WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 25) MARI BICARA TENTANG CINTA


__ADS_3

MARI BICARA TENTANG CINTA


Malam ini, aku berfikir banyak. Menyibukkan diri dalam segala rencana. Sebuah rencana untuk memikat hati wanita yang aku suka. Namun jujur, aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Apakah dengan bunga, coklat atau hal-hal indah lainnya. Dan semakin aku memikirkannya, sedikit demi sedikit harapan


ku mulai terkikis. Karena aku sungguh awam akan hal ini.


Jika aku pikir kembali, bagaimana aku bisa meluluhkan hati Keira dan membuatnya hanya melihat kearah ku dalam waktu seminggu. Sungguh bodoh, karena itu aku mengutuk diriku. Di tengah pikiranku, terbesit ingatan tentang masa depan Keira yang aku lihat.


Dan aku berfikir, dapatkah aku menangani sendu itu dan merubahnya.


Karena itu aku harus menguatkan diriku, dan aku bertekad untuk merubah masa depannya. Dan ku tutup malam ku, dengan senyuman Keira yang tersirat di ingatan.


Pagi sudah hampir habis dan aku masih di sibuk kan merias diri di depan cermin. Aku terus menyisir rambutku dan terus menatanya, kembali menyisir rambutku dan kembali menatanya, dan entah berapa kali, aku sudah melakukanya. Aku ingin menjadi serakah dan aku ingin Keira menatapku dan hanya menatapku.


Sambil merias diri, aku terus mencari kalimat yang baik untuk menyapanya, dan melatihnya di depan cermin. Menyusun kosakata yang pas dan baik, aku juga melatih ekspresi diriku saat melafalkannya. Dan aku sadar, selama ini aku tidak pernah menyapanya dengan baik, dan aku menyesalinya. Dan setelah menemukan kata-kata yang pas untuk menyapanya, aku berhenti menatap cermin dan beranjak menuju sekolah.

__ADS_1


Karena aku tahu, bahwa aku tidak akan pernah merasa puas. Ketika kita berencana, di tempat lain langit tertawa. Dan aku menyerah untuk berpenampilan baik, pagi ku sia-sia. Berdesak-desakan dengan penumpang lain, keringat pun sudah membanjiri tubuh ini.


Dan entah model apa rambutku sekarang, seharusnya aku mengiyakan penawaran Paman untuk membelikan sepeda motor sebagai alat transportasi ke sekolah. Dan jika aku berfikir kembali, hampir semua siswa di sekolahku pun menaiki kendaraan pribadi mereka untuk ke sekolah.


Mood ku berantakan dan bus ini bergerak layaknya seekor siput, memikirkan pagi ini rasanya sungguh menyebalkan. Dan setelah berjibaku dengan penumpang lain, dan jalanan Ibukota. Aku pun sampai di sekolahku, dan aku sudah merasa lelah.


Dan entah seperti apa penampilanku sekarang, aku tidak peduli lagi.


Saat aku memasuki kelas, seperti biasa Keira sudah berada di mejanya dengan buku paket sekolah yang selalu menemaninya. Aku lantas memasukan kata-kata yang tadi aku persiapkan di kepala dan bersiap menyapanya.


Aku pun berjalan kearah mejaku dan kearah Keira, disisi lain Keira hanya duduk diam seraya menatap buku yang ada di meja. Aku hanya menatapnya dan berjalan kerahnya, tanpa kusadari dada ini bergetar tak karuan. Mata ini tidak berhenti menatapnya, sementara aku terus mengatur setiap gerakku.


Dan dengan bodohnya, aku hanya duduk diam di sampingnya. Entah kenapa, kata-kata itu tidak ingin keluar dari mulut ini. sungguh bodoh, karena itu aku mengutuk diriku.


Sementara dada ini terus bergetar, dan aku kewalahan olehnya. Keira sepintas menatapku dan kembali menatap buku yang ada di atas meja. Dan keheningan pun mulai mengisi mejaku dan Keira. Rasa canggung ini membunuhku, sementara Keira hanya terus menatap bukunya dan terus begitu.

__ADS_1


Kepalaku beku, bagaimana caranya agar dia menoleh kearah ku dan diam menatap dalam waktu yang lama, sehingga aku dapat menikmati kecantikan parasnya. Aku pun tidak mengira, situasi akan seperti ini. Bisa di bilang, aku datang kearahnya dengan persiapan yang cukup matang.


Aku sudah menyiapkan obrolan, lelucon bahkan rayuan. Tapi aku tidak tahu bagaimana untuk memulainya, karena dia yang pertama dan aku terlalu awam untuk hal ini. Tapi jika aku berfikir kembali, jika aku tidak merubahnya, tidak akan ada yang berubah.


Aku pun memberanikan diriku dan membulatkan tekad ku untuk lebih dekat kearahnya. Aku hanya perlu memulainya, semuanya sudah siap dan kumohon ini akan berhasil.


“Ra.” Kataku.


Mendengar panggilanku, Keira lantas berhenti menatap buku dan menoleh kearah ku. Jantungku makin tak karuan, saat aku melihat dia menatapku, mulutku tidak dapat mendefinisikan segala kemauanku.


Aku hanya terdiam menatapnya dan diam dalam waktu yang lama, dia hanya menatap dengan wajah datar dan tak lama kembali memalingkan wajahnya kearah buku. Begitu bodoh, sehingga aku kembali mengutuk diriku. Karena aku hanya diam, dan tak melakukan apa-apa.


Dan aku menyerah akan niatku, dan tak lama Pak Widi masuk dan membuat hening seisi kelas. Pak Widi adalah guru Biologi di sekolahku, beliau adalah guru termuda di sekolah.


Dia salah satu guru yang popular di sekolahku, selain gaya belajarnya yang unik. Ia juga mempunyai wajah yang rupawan, sehingga ia banyak digilai siswi-siswi di sekolahku.

__ADS_1


Pelajaran Biologi pun dimulai, dan entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Pak Widi bagai sebuah mantra tidur bagiku.


Tapi tidak dengan Keira, dia sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Pak Widi. Dan aku sangat bangga kepadanya, tapi aku sedikit terganggu saat melihat Keira terus tersenyum menatap kearah Pak Widi.


__ADS_2