WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 62) DIA MASIH DI TEMPAT YANG SAMA


__ADS_3

DIA MASIH DI TEMPAT YANG SAMA


Dia tidak akan layu lagi, karena itu senyum ini lahir. Akhirnya dia punya sebuah kebahagian, aku bersyukur karena ia memilikinya. Aku pun sadar, bukan dia biang masalahnya akan takdir nestapa itu. Namun karena aku, nestapa itu terbentuk. Jadi maafkan aku, karena aku hampir menyeret mu masuk kedalam pusaran nestapa itu. Dan membuatmu terkurung bersama rasa sakit. Jadi bahagia lah sekarang, aku akan melepas mu. Kata ini tulus aku ucapkan, karena aku sangat mencintaimu.


**


Saat aku tersadar, aku hanya melihat wajah cantiknya. Dan aku hampir kehilangan akal, namun aku berhenti, niat itu aku buang jauh. Aku hanya melepaskan tanganku, dari pundaknya. Dan si bodoh itu masih menatapku bersama kebingungannya, aku hanya memberikan senyum kepadanya. Sebuah senyum berisi rasa terimakasih ku kepadanya, karena dia berhasil menjauh dari takdir itu.


“Rasya.” Kata Keira.


“Iya.” Kataku.


“Lima bulan ini, aku berfikir dan mencari cara bagaimana untuk menghentikan takdir masa depan itu.” Kata Keira.


Aku pun hanya tersenyum, mendengar perkataan Keira. Dan aku tidak sabar untuk memberitahunya, bahwa takdirnya sudah berubah. Aku sudah membayangkan, bagaimana ekspresinya saat mendengar itu, dia pasti sangat senang, saat mendengarnya.

__ADS_1


“Aku gak akan jadi pengacara.” Kata Keira.


Aku terkejut akan kata-kata itu, kenapa dia berfikir seperti itu. Dia sangat bodoh, dan hal itu membuatku kesal. Aku pun segera menceritakan apa yang baru aku lihat kepadanya, sehingga ia dapat membuang pikiran-pikiran bodoh itu.


“Takdir kamu ….” Kataku.


“Aku gak bisa hidup tanpa kamu.” Kata Keira memotong perkataan ku.


Aku hanya menatapnya, dan sangat tidak mengerti isi pikirannya. Mungkin dia pikir, dengan hanya tidak menjadi pengacara akan mengehentikan nestapa itu. Tapi aku sudah mencobanya, dan tidak ada yang berubah. Dan jika berjalan seperti itu, kau melepas mimpi sebagai pengacara dan hidup bersamaku. Tuhan mungkin akan mencari cara lain untuk menyakiti kita berdua, karena aku sangat mengenalnya.


“Ada kamu di takdir itu?” Tanya Keira.


Aku hanya terdiam akan pertanyaan itu, fakta itu juga menyakitiku karena aku tidak ada disana. Tapi lebih baik, karena Keira bahagia disana. Karena buat apa aku disana, tapi hanya untuk membuatnya terluka.


“Gak ada kan?” Tanya Keira.

__ADS_1


Keira lantas memegang tanganku, dan menatapku dengan senyumannya.


“Kita bisa melewati ini bersama, buat apa aku bahagia. tanpa ada kamu disana.” Kata Keira.


Hanya menatap, dan terus tersiksa karena pikiran-pikiran bodohnya. Dia memperumit masalah, yang bahkan sudah terselesaikan. Aku pun bertanya-tanya, apa yang ia lihat dari diriku. Kenapa ia masih menatapku, meskipun ia tahu takdir mengerikan sudah melekat akan kita berdua.


“Aku gak apa-apa, punya takdir itu. Asal aku bisa sama kamu.” Lanjutnya.


Karena kesal ku, aku hanya menghempaskan tangannya. Dia menatapku, kemudian menangis. Sekali lagi, aku membuatnya menangis. Kenapa ia terus menangis saat bersamaku, aku pun tidak mengerti itu semua.


Aku bagaikan duri di hidupnya, fakta itu pun membuatku mengutuk diriku. Keira kemudian kembali mencoba meraih tanganku, namun sekali lagi, aku menghempaskan tangannya. Karena aku benar-benar membencinya hari ini, dia begitu bodoh karena mengorbankan kebahagian abadi demi pria yang hanya bisa menyulam tangis di hidupnya.


“Engga, lebih baik aku mati. Dari pada aku harus ngeliat kamu punya takdir itu.” Tuntas ku.


Aku pun lantas pergi meninggalkan Keira, aku menyesal atas kedatanganku hari ini. karena sekali lagi aku membuatnya kembali menangis, dan membuatnya kembali mempunyai perasaan itu.

__ADS_1


__ADS_2