
LOVE ME, AND HEAL ME
Suara bunyi bel, membuatku beranjak dari kasurku. Dan aku pun melangkah untuk menyambut seseorang di balik bel tersebut. Namun saat pintu rumahku terbuka, tamu itu mengukir senyum di bibir ini. Kulihat Keira tampak cantik dengan memakai dress bewarna merah muda, hanya senyum yang terpancar dari wajahnya.
Aku memang tidak pandai mengekspresikan perasaan aku, jadi aku hanya menariknya masuk ke rumahku dan memeluknya. Hidup ini terasa sempurna, itu semua karenanya. Saat aku bersama Keira, aku berhenti mengutuk duniaku.
Dan dalam diam ku, aku bersyukur karenanya. Bagai sebuah semur, cintaku padanya ku pastikan takkan pernah kering dan aku berjanji untuk memberikan semuanya kepadanya.
"Kamu belum makan kan?” Tanya Keira.
Aku pun melepaskan pelukanku, dan menetapkannya. wanita ini telah mengajariku arti pengorbanan, wanita ini mengajariku arti memberi tanpa pamrih dan wanita ini mengajari arti dari sebuah cinta. Wanita jahat yang mencuri hati ini, wanita jahat yang menyakitiku dengan hanya mengerutkan dahinya.
Mencoba menyangkalnya, namun aku makin mengenal diriku, dan mengenal perasaanku. Keira menatapku dan tak lama ia tersenyum dan aku bersyukur karenanya. Ia lantas membuka tas kecil miliknya dan mengeluarkan kotak makanan siang.
"Makan yuk.” Kata Keira sambil tersenyum.
Aku pun hanya memberikan senyuman kepadanya, walaupun senyum itu tidak akan pernah cukup untuk membalas dirinya. Setiap hal tentang dirinya, sungguh berarti besar untukku. Aku merasa tak pernah memberi, dan hanya terus menerima, dan aku mengutuk diriku. Keira lantas menarik ke meja makan dan menyuruhku duduk di salah satu bangku di meja itu.
__ADS_1
Dengan senyuman di bibirnya, Keira lantas menyiapkan piring dan sendok untukku. Dan menaruh isi kotak yang ia bawa di atas piring dan menyajikannya kepadaku.
Terlihat satu piring nasi goreng ada di depanku, dan kulihat Keira pun menatapku dengan antusias. Melihat itu, aku pun hanya tersenyum, dan mulai menyantap nasi goreng itu. Namun rasa dari nasi goreng itu membuatku tersentak, karena aku tidak bisa menemukan rasa lain selain rasa asin.
Refleks ku ingin mengeluarkan nasi itu di mulut, namun gesture ini mengkhianati pikiranku.
"Gimana rasanya... enak ga?” Tanya Keira.
Aku hanya tersenyum, dan melanjutkan makan ku. Aku tidak ingin membuatnya kecewa, walau aku sudah kewalahan akan rasa dari makanan ini. Nasi goreng sangat asin, namun melihat ia sudah berusaha sangat keras untuk membuat nasi goreng ini. Membuatku enggan membuatnya kecewa, dan terus melahap nasi butir demi butir nasi goreng ini.
Dan jika kamu mencari seseorang yang dapat mengubah dirimu dan hidupmu. Maka lihatlah sebuah cermin, dan kamu akan mendapatkan jawabannya. Tidak ada kata terlambat, karena setiap hari adalah sebuah kesempatan kedua. Jadi bangun dari mimpi buruk itu, dan bahagia.
Hidup ini sebenarnya sangat sederhana, jadi jangan membuatnya menjadi rumit. Jangan habiskan waktumu untuk mengubah sebuah cairan tinta, menjadi sebuah air putih yang dapat kamu minum. Kamu akan menjadi gila, karenanya. Biarkan semua rasa sakit yang kalian derita di masa lalu, menjadi penyebab kekuatan kalian di hari ini.
Setelah mengabiskan makananku, kita hanya saling menatap satu sama lain di ruang tamu. Aku memang sedikit menyesal, karena Penglihatan ku akan masa depan, aku jarang mengajaknya ke banyak tempat indah.
Bisa dibilang tiga bulan bersama, kita hanya mengabiskan waktu kita di tiga tempat, tempat itu adalah sekolah, bus dan rumahku. Aku sangat benci keramaian, karena aku takut akan melihat masa depan orang lain. Melihat masa depan milik orang lain, sangat lah menjengkelkan.
__ADS_1
Dan membuatku selalu mengutuk diriku, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat orang lain akan celaka, dan hanya diam melihat hal tersebut terjadi, Hal itu, sungguh menyiksa diriku.
Aku menyesal karena tidak bisa memberikan banyak hal untuknya, dan itu bukanlah sebuah hal yang berat. Mengunjungi bioskop, mengunjugi tempat-tempat yang indah, atau sekedar makan di restoran bersama pun, aku belum bisa memberikannya.
Ketidakmampuanku itu, membuatku mengutuk diriku. Walau hampir tiga bulan ini, aku belum melihatnya. Namun aku masih merasa takut, kadang juga aku masih takut untuk menatap mata Keira. Aku takut nestapa itu, masih melekat di takdirnya. Aku sungguh lelah akan ketidakmampuanku, namun disisi lain, aku juga tidak ingin kehilangannya.
Bajingan egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri, sementara wanita bodoh ini, masih tersenyum dan terus tersenyum ke arahku.
“Maafin aku ya?” Kataku.
Raut wajah Keira lantas berubah, dan menyelaraskan tatapannya. Ia begitu cantik, namun kenapa ia memiliki takdir itu. dunia ini begitu misterius, dan aku membencinya karena membuatmu seperti ini.
“Untuk apa?” Tanya Keira.
“Untuk segalanya.” Jawabku.
Lega telah jujur akan perasaanku, walaupun aku tahu, itu tidak mengubah apapun. Senyummu, membuatku merasa aman. Namun entah kenapa, aku masih merasa cemas. Apakah akan menjadi happy ending, di akhir cerita. Aku tidak mengetahuinya, dan semoga hanya senyumannya lah yang mengisi di akhir cerita.
__ADS_1