore yang selalu datang tepat waktu. Aku sungguh ingin menahannya lebih lama bersamaku. Serakah, dia terus membuatku bertindak serakah. Aku mengerti, jarak memang kadang memberikan kita alasan untuk mencintai lebih banyak.Tapi


aku sungguh tidak percaya diri, bahwa aku


bisa melewatinya. Dan menunggu datang


nya hari esok untuk kembali bersamanya.


Bertemu dengannya adalah sebuah anugerah terbesar di hidupku. Dan untuk pertama kali dalam hidupku, aku tidak harus benar-benar berusaha untuk bahagia. Karena ketika aku bersamanya, hal itu terjadi begitu saja. Dan


aku berjanji akan selalu menjaganya.

__ADS_1


__ADS_2