
KISS AND MAKE UP
Waktu istirahat datang, anak-anak kelas pun berhamburan keluar kelas. Sementara aku dan Keira hanya terduduk terdiam di tempat duduk kami, setelah kejadian tadi, kita belum berbicara satu sama lain. keheningan dan kecanggungan pun duduk bersama kami.
Dia menyakitiku, hanya dengan menatapku. Kenapa hubungan kita menjadi seperti ini, aku lelah oleh kenyataan bahwa aku kembali menyakitinya. Aku bagai kegelapan yang mengusir senyum di wajahnya, hari ini ia mengalami hari yang buruk dan itu semua karena diriku.
Aku hanya menatapnya, melihat hal itu ia hanya tersenyum membalas tatapanku. Dan aku membenci dirinya, karena ia terus tersenyum kepadaku walau aku terus menyakitinya. Cerita lama terus berulang, cerita yang sama, cerita dimana aku menyakitimu.
Keira sangat lihai menyiksaku, ia mengeluarkan dua kotak nasi yang ia bawa seraya tersenyum. Keira terus membuatku menjadi penjahat, senyum tulus ini pun kehilangan makna. Jika ia tidak tersenyum dan lantang mengutukku perbuatan diriku, apakah mungkin perasaanku akan lebih baik.
Sementara aku disibukan oleh pikiran-pikiran konyol, gadis bodoh ini terus menyiksaku dengan senyumannya. Akan semua harapan besar dan kecilku, ada namanya tertulis disana. Namun aku terus menyakitinya, dan aku menyesal karena hal itu.
“Kamu kecewa ya?” Tanyaku.
__ADS_1
“Kita makan yuk?” Kata Keira mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Aku hanya menghembuskan nafasku, seraya menatapnya. Walupun melihatnya kecewa, namun aku tidak menyesal akan keputusanku. Akan lebih baik jika ia membenciku dari pada ia harus memiliki takdir itu. Kita pun menyantap kotak makanan kita, dengan keheningan yang mengisi meja kita.
Penglihatan ini mengusir senyumnya dari hidupku, walau aku tidak menyukai hal itu. Namun aku bertekad, akan menyaksikan semua masa depannya, sambil mencari celah dan berusaha merubahnya.
Tanpa hujan, tidak akan ada sebuah pelangi. Dan aku berjanji akan memberikan beragam warna pelangi di hidupnya, yang akan membuat senyum di wajahnya. Membuat skenario yang indah untuknya, dimana aku dan Keira ada di cerita tersebut. Dan sebuah kebahagian lah yang mengakhiri cerita tersebut berakhir.
Selepas jam pulang sekolah, mulut kita masih terkunci. Keheningan ini menyiksaku, namun aku masih tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Kita hanya terduduk di meja kita, berpura-pura sibuk satu sama lain. Dan entah sudah berapa waktu yang kita habiskan, dengan hanya memasukan buku dan alat tulis ku ke dalam tas.
Berputar-putar beragam siasat di otakku, untuk memecah keheningan ini. Aku sangat menyesal dan mengutuk diriku atas kejadian hari ini, karena menaruh luka di hatinya.
“Hari ini…?” Kataku.
__ADS_1
“Maaf … aku udah ada janji sama mamah.” Kata Keira sambil memotong perkataan ku.
Aku hanya terdiam, dan mengubur niat ini. Keheningan pun bersua di tempat ini, hanya saling menatap seraya menerka-nerka isi kepala masing-masing. Aku pun mengamini niatnya, ia butuh waktu sendiri untuk berdamai dengan rasa kesalnya terhadapku. Keira lantas beranjak meninggalkanku di bangku ku, dan aku masih melihat rasa sedihnya dengan sikapnya. Dan ini pertama kalinya kita melewatkan waktu pulang sekolah bersama.
Kita memang tidak bisa menebak kapan dan dimana suatu kebahagiaan akan datang di hidup kita. Namun uniknya, kita bisa tahu dan merasakan bagaimana suatu kesedihan akan segera datang di hidup kita. Dari semua hal yang aku sesali di hidup ini, aku menyesal karena selalu menyalahkan orang lain serta keadaan. Saat semua hal tidak berjalan sesuai keinginanku. Karena hal itu, aku terlambat untuk menjadi kuat.
Dahulu aku sempat berkeyakinan, bahwa ketidaktahuan adalah sebuah kebahagiaan. Karena hal itu, aku bisa untuk mentoleransi banyak hal. Dan rasa sakit, salah satunya. Namun, aku menyesali keputusan itu. Jika saja aku bisa memanfaatkan waktuku itu untuk menjadi kuat. Mungkin aku sekarang tidak akan kebingungan, dan memiliki cara serta solusi yang baik untuk mengatasi segala keruwetan hidup ini.
Aku tahu, tidak ada waktu untuk mengeluh. Namun, aku hanya tidak bisa mengerti. Di dunia ini, ada banyak sekali orang jahat.
Namun kenapa, Tuhan hanya merundung kita berdua. Semua orang terus bergerak maju, namun kenapa aku selalu kehilangan
jalanku. Jika hal ini terjadi hanya kepadaku, mungkin aku akan menerimanya. Karena
__ADS_1
itu bukan hal baru di hidupku. Namun, membayangkan hal itu terjadi kepada Keira.
Rasanya, aku sungguh tidak bisa untuk menerimanya.