WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 27) CUKUP DIRIMU


__ADS_3

CUKUP DIRIMU


Tanpa aba-aba, Teddy pun memukulku. Terhuyung aku akan kerasnya pukulannya. Dan karena pukulan itu, aku sadar bahwa aku harus membalasnya. Bukan karena Teddy menyakitiku, tapi karena Keira sedang menatapku.


Dan aku tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Keira, di hadapan gadis yang aku suka. Dan aku pun mengepalkan tanganku dengan keras, seraya berfikir dampak yang akan aku terima saat aku memukul Teddy. Dan membuat siasat yang baik serta logis, jika kasus ini sampai masuk ruang BK.


Namun saat aku menoleh, pukulan kedua sudah aku dapat, dilanjutkan dengan pukulan bertubi-tubi dari tangan Teddy.


**


Saat aku tersadar, aku sudah berada di UKS sekolah ku. Dan saat aku membuka kedua mataku, kulihat Keira menangis di depanku. Aku pun menutup mataku dengan cepat, aku sungguh malu akan diriku. Jika aku pikir kembali, ini pertama kalinya di pukuli sampai aku pingsan.


Keira terus menangis, dan terus menangis. Ini kedua kalinya dia menangis, dan semuanya karena diriku. Aku pun kembali berfikir, apakah akan berubah jika saja aku membalas pukulan Teddy dan menang akan perkelahian itu.


Aku pun menyesalinya, karena aku kembali membuatnya menangis. Dan aku harus menjadi lebih kuat, untuk menjaganya. Karena jika terus seperti ini, bagaimana aku bisa menjaganya. Aku pun memberanikan diri untuk membuka mataku dan menatapnya.


Keira terus menangis dan saat melihatku tangisannya semakin kencang dan itu menyiksaku. Aku pun mengatur gesture ku dan kembali menatapnya.


“Berisik banget sih.” Kataku sambil menatap mata Keira.


Keira hanya menangis tanpa memperdulikan kata-kataku. Aku pun lantas beranjak dari Kasur dan menyeka air mata yang ada di matanya. Dan aku sadar, aku hancur karena air mata itu. Aku pun membulatkan tekad ku, bahwa ini terakhir kalinya aku melihatnya menangis dan aku akan berusaha keras untuk mewujudkannya.


“Jangan nangis, Keira jelek kalo lagi nangis.” Kataku sambil menyeka air matanya.


Keira hanya menatapku, dan aku terkejut saat melihat Keira. Dia sangat cantik bahkan saat ia menangis sekali pun, dan aku makin ingin memilikinya. Ia pun menyeka air matanya, dan menatapku.

__ADS_1


“Kok lu pegang-pegang gua?” Tanya Keira.


Pertanyaan Keira, membuatku terdiam. Sementara detak jantungku menggila, kita lantas terdiam satu sama lain, dan kesunyian pun lantas menggema di ruangan itu.


“Kenapa lu lakuin itu?” Tanya Keira.


Aku hanya terdiam dan tidak mengerti kenapa Keira menanyakan itu, bukanya sudah jelas itu karena aku menyukainya. Apakah dia benar-benar tidak tahu atau dia hanya berpura-pura tidak tahu, aku pun tidak mengetahuinya.


“Lu bisa gak sih, ga usah ikut campur.” Pinta Keira.


Aku hanya tertunduk mendengar permintaanya, jika aku berfikir kembali, bagaimana aku bisa untuk tidak ikut campur. Seorang bajingan menyakiti wanita yang aku suka, bagaimana aku hanya diam saja. Seekor semut pun akan mengigit jika nyawanya atau orang yang ia sukai terancam.


“Lu bodoh atau pura-pura gak tahu?” Tanyaku.


Keira hanya terdiam menatapku, matanya bergetar akan kata-kata itu. Aku tidak bisa menahan keserakahan ku, hari ini cukup menyedihkan, jadi maukah kau bersamaku. Dan membuat perasaan ku sedikit lebih baik, maukah kau melakukanya.


“Boleh gak, aku cium kamu?.” Tanyaku.


Ia terkejut, dan aku sungguh menyukai ekspresi itu. Ia lalu menutup kedua matanya, tersihir aku akan kecantikan dirinya. Aku pun meraih wajah kecilnya dengan kedua tangan ku, dan akhirnya dia menyerah akan tulusnya cintaku. Ruangan ini lantas kehilangan makna, sungguh wanita jahat. Ia mencuri hatiku, tanpa melakukan hal apapun.


Aku hanya menatapnya, gema harapan pun kian tumbuh. Dan kumohon nestapa pergi,


dan kebahagiaan datang. Dalam hening ini,


ku panjatkan harapan itu. Berlomba aku akan takdirnya, tersapu lah nestapa dari setiap langkahnya.

__ADS_1


Tak lama ia membuka kedua matanya, dan menatap ku canggung. Mata kita bertemu,


aku lantas tersenyum, begitu juga dirinya. Bertemu dengannya, adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku. Dan aku kembali menemukan alasan, untuk bertahan di dunia yang menyedihkan ini.


“Masuk yuk.” Pintaku.


Aku raih tangan kecilnya, dan kita beranjak menuju kelas. Berjalan di lorong sekolah seraya mengandeng tangan wanita yang aku suka. Aku sedikit tidak percaya bahwa aku mempunyai kesempatan seperti ini, dan aku sangat menyukainya.


Namun aku terkejut saat Keira tiba-tiba melepaskan tangannya, saat seorang siswi melintas di hadapan kami. Aku sedikit merasa sedih, tapi aku memakluminya. Keira bisa di bilang siswi popular di sekolah, aku yakin dia merasa terbebani dalam hubungan ini. Dan itu semua salahku, dan aku menyesalinya.


Ini semua soal kasta, per kastaan yang sudah menjamur di sekolah kami. Di turunkan oleh para pendahulu, dan di jadikan tradisi di sekolah kami. Bahwa siswa/siswi popular di sekolah harus berpacaran dengan siswa/siswi popular lainya, jika tidak mereka harus kehilangan kepopuleran mereka. Itulah tradisi yang melekat di sekolah kami.


Dan sekarang aku sangat memahami perasaan Arum, tapi kenapa ini sangat menyakitkan. Fakta bahwa aku akan menghancurkannya, aku memang bajingan egois yang hanya peduli akan dirinya sendiri, dan hanya peduli akan perasaanya sendiri.


Dan kulihat Keira hanya menatapku, dan tatapan itu menyakitiku. Kata yang menggambarkan tatapannya kala itu adalah bahwa ia merasa tidak enak kepadaku, dan aku menyesal karena itu. Aku tidak bisa menjadi seseorang yang pantas untuknya, dan sekarang aku tahu bagaimana rasanya panik.


Aku mencoba mengendalikan gesture tubuhku, aku tidak ingin membuatnya makin terbebani. Dan setelah siswi itu melintas pergi meninggalkan kami, Keira kembali meraih tanganku. Kita pun kembali menuju kelas, namun saat kita masuk ke kelas.


Aku di kejutkan oleh anak-anak bergerumul di dalam kelas, mereka hanya terdiam menatap kami. Melihat hal itu, aku lantas melepaskan tanganku. Aku sungguh tidak ingin menghancurkan Keira, aku tahu bahwa hubungan ini akan berdampak kepada kasta Keira di sekolah dan pastinya Keira akan sulit untuk menang dalam pemilihan ketua OSIS.


Aku memang sangat menyukainya, namun fakta bahwa aku akan menghancurkannya,


sangat menyakitiku. Sementara itu, Keira


masih terpenjara oleh tatapan anak-anak di dalam kelas. Dan aku sadar bahwa aku harus meluruskannya. Aku pun mencoba menjelaskan kepada semua anak di kelas bahwa yang mereka lihat bukan seperti apa yang ada di bayangan mereka.

__ADS_1


“Ini bukan seperti …” Kataku.


Namun Keira kembali meraih tanganku, dan melihatku lalu tersenyum. Aku hanya menatap tak percaya, aku pun bertanya-tanya apa yang ada di kepalanya. Gadis bodoh yang tidak bisa di tebak, dan hal itu membuatku ingin terus mengenalnya. Dan aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan melepaskan tangganya.


__ADS_2