WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 69) CERITA DI BALIK NESTAPA ITU


__ADS_3

CERITA DI BALIK NESTAPA ITU


Aku akhirnya paham akan potongan masa depannya yang aku lihat, potongan dimana aku melamar Frisca di sebuah cafe. Dan aku juga mengerti, alasan dia menolak lamaran itu, karena dia tahu akan takdir mengerikan itu.


“Engga, karena keegoisan kita berdua, yang ingin membuat Pasha lahir ke dunia, akhirnya kita menikah.” Tuntas Frisca.


Frisca terus bercerita, dan terus membagi kesedihan itu kepadaku. Terbangunlah sebuah cerita cinta yang sayu, diantara kita berdua. Sepanjang cerita, kita berdua terluka. Dan aku sungguh menyesal kepadanya, karena diriku, dia merasakan kesedihan itu.


“Selepas kita menikah, Pasha hadir di tengah kita berdua. Dan tepat lima tahun, seperti penglihatan ku. Sebuah kecelakaan mobil merenggut kamu di hidup kita.” Lanjut Frisca.


Jadi seperti itulah akhir cerita sayu, di takdir masa depan antara aku dan Frisca. Aku akan mati, saat Pasha hadir di tengah aku dan Frisca. Namun jika aku di beri kesempatan yang sama, aku akan tetap mengambil keputusan itu. Karena aku tidak ingin menjadi penghalang untuk Pasha, ia berhak untuk hidup dan mengukir kebahagiannya sendiri.


“Setelah kejadian itu …” Lanjut Frisca.

__ADS_1


Frisca tiba-tiba terdiam, dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Wajahnya mulai dihiasi air mata, ujung kalimat itu tampaknya menyakiti dirinya. Aku lantas memegang tangannya yang tak bertenaga itu, hari ini dia banyak menangis dan aku menyesal karenanya. Dan saat aku menatap matanya, aku kembali melihat potongan kisah akan takdir di masa depannya.


**


Siang, disebuah rumah. Terlihat Frisca dengan mata sayu, sibuk membuat segelas susu untuk Pasha di area dapur rumah. Namun siang itu dia tampak aneh, setelah ia menaruh bubuk susu di dalam gelas, Frisca tampak menambahkan sebuah cairan lain dari sebuah botol kecil yang ia sembunyikan di saku celananya.


Melihat hal itu, aku tahu sesuatu yang tidak beres akan terjadi. Dan aku tidak tahu, cairan apa yang ia tambahkan di gelas susu Pasha. Karena itu, aku sungguh khawatir saat menatapnya.


Dengan tangan gemetar, Frisca membawa segelas susu itu kepada Pasha yang terduduk di salah satu meja makan. Tanpa tahu apapun, Pasha pun menyambut susu yang di bawa oleh Frisca dengan senyum bahagianya. Frisca lantas duduk di salah satu bangku lainya, walau sempat ragu-ragu setelah menatap senyum Pasha.


Dari kejauhan, aku berteriak kearah Frisca berharap dia mendengarkan ku dan menghentikan niat gilanya itu. Namun dia tidak mendengarkan ku, dan hanya terus saja menangis. Pasha yang tidak tahu apa-apa, hanya memegang segelas susu itu dengan senyumannya.


Aku hancur menatap kejadian itu.

__ADS_1


Sementara Frisca masih terdiam seraya menangis sambil menatap Pasha bersama susu itu, dan aku sangat membenci tindakan bodohnya. Dan saat Pasha ingin meminum susu itu, dengan cepat Frisca merampas gelas itu dan melemparnya.


Hanya menatap wajah Pasha yang terkejut, Frisca kemudian memeluk tubuh Pasha yang masih terguncang akan peristiwa itu. Dengan tangisan di wajahnya, ia terus memeluk dan mengeratkan pelukannya. Dalam diam, aku menatap kejadian itu, aku bersyukur lalu menyesal.


**


Saat tersadar, aku masih melihat tangisannya. Karena diriku, dia menangis. Karena diriku dia memiliki takdir itu. Nestapa ini, terus berjalan dan menyakiti banyak orang. Dan dia tidak beruntung, karena terseret takdir itu karena diriku. Aku hanya menatapnya, dengan rasa bersalah yang memenuhi diri.


Aku lantas memeluknya, dan berharap pelukan itu bisa sedikit menghilangkan rasa sakit yang hinggap di hatinya. Dia terus menangis di tengah pelukanku, melihat itu aku hanya mengeratkan pelukanku.


Kata maaf mungkin tidak ada artinya, kata maaf mungkin tidak mampu mengusir sakit yang tinggal di hatinya. Kata maaf, mungkin tidak mampu menyeka air matanya, dan kata maaf hanya terus membuatnya takdir itu terus melekat.


Jadi aku berjanji untuk menjauhkan takdir itu darinya, bagaimana pun caranya. Aku lantas melepaskan pelukanku, dan menatapnya. Dia bagai bunga yang layu, dan aku menyesal melihat itu. Karena diriku, ia terlihat seperti itu. Aku mengambil banyak dari hidupnya, dan aku tidak ingin itu terus terjadi.

__ADS_1


“Jangan khawatir, aku akan mengubah takdir itu.” Kataku sambil menyeka air matanya.


Dia hanya menatapku, dan hanya senyuman yang bisa kuberikan kepadanya. Sekarang aku memang tidak mempunyai rencana apapun, namun aku berjanji bahwa dia tidak akan melihat takdir itu lagi di hidupnya, apapun caranya.


__ADS_2