
NO PAIN, NO GAIN
Keira hari ini terus menyiksa ku, dia pun menyuruhku untuk mengerjakan salah satu soal di buku itu, aku pun membaca soal itu dan tertawa karena soal itu menyuruhku untuk menghitung percepatan rata-rata gerak apel yang jatuh tanah. Sungguh tidak penting, namun senyum ini hilang saat Keira menatapku.
Aku pun mencoba untuk menyelesaikan soal itu, namun aku tidak tahu bagaimana mengerjakan soal itu. Hanya menatap dan menatap.
Albert Einstein, seorang fisikawan teoretis asal Jerman pernah berkata. "Semua orang itu jenius. Tapi jika kalian menilai seekor ikan dari cara dia memanjat pohon, ikan itu akan percaya bahwa dirinya bodoh." Aku sangat setuju tentang hal itu. Aku pun tidak mengerti, kenapa aku harus melakukan ini. Menghitung kecepatan buah apel yang jatuh ke tanah.
Jika aku pikir kembali, itu tidak penting dan berguna bagiku. Karena aku tahu, aku akan berkarir di bidang lain. Yaitu mengambil alih perusahaan peninggalan Ayah yang bergerak di industri hiburan.
Sungguh ironi memang, sistem pendidikan kita. Sebuah sistem yang menekankan suatu penyetaraan. Dan membuat stigma bahwa berbeda itu salah dan tidak baik. Bagaimana bisa setiap orang yang berbeda-beda, harus mempunyai value yang sama. Bukankah seorang petani tidak bisa mengubah padi menjadi jagung. Karena padi adalah padi, begitu pula jagung adalah jagung.
Karena hal itu, bisa saja menstimulus siswa untuk kehilangan kepercayaan dirinya. Dan menganggap dirinya bodoh, karena tidak
bisa menguasai mata pelajaran tertentu. Karana bisa jadi, alasan di balik itu bukan karena dia bodoh, tapi itu bukan bidang
atau bakatnya saja. Dan itu terjadi di diriku.
Seharusnya sekolah membimbing anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan, bakat dan segenap potensi anak didiknya untuk keberhasilan hidupnya.
Melihat aku kesulitan mengerjakan soal tersebut. Keira pun mendekatkan dirinya kepadaku, dan menatap soal itu.
“Untuk soal ini, kamu harus pake rumus percepatan rata-rata.” Kata Keira.
Aku hanya berpura-pura mengerti seraya menganggukkan kepalaku dan menatap soal itu lagi dan diam dalam waktu yang lama. Aku sungguh tidak mengerti pelajaran Fisika, dan aku menyerah akan soal yang tidak penting ini. Melihat hal itu, Keira pun mendekatkan dirinya dan mencoba membantuku untuk menyelesaikan soal itu.
__ADS_1
“Kan aku udah bilang, untuk jawab soal ini pakai rumus percepatan rata-rata. Rumus percepatan rata-rata apa?” Tanya Keira.
Aku hanya diam, karena aku tidak tahu rumus percepatan rata-rata itu apa, sementara kulihat Keira masih menatapku dan menunggu jawaban dariku.
“Aku gak tahu.” Jawabku.
Keira pun hanya menghembuskan nafasnya, dan mengatakan kepadaku bahwa rumus percepatan rata-rata itu, perubahan kecepatan di bagi perubahan waktu. Namun setelah mendengar itu, aku hanya diam karena aku tidak mengerti bagaimana mengerjakan soal itu. Melihat hal itu, Keira pun meletakan pulpennya di meja dan menatapku.
“Kalo kamu kaya gini, aku gak jamin nanti kelas 3 kita sekelas.” Kata Keira.
“Kok gitu?” Tanyaku.
“Kerena kamu bakal gak naik kelas Rasya, ulangan sebentar lagi!” Kata Keira dengan wajah serius.
Aku hanya tertunduk lesu, dan sadar betapa bodohnya diriku. Selama ini aku memang tidak pernah belajar dengan serius, karena bagiku sekolah hanya tempat pembakar waktuku.
“Hmmm, nyontek sama Roni.” Jawabku.
Roni adalah teman sebangku, sebelum rotasi tempat duduk di kelas. Aku sudah sebangku dengannya sejak kelas satu, dan selama ini aku pun mencontek darinya.
“Kamu tahu gak? rangking Roni tuh di bawah kamu. Kamu rangking 39 kan? Roni rangking 40.” Kata Keira dengan kesal.
Aku juga tidak habis pikir akan fakta itu, aku selalu mencontek dari Roni namun nilai ku selalu lebih besar darinya. Kadang aku sedikit merasa bersalah karena itu, namun aku juga tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Dan saat aku menatap Keira, ia masih menatapku dengan tatapan yang sama, yaitu tatapan penuh kekesalan.
“Ya ampun Rasya, buat nyari contekan aja kamu salah.” Kata Keira dengan wajah serius.
__ADS_1
Aku hanya tertunduk lesu dan tidak berani menatapnya, aku sedikit tidak mengerti prilakunya hari ini. Ini pertama kalinya ia mempermasalahkan nilai ku.
“Gak bisa kaya gini nih, sini rokok kamu!” Kata Keira meminta rokokku.
Aku pun tidak mengerti maksud dari Keira, kenapa ia meminta rokokku. Aku hanya diam menatapnya, di tengah kebingunganku, Keira terus mendesak dengan tangannya untuk memberikan rokok milik ku kepadanya.
Aku hanya menurutinya dan lantas memberikan rokok tersebut kepadanya setelah mengambilnya di dalam tas. Keira pun lantas memegang rokok tersebut, dan kembali menatapku.
“Dompet!” Kata Keira meminta Dompetku.
Seperti sedang di hipnotis, aku hanya mengiyakan permintaanya. Dan mengambil dompet di saku celanaku dan memberikannya kepadanya. Dengan memegang sebungkus rokok dan dompetku di tangannya, Keira kembali menatapku.
“Dua barang ini disita.” Kata Keira dengan wajah serius.
“Hah, kok gitu?” Tanyaku.
“Mulai sekarang, kamu gak bisa ngerokok atau pun jajan sebelum kamu ngapalin satu rumus dan satu pengertian atau istilah tentang pelajaran.” Jawab Keira.
Keira lantas memasukan rokok dan dompetku kedalam tas miliknya, disisi lain aku hanya binggung menatapnya. Aku tidak mengerti sikapnya hari ini, namun aku sadar bahwa aku akan kesulitan jika tidak ada 2 barang itu di hidupku. Aku pun memutar otakku dan mencari cara untuk membatalkan niatnya.
“Ongkos bus gimana?” Tanyaku.
“Aku kasih, setiap hari untuk pulang balik aja.” Jawab Keira.”
“Kalo aku mau makan dan di tengah malam? tanyaku.”
__ADS_1
“Aku akan bawa bekal buat kamu, dan jika kamu lapar kamu tinggal panaskan aja. Kamu tuh ya, jajan di luar mulu, gak sehat tahu.” Jawab Keira.
Aku hanya terdiam menatap Keira, dan aku sadar bahwa ini adalah awal dari neraka ku. Awalnya aku tidak menganggap niat Keira itu dengan serius. Namun Keira benar-benar melakukan apa yang ia katakan.