WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 21) DI ATAS NORMAL KU


__ADS_3

DI ATAS NORMAL KU


Sekolah pagi ini, aku dikagetkan dengan turunnya sepanduk dan poster milik Teddy, calon ketua OSIS yang juga pesaing Keira di bursa pemilihan ketua OSIS. Tampaknya Keira telah memutuskan, untuk berpacaran dengan Teddy.


Aku pun tidak mempunyai pilihan lain, selain menghargai keputusannya. Aku lantas beranjak menuju kelas, dan setelah berada di depan kelas. Aku melihat sebuah kerumunan siswa yang bergerumul di area mejaku, dan aku melihat Teddy sedang beradu argument dengan Keira.


“Lu takut kalah? sampai lu rebut wakil gua.” Kata Teddy dengan keras.


Keira hanya diam terduduk di bangkunya, dan hanya membaca sebuah buku. Aku hanya terdiam menatap kejadian itu seperti para siswa-siswi lain.


“Eh pelacur! jawab gua, lu ngelakuin apa? Kok Romi tiba-tiba mengundurkan diri dan jadi wakil lu?” Tanya Teddy kepada Keira.


Kata-kata Teddy membuat Keira beranjak dari bangkunya, kata-kata itu memang sudah sangat kelewatan. Aku pun cukup kesal mendengarnya. Dan kulihat raut wajah Keira, benar-benar marah setelah mendengar kata-kata itu.


“Pergi deh! Jangan bikin keributan.” Pinta Keira kepada Teddy.

__ADS_1


“Itu emang tujuan gua, dateng kesini. Lu gak suka, hah?” Tanya Teddy sambil menoyor kepala Keira.


Situasi pun semakin tidak kondusif, disisi lain Keira hanya bisa diam dan menerima segala perlakuan Teddy. Fakta akan ketidakberdayaan Keira pun membuat Teddy semakin menjadi - jadi, dan tanpa henti Teddy terus merundung Keira dengan terus menoyor kepala Keira berulang-ulang kali seraya menyumpah serapah.


Melihat kejadian itu, aku pun panas dan tidak terima. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Keira tidak berdaya. Dia yang tinggi bagaikan langit pun berubah menjadi bunga layu. Teddy memang bukan lah siswa biasa, selain ia menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Teddy adalah anak dari salah satu komisaris sekolah kami, dan bisa dibilang sekolah ini adalah miliknya. Fakta itu membuat anak-anak di sekolah, takut jika harus berurusan dengan Teddy. Mungkin itu juga yang ada di benak Keira.


Melihat hal itu, aku pun merasa bersalah kepada Keira. Jika bukan karena omonganku, Keira tidak akan merebut Romi dan peristiwa ini tidak akan pernah terjadi.


“Bro, jika lu butuh pelampiasan akan kekesalan lu. Gua siap jadi samsak buat lu. Aneh gak sih kalo cowok mukul cewek. Rasanya gak gentleman aja.” Kataku kepada Teddy.


Kata-kataku seketika membuat Teddy berhenti, dan aku bersyukur karena itu. Dia lantas menatapku, dengan tatapan marah. Disisi lain, Keira pun hanya terdiam seraya menatapku.


“Gua duduk disitu, dan tadi malam gua gak tidur. Jadi gua ngantuk. Dan jika lu butuh pelampiasan, gua bisa jadi samsak dan setelah itu lu bisa pergi dan gua bisa tidur di meja gua.” Jawabku.”


Teddy hanya tersenyum kesal, dan provokasi ku berhasil dan aku bersiap menjadi samsak hidup agar ia meninggalkan Keira. Disisi lain Keira terus menatapku, dan hanya sebuah senyuman lah yang bisa kuberikan kepadanya.

__ADS_1


“Lu ngapain sih?” Tanya Keira kepadaku.


“Udah diam aja.” Kataku.


Aku pun mulai bersiap mengambil posisi, namun tinju Teddy sudah mendarat di perutku. Ada dua hal yang tidak aku suka di dunia ini, yang pertama adalah hari minggu dan yang kedua adalah di pukul oleh orang lain.


Kerasnya tinju Teddy membuatku seketika meringkuk kan tubuhku. Aku hanya menahan nafas dan bersiap menerima pukulan selanjutnya. Disisi lain Teddy hanya tersenyum dan kembali mengarahkan tinjunya, kali ini pukulannya mengarah ke wajahku.


Pukulan Teddy kali ini, lebih keras dari pukulan pertama, dan dari senyumannya tampaknya dia sangat menikmati permainan ini. Aku sangat ingin membalasnya, tapi aku menahannya. Karena aku sungguh, bahagia bisa bersekolah di sekolah ini.


Setelah sempat terhuyung karena pukulan Teddy, aku pun kembali mengambil posisi untuk menerima pukulan selanjutnya. Di tengah sadar ku, aku melihat kerumunan siswa, yang tampaknya sangat menikmati pertunjukan ini.


Tapi tidak dengan Keira, ia terlihat sangat cemas melihatku dan aku bersyukur karenanya. Dan aku jadikan rasa cemas itu sebagai bahan bakar untukku menahan pukulan-pukulan dari Teddy. Dan tanpa aba-aba, Teddy kembali mengarahkan tinjunya, dan memaksaku tersungkur karena kerasnya pukulannya.


Dan tak lama, bel pun menyelamatkanku dari tinju Teddy. Bel itu, di iringi raut kekecewaan dari siswa-siswi yang bergerumul, tampaknya mereka sangat menikmati pertunjukan ini. Dan Teddy pergi setelah mengatakan sepatah kata, yang semakin membuatku ingin membunuhnya.

__ADS_1


“Tadi menyenangkan, kayaknya kita akan sering bertemu, see you tomorrow.” Kata Teddy membisikan kata di kupingku.


Teddy dan kerumunan siswa lainnya pun meninggalkan area mejaku, dan hanya tersisa tatapan cemas Keira. Tatapan itu, sungguh membuatku tidak nyaman. Keira lantas membantuku bangun dan membawaku ke ruang UKS sekolah.


__ADS_2