
KEHIDUPAN HAMPA
Setelah malam itu, aku kembali menjalani kehidupanku yang hampa. Melakukan segala aktivitas yang sama setiap harinya, tanpa senyum di wajah ini. Namun tidak sedikit pun aku tidak menyesalinya, karena ini semua aku lakukan, untuk membuatnya terhindar dari takdir itu.
Aku pun kembali menyetel ulang kehidupanku, dan kali ini sungguh sederhana. Lulus sekolah, kemudian kuliah, lalu bekerja dan mati saat tua. Cinta, Ehmm rasanya sulit untuk memulainya kembali, jadi aku membuang cinta dalam agenda hidupku.
Tanpa sadar, waktu bergulir cepat. Sudah hampir lima bulan setelah malam perpisahan itu. Kadang aku pun masih memikirkanya, dan penasaran akan kabarnya. Namun aku segera membuang jauh perasaan itu, karena mungkin dia juga enggan untuk melihatku lagi. Walau seperti itu, Keira terus ikut andil dalam agenda masa depanku.
__ADS_1
Setelah melihat masa depan yang penuh nestapa itu, aku enggan untuk menjalani kehidupan yang sama seperti masa depan yang aku lihat. Dan keputusanku pun lantas melukai Paman, ia sempat marah saat aku mengatakan bahwa aku tidak ingin menjadi penerusnya di perusahan.
Aku beralasan bahwa berkerja di perusahan sangat tidak cocok untukku. Setelah aku mengatakan itu, Paman pun enggan untuk menatapku. Selama satu bulan ia mendiamkanku, dan merajuk akan keputusan yang aku buat. Namun setelah mencoba menyakinkanya berpuluh-puluh kali, aku akhirnya berhasil menyakinkanya. Setelah ia pensiun nanti, Paman berniat menggunakan manajemen professional untuk menangani perusahaan.
Setelah keputusan itu, aku pun mencari mimpi yang cocok denganku. Namun itu tidak mudah, karena sampai sekarang aku masih belum menemukanya.
Pagi disekolah, hari ini aku disibukan oleh selembaran yang di berikan sekolah. Sebuah folmulir untuk pendaftaran perguruan tinggi, aku hanya menatap kertas itu dengan penuh keraguan. Karena aku belum menemukan mimpiku. Saat aku menatap selembaran itu, sebuah ingatan masa lalu menghampiri diriku.
__ADS_1
Dengan kertas yang sama, aku menyakiti Keira. Dimana aku mencegah dirinya mengejar mimpinya, dan mengancamnya dengan kata putus. Jika ia tidak menuruti keinginanku. Dia banyak menangis hari itu dan dan aku menyesali segala kekejianku di ingatan kala itu.
Aku pun bertanya-tanya, apakah sekarang dia masih mempunyai mimpi yang sama.
Aku kadang merindukanya, dan aku sadar bahwa aku masih berada ditempat yang sama. Aku masih tidak mengetahui bagaimana cara menghilangkan perasaan ini, karena itu aku banyak membaca sebuah buku. Namun aku sangat kesal, karena tidak ada satu buku pun yang membahasnya dan menunjukan bagaimana cara untuk menghilangkan perasaan ini.
Aku hanya menutup selembaran itu, seraya mengubur ingatan itu dari kepala. Selepas pulang sekolah, anak-anak kelas pun berhamburan keluar kelas. Begitu juga aku, aku pun melangkahkan kakiku untuk pulang. Namun saat aku berjalan ke keluar sekolah, aku melihat seorang familiar di depan sekolahku. Tidak jelas, karena aku masih memakai kaca mata minus.
__ADS_1
Gadis itu berdiri di depan gerbang sekolahku, Saat aku mengtahui gadis itu memakai seragam sekolah lamaku, senyum ini hilang. Namun saat aku melepas kaca mata minusku dan menatapnya, aku sedikit bernafas lega, karena orang yang aku lihat bukan orang yang ada di pikiranku. Gadis yang menungguku adalah Frisca, gadis yang sama sepertiku, bisa melihat masa depan. Dan karenanya, aku menyakiti hati Keira.