
GET OUT OF HAND
Aku hanya melangkahkan kaki, namun stress ini menuntun kakiku untuk pergi ke atap sekolah terlebih dahulu. Aku rasa sebatang rokok bisa sedikit mengobati diriku, dan mengusir kepenatan ini. Aku bagai tenggelam di laut dangkal, kehilangan nafas bahkan tabung oksigen tidak bisa menyelamatkanku.
Bagai sebuah tanda tanya yang tidak mampu aku jawab, itulah cara dia menatapku sekarang. Aku bagai matahari yang kehilangan cahaya, dihembuskan angin dan melayang-layang. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya panik, saat dia memalingkan wajahnya dan tidak lagi melihatku.
Dia melakukanya berulang-ulang kali, dan membuatku terkubur disini, dia yang pernah memberiku romansa dalam setiap senyumannya, tak lagi kulihat, dia diam kan aku dan menarik semua romansa itu dengan sekali tarikan tangan.
Sebuah rasa sakit, datang dan pergi di hidup ini. Namun aku tidak pernah menyangka, bahwa ia akan tinggal. Rasa sakit itu datang seperti hujan di musim semi, tanpa aba-aba dan tanpa pertanda. Dan ia membuat mimpi mulai kehilangan makna. Akhir kisah ini, aku sudah bisa menebaknya. Jadi haruskah aku bertahan hingga akhir, atau aku tinggalkan semua sekarang.
Saat bersamanya, aku lupa cara untuk tidak bahagia. Namun di sisi lain, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Bahwa aku, terus memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada kita berdua. Dan perasaan itu perlahan-lahan mulai datang dan mencekik leherku, dan membuatku sangat sulit untuk bernafas. Dan saat aku tersadar, aku mulai tenggelam dalam air mata yang selama ini aku tahan.
Aku sangat mendambakan sebuah kisah cinta yang klasik, mungkin seperti sebuah film drama romantis, dengan akhir cerita yang bahagia. Namun, semua hal terus berbalik. Dan membuat kisah kita, menjadi genre serta alur cerita yang berbeda dari yang kita harapkan. Akhir kisah kita , aku
sudah bisa menebaknya. Namun, diriku
akan bertahan hingga akhir.
Setelah berada di tempat tertinggi di sekolah, aku nyalakan sebatang rokok untuk mengusir kepenatan ini. Namun hari ini rokok juga bertindak menyebalkan, karena pikiran akan Keira masih terus menggangguku.
“Aku kira sekolah kebakaran.”
Aku pun terkejut dan serentak mematikan rokok yang ada di tanganku. Teringat peristiwa Pak Amir di ingatan, dan aku sungguh tidak ingin di hukum lagi karena ketahuan merokok di sekolah. Namun saat aku menatap sumber suara itu, aku melihatnya sosok tidak asing.
Dan aku ingat siapa siswi itu, dia adalah siswi yang ada di lapangan basket saat aku di hukum dan memberikan botol air mineral kepadaku. Siswi aneh yang memprediksi kemenangan Teddy di bursa pemilihan ketua OSIS. Seorang yang aku yakin sama sepertiku, bisa melihat masa depan. Dia pun mendekat ke arahku dan berdiri di sampingku. Aku hanya menatapnya keheranan, kemudian ia tersenyum ke arahku.
“Kamu?” Tanyaku.
__ADS_1
“Frisca, kelas 11A.” Jawabnya.
Aku pun hanya menatapnya, dan akhirnya aku mengetahui nama wanita aneh itu. Aku pun hanya tersenyum sopan dan saat aku ingin memperkenalkan diriku kepadanya, dia mengejutkanku.
“Kamu Rasya kan?” Tanya Frisca.
Aku yang terkejut pun hanya diam seraya menganggukkan kepalaku kecil. Dan hal itu, membuatku semakin yakin bahwa ia sama sepertiku, ia bisa melihat masa depan.
Hanya tersenyum kepadanya, dan aku senang bisa bertemu dengannya, seorang yang sama sepertiku. Aku pun kembali mengambil bungkus rokok disaku ku, dan mengambil satu batang rokok dari bungkus itu dan membakarnya.
Dan saat aku kembali menatapnya, dia masih menatapku dengan senyumannya. Tak lama ia mendekat ke arahku dan menatap bungkus rokok yang aku pegang. Frisca lantas mengambil bungkus rokok di tanganku, setelah itu menatapnya sangat lama. Aku pun hanya menatapnya, dan tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan.
“Gimana ya rasanya ciuman sama perokok.” Kata Frisca bergumam sendiri.
Tak lama Frisca menatapku, dan aku terkejut akan hal itu. karena itu adalah salah satu episode antara aku dan Keira. Dan aku semakin yakin bahwa wanita ini bisa melihat masa depan, di tengah keterkejutan ku. Wanita itu kembali mendekat ke arahku.
Ia kemudian tersenyum ke arahku, aku tersengat akan senyuman itu. Aku pun kembali me-rewind episode itu di kepala, dan kembali menatapnya. Di benakku tercipta beragam pertanyaan, apakah ia melihat masa depanku atau ia melihat masa depan Keira. Sehingga ia mengetahui episode ini, jika ia melihat di takdir Keira.
Aku mempunyai banyak pertanyaan, apakah takdirnya sudah berubah. Bagaimana ia akan kehilangan anaknya, apakah karena sakit atau apa hal lain. karena aku hanya baru bisa melihat benang merahnya saja di takdirnya. Aku pun sangat penasaran, siapa pria brengsek itu yang membuatnya menangis sendirian.
Frisca kemudian membuka bungkus rokok yang ada di tangannya, dan mengambil satu batang rokok dan memasukan sebatang rokok ke mulutnya. Ia lantas mendekat ke arahku dan mengambil korek yang ada di tanganku. Disisi lain aku diam mematung seperti batu dan terus menatapnya. Frisca kemudian hendak menyalakan korek dan mulai mendekatkannya api itu ke rokok di mulutnya. Namun ia tiba-tiba berhenti dan menatapku.
“Uwek, rasa kenalpot.” Kata Frisca tersenyum kepadaku.
Aku terkejut melihatnya, reka ulang yang ia lakukan itu nyaris sempurna. Apakah ia telah melihat masa depanku, atau Keira. Kumohon masa depan Keira lah, sehingga aku bisa bertanya banyak hal tentangnya.
“Tapi kamu mau tahu gak, apa yang menarik di episode itu?” Tanya Frisca.
__ADS_1
Aku hanya menatapnya, kemudian Frisca tersenyum dan mendekat ke arahku. Kita pun hanya terdiam menatap satu sama lain.
“Lu masih penasaran, gimana rasanya ciuman sama perokok?” Tanya Frisca.
Frisca tersenyum, dan tanpa aba-aba ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Di tengah kebingunganku, seraya menjijitkan kakinya, ia lantas mencium bibirku. Tanpa daya aku hanya terdiam menerima ciuman itu.
Entah apa yang ada di pikiranku, aku hanya menerima ciuman itu. Dan aku rasa aku sudah gila, dan aku larut oleh bujuk rayu Iblis. Aku pun hanya mengikuti arus, dan mendominasi. Entah apa yang merasuki diriku kala itu, aku pun tidak mengetahuinya. Kedua tanganku lantas memegang erat pipi Frisca dan terus mencumbu bibir merahnya.
Atap sekolah menjadi saksi rapuhnya cintaku, dan aku mencurangi Keira. Aku terus mencium bibir wanita yang tidak aku kenal ini, dan saat aku melakukanya tidak ada nama Keira di kepalaku.
Pada dahinya aku sandarkan dahi ku, dan kulihat dia masih menutup kedua matanya. Tak lama ia membuka matanya dan menatapku dengan senyumannya, aku pun sadar dan menatap wajah Frisca dan dengan refleks aku mendorong tubuhnya menjauh dariku.
Aku pun tidak mengerti apa yang baru saja aku lakukan, begitu bodoh sehingga aku mengutuk diriku. Apakah ini semua karena masalahku dengan Keira, atau karena aku memang bajingan. Aku pun tidak mengetahuinya, kenapa aku melakukanya. Dan kulihat Frisca masih menatapku, aku pun lantas menundukkan kepalaku karena kebodohan ku ini.
“Maaf, aku harus lupain kejadian ini.” Kataku.
Kulihat Frisca pun hanya tersenyum menatapku. Aku pun turut menyesal kepadanya, walau aku tahu rasa menyesal ku tidak mengubah apapun, serta tidak akan menghapus kejadian itu.
“Iya, kita lupakan kejadian ini.” Jawab Frisca.
“Terimakasih.” Lanjut ku.
Aku pun lantas berusaha pergi dari atap itu, meninggalkan Frisca dan kebodohan ku tadi. Itu semua terjadi begitu saja, aku pun kehilangan diriku saat itu. Dan sekarang aku hanya memikirkan Keira, walau tadi tidak demikian. Bajingan gila, aku terus mengutuk diriku sendiri sepanjang langkahku pergi dari tempat itu.
“Tapi … kamu harus tinggalkan dia, karena itu yang terbaik untuk kalian.” Tuntas Frisca.
Aku tidak memperdulikan kata-kata itu, dan kembali mempercepat langkah kakiku. Aku tahu bahwa hari ini aku sungguh bodoh, bagaimana jika Keira tahu kejadian ini. Hal ini pasti menyakitinya, dan aku tidak tahu bagaimana aku mengahadapi Keira besok.
__ADS_1