
NAMA WANITA ITU ADALAH KEIRA
Bel pelajaran usai, menyadarkan ku dari lamunan. Dan dari dalam kelas, Pak Amir pun keluar dan menatapku yang masih mematung di depan kelas. Dengan raut wajah tegasnya, ia mengatakan kepadaku untuk tidak mengulanginya lagi.
Hanya senyuman dan anggukan kepala kecil yang bisa kuberikan kepada Pak Amir, semua itu kulakukan untuk meredakan amarahnya. Aku pun masuk kedalam kelas, karena pelajaran berikutnya akan segera dimulai.
Senyuman licik dari Keira menyambut ku, saat aku masuk ke dalam kelas. Walaupun aku sangat kesal kepadanya, tapi aku menahannya. Karena aku sungguh tidak mau memperpanjang masalah. Hidup ini sangat sederhana, buat apa membuatnya menjadi rumit. Karena sekali lagi, aku hanya ingin hidup damai di sekolah ini.
Setelah aku duduk di tempat duduk ku, keheningan pun lantas mengisi. Kita berdua terdiam, dan aku sungguh tidak nyaman akan situasi ini. Mungkin ini pertama kalinya aku memiliki perasaan ini, rasa bersalah, canggung atau apalah kata yang tepat untuk mewakilkan perasaanku pada saat ini. Aku sungguh tidak bisa mendefinisikannya, tapi yang aku tahu, ini sangat mengganggu diriku.
Aku pun berniat untuk menghentikan situasi ini, permintaan maaf pun mengisi kepalaku. Namun saat aku ingin melakukanya, Ibu Arini masuk dan menggagalkan niatku.
Bu Arini adalah guru Fisika di sekolahku. Dari semua guru yang ada di sekolah, mungkin Ibu Arini adalah guru paling lurus, karena ia hanya fokus kepada pelajaran. Tidak peduli ada yang mendengarkannya atau tidak, ia akan tetap menerangkan pelajarannya yang membosankan.
Dan setelah lima menit pelajaran Ibu Arini dimulai.
Aku mulai merasa bosan, rasanya aku ingin cepat berdamai oleh rasa kantuk ku. Namun aku segera mungkin melenyapkan niat itu, karena aku takut, jika aku tertidur nantinya Keira akan kembali mengadukan ku kepada Ibu Arini.
Sementara itu kulihat Keira masih mencari celah untuk mencelakai ku, tampaknya aku harus sesegera mungkin mengutarakan permintaan maaf ku kepadanya. Dan aku pun sadar bahwa Keira sungguh wanita berbahaya, dan aku ingin segara mungkin memutuskan segala hal yang berhubungan dengannya.
Dan setelah melalui penantian yang sangat panjang, bel istirahat pun berbunyi diikuti Ibu Arini yang keluar dari kelas bersama buku pelajarannya yang membosankan. Disisi lain, anak-anak di kelasku pun langsung berhamburan keluar kelas.
Saat aku ingin merebahkan tubuhku, di samping kulihat Keira masih terduduk di bangkunya seraya merapihkan bukunya. Seketika gerak tubuhku pun berhenti, dan hanya menatapnya.
Karena jujur aku tidak tenang, aku takut jika nanti aku tertidur, dia akan berbuat sesuatu lagi yang merugikan ku. Karena jujur, aku sungguh tidak bisa menebak, apa yang ada di kepalanya.
Setelah selesai merapihkan bukunya, Keira lantas mengambil kotak makan siangnya di dalam tasnya.
Aku hanya diam dan terus menatapnya, gadis menyebalkan, ingin rasanya aku menaruh racun di kotak makan siangnya itu. Dan mungkin rasanya sungguh menyenangkan, jika aku bisa melakukanya.
__ADS_1
Keira pun mulai membuka kotak makanan yang ia bawa, dan aku menyerah akan tidur siang ku hari ini. Karena tampaknya, dia tidak akan pergi dari bangkunya. Dan aku sungguh tidak tahan lagi dengan kondisi ini, teringat peristiwa tadi pagi, saat Keira mengadukan ku kepada Pak Amir.
“Maaf ya, buat yang tadi?” Kataku kepada Keira.
“Yang mana?” Tanya Keira.
“Yang tadi pagi, saat gua dorong lu.” Lanjut ku.
“Oh itu, gua gak marah kok.” Jawabnya.
Kata yang keluar dari mulutnya, sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya. Dan aku sadar, bahwa dia sangat marah kepadaku. Aku memang keterlaluan tadi pagi, namun aku sungguh tidak berniat melakukan itu.
Dan itulah yang membuatku membatasi diri untuk dekat dengan orang-orang atau sekedar mecoba merajut sebuah hubungan. Karena aku takut, nantinya penglihatan ku akan masa depan merusaknya.
“Tapi kenapa sih lu ngelakuin itu?” Tanya Keira.
Pertanyaan Keira membuatku tertegun, aku hanya terdiam dan tidak tahu bagaimana untuk merespon pertanyaannya itu. Apakah dia akan percaya jika aku mengatakannya, bahwa aku bisa melihat masa depan.
“Oh gua tahu ….” Lanjut Keira.
“Lu iri kan sama gua, karena gua pinter dan popular. Sementara lu enggak.” Tuntas Keira.
Aku hanya menatapnya aneh, dan aku pun bertanya-tanya, bagaimana dia bisa mempunyai pikiran dan kepercayaan diri sebesar itu. Teringat cuplikan akan masa depan Keira di ingatan, dan aku sungguh aku merasa kasihan kepadanya.
Membayangkan senyuman dan kepercayaan dirinya akan hilang, membuatku bertanya-tanya, kenapa itu harus terjadi kepadanya. Takdir nestapa itu, dia akan kehilangan anak yang ia kasihi dimasa depan.
“Iya kan?” Tanya Keira.
“Iya, gua iri sama lu.” Jawabku.
__ADS_1
Jawabanku mengukir senyum di wajahnya, dan aku lega melihatnya dan kuharap senyum itu akan tetap menghiasi wajahnya. Walau aku tahu, penglihatan ku tidak akan pernah meleset. Aku pun lantas membuang jauh pikiran itu, dan bersiap mencari posisi yang sempurna untuk tidurku. Namun aku kembali, mengurungkan niat itu.
Dengan senyum di wajahnya, Feri datang ke kelasku dan langsung menghampiri mejaku dan Keira. Dia datang dengan membawa satu kantong penuh batagor dan es jeruk di tangannya.
Feri lantas duduk di depan mejaku dan Keira. Seperti yang pernah aku bilang, Keira adalah siswi popular di sekolah sehingga banyak siswa di sekolahku berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya. Banyak siswa yang sekedar ingin mencari perhatian Keira, bahkan ada yang terang-terangan mendekatinya secara langsung seperti Feri.
Setelah mengobrol sebentar dengan Keira, Feri pergi dan meninggalkan satu kantong penuh batagor dan es jeruk di meja.
“Lu mau?” Tanya Keira menawariku batagor.
“Itu kan dari Feri?” Tanyaku balik.
“Ya terus kenapa, pertanyaan gua, lu mau apa engga?” Tanya Keira kesal.
“Engga.” Jawabku.
Aku pun kembali mencari posisi enak untuk merebahkan tubuhku. Namun sekali lagi, aku harus kembali mengurungkan niatku. Karena beberapa menit berselang, mejaku kembali disibukan oleh siswa yang mencoba mengambil hati Keira.
Dan kali ini, Roy anak 2C. Dengan setelan baju yang dikeluarkan dan kerah baju yang terangkat, Roy datang dengan membawa bola basket kesayangannya. Roy adalah salah satu siswa popular di sekolahku, dan dia adalah pemain basket andalan tim basket sekolahku.
Extrakurikuler basket memang sangat popular di sekolah kami. Karena selain prestasi, visual dari siswa dan siswi yang mengikuti extrakurikuler basket, makin membuat extrakurikuler ini sangat popular di sekolah kami maupun di sekolah lain.
Dan sama seperti Feri, Roy datang dan duduk di bangku depan mejaku dan Keira. Kali ini, aku berpura-pura sibuk menulis sesuatu di buku tulis ku karena aku tidak ingin mengganggu romansa mereka berdua. Dengan tatapan penuh perhatian, Roy menatap Keira.
Dan mata Roy seketika terperanjat saat melihat satu kantong batagor di mejaku dan Keira.
“Ini apa? Batagor? Keira … kamu gak boleh makan ini. Kamu tahu gak berapa banyak kalori dari makanan ini? Dan makanan berminyak itu, gak baik untuk kulit kamu. Aku buang ya?” Tanya Roy.
“Iya,” Jawab Keira sambil tersenyum kepada Roy.
__ADS_1
Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat dan aku dengar. Jika aku pikir kembali, Keira sungguh wanita kejam. Jika Feri melihat peristiwa ini, pasti dia akan sakit hati, karena batagor pemberiannya di buang oleh Keira.
Aku pun mulai bertanya-tanya, apakah karena sifatnya, yang membuat ia mempunyai takdir itu. Dan benar, setelah beberapa hari aku duduk sebangku dengan Keira, aku mulai melihat sisi-sisi dari Keira yang tidak pernah aku lihat selama ini.