WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 29) SAAT IBLIS MEMANGGIL NAMA MU


__ADS_3

SAAT IBLIS MEMANGGIL NAMA MU


Aku pun hanya menatap Keira, dan tak lama raut wajahnya berubah saat dia mengetahui diriku menatapnya. Aku pun menatap bibir merahnya, dan aku dibutakan oleh cinta. Dengan perlahan aku pun mendekatkan diriku kearahnya, disisi lain Keira hanya menatapku. Namun secara tiba-tiba ia menahan badanku dengan tangannya.


Dan menatap kearah tembok depan kelas seraya memberitahuku sesuatu. Aku pun lantas menatap kearah tatapan Keira dan aku melihat sebuah CCTV, aku pun mengurungkan niatku untuk menciumnya.


“Hampir aja.” Kataku bergumam sendiri.


Keira hanya tersenyum, dan tak lama kita berdua tertawa menertawai kecerobohan kita. Sekolahku memang memasang kamera CCTV di setiap kelas.


Tujuannya adalah untuk mengontrol setiap proses belajar mengajar. Jadi walaupun tidak ada guru, mereka selalu dapat memantau dan tahu segala aktivitas murid di kelas. Tak lama Keira pun menatapku, dan aku tidak mengerti arti dari tatapannya itu.


Aku pun hanya membuat gesture tidak mengerti dan kembali menatapnya, Keira kemudian kembali menatap CCTV seraya memberitahuku sesuatu.


“Teddy?” Tanyaku.


Keira hanya menganggukkan kepalanya, kita pun akhirnya tahu bagaimana cara membalas Teddy. Yaitu dengan mencuri data CCTV sekolah dan melaporkanya kepada guru atau mengunggahnya di internet, sehingga dia akan mendapat teguran keras karena melakukan kekerasan di sekolah.


Hidup ini kadang seperti mengupas bawang, saat kalian mencoba mengupas satu persatu bawang tersebut, kadang kalian menangis karenanya. Tersenyum dan menangis, adalah dua hal yang tidak bisa kita hindari di hidup

__ADS_1


ini. Karena hidup ini, bukan sebuah ilmu pasti. Dan jika ini mengenai Teddy, rasanya sangat sulit untuk bisa memanfaatkan perbuatannya. Dan aku rela, mengorbankan seluruh waktu di hidupku untuk menghancurkannya.


Jodi Picoult, seorang penulis novel Amerika Serikat pernah berkata. Saat kamu memulai perjalanan balas dendam, mulailah dengan menggali dua kuburan. Satu untuk musuhmu, dan satu untuk dirimu sendiri. Dan aku rela menanggung beban itu, Karena ia sudah dan telah membuat Keira menangis.


Menjadi sangat di cintai oleh seseorang, akan memberikan anda kekuatan. Sementara jika kalian sangat dalam mencintai seseorang, hal itu akan memberikan anda sebuah keberanian. Dan aku memahami dua hal tersebut, setelah bertemu dengannya.


Kita pun tersenyum merayakan fakta itu, bahwa kita bisa membalas Teddy. Keira pun lantas beranjak dari bangkunya untuk mendapatkan file CCTV itu. Namun senyuman cantiknya masih membekas, dan membuatku menjadi serakah.


Aku pun lantas meraih tangannya, melihat hal itu Keira pun kebingungan. Aku hanya tersenyum kearahnya, dengan membuat gesture tidak mengerti, Keira kembali menatapku. Aku pun lantas memegang tasnya seraya menatapnya.


Keira hanya melihatku dan aku hanya menganggukkan kepalaku seraya tersenyum kearahnya. Keira lantas kembali duduk, dan membuka tasnya dan mengeluarkan semua buku paket miliknya.


Aku hanya tersenyum menatapnya, disisi lain terlihat Keira hanya tersenyum tidak percaya kepadaku. Setelah Keira mengeluarkan semua bukunya, aku lantas mengambil buku itu dan menyusunya di atas meja.


Aku hanya tersenyum menatapnya dan kembali sibuk menyusun buku. Setelah buku tersusun di meja, aku pun hanya menatapnya, Keira hanya terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku pun lantas menarik tangan Keira, tanpa daya Keira pun mengikuti keinginanku dan aku membawanya kearah kolong meja. Setelah berada di kolong meja, kita berdua hanya saling menatap dan kita berdua tertawa menertawai kelancangan dan kebodohan kita berdua.


Di dalam jarak yang sangat dekat, kita pun menatap satu sama lain. Perlahan aku pun menatapnya dan mendekatkan wajahku kearahnya, tanpa daya dan upaya ia hanya memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Namun saat aku mendekat kearahnya, terdengar bunyi perutku, dan bunyi perut itu manarik dan menghancurkan segala romansa yang sudah terbentuk. Dengan terkejut Keira pun lantas membuka matanya dan menatapku, lalu kita tertawa bersama.


Tawa kita makin pecah saat aku dan Keira beranjak dari kolong meja, dan dengan sialnya kepalaku terpentok meja. Sambil menertawai kebodohan ku, kita pun kembali duduk di bangku kita. Melihat buku yang berdiri berjejer di atas meja, dengan kesal aku pun merobohkan buku itu, melihat hal itu Keira pun hanya tertawa.


"Kamu lapar gak?” Tanyaku.


Terlihat Keira hanya terdiam, dan aku mengerti betul maksud dari diamnya itu. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, Keira hanya bisa memakan masakan rumah.


"Kita pulang, makan di rumah masing-masing. Aku tahu kok kamu gak bisa makan masakan luar.” Kataku.


Keira hanya tersenyum setelah mendengar perkataan ku, namun tak lama senyuman itu menghilang dari wajahnya dan kembali menatapku dengan wajah bersalah.


"Kenapa?” Tanyaku kepada Keira.


"Gak apa-apa, aku cuma merasa bersalah aja. Kamu tahu banyak tentang aku, sedangkan aku gak tahu banyak tentang kamu.” Jawab Keira.


"Aku juga gak tahu banyak kok.” Lanjut ku.


“Yaudah mulai sekarang, kita harus saling belajar satu sama lain ya, Aku belajar semua hal tentang kamu, begitu juga sebaliknya. Kamu belajar semua hal tentang aku. Gimana?” Pinta Keira.

__ADS_1


Aku lantas tersenyum, lalu aku meraih tangannya. Dan kita berdua beranjak dari bangku dan keluar kelas. Namun saat sampai di luar kelas, Keira pun lantas menatap Jam dan sesegera mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


“Ini waktu yang tepat, untuk kita balas dendam.” Kata Keira.


__ADS_2