WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
CHAPTER 47 (LOSING MY MIND)


__ADS_3

LOSING MY MIND


Malam ini, aku sadar. Bahwa dirinya adalah seorang aktor yang buruk. Namun melihat usahanya untuk terlihat baik-baik saja di tengah rasa sakit itu. Fakta itu, membunuh diriku. Setiap senyumannya, bagai tusukan pedang tajam di dada. Kenapa ia memilih jalan itu. Bukankah hidup seperti itu, begitu menyakitkan. Kenapa ia terus, membuatku merasa semakin tidak berguna.


Fakta bahwa aku terus menyakitinya, tidak peduli seberapa keras usahaku mencoba untuk tidak melakukan itu. Jadi, maafkan aku karena memberimu cinta yang sulit. Maafkan aku, karena menjadikan rasa sakit itu, sebagai rutinitas yang biasa kau jalani


di hidupmu. Tidak ada pembelaan dariku. Karena itu, aku mengutuk diriku dengan


kata makian yang paling kasar.


Apakah Tuhan sedang tidak punya ide,


saat menulis kisah tentang kita. Sehingga alurnya begitu monoton, dan selalu sama. Selalu, aku yang menyakiti dirimu. Jika tidak, mungkin Tuhan sekarang sedang cemburu, karena besarnya cinta kita berdua. Sehingga Tuhan berniat memisahkan kita berdua.


Namun jika cinta ini, berubah menjadi


sebuah hukuman sekalipun. Aku akan tetap mencintainya.

__ADS_1


Malam di meja makan, kita hanya saling menatap. Aku sering menerka-nerka apa isi kepalanya, tentang arti diriku di hidupnya. Namun bagaimana pun hasilnya, aku akan selalu bersyukur. Teringat laki-laki yang aku lihat di potongan masa depannya, laki-laki yang selalu membuatnya menangis. Aku sangat membencinya, dan jika aku tahu siapa laki-laki itu. Aku berjanji untuk membunuhnya, untuk mencegah takdir itu lahir dan berjalan.


Terpikir cara lain, untuk menghentikan takdir itu. Aku pun memantapkan diriku untuk memilikinya, hanya itu yang bisa aku lakukan, selagi aku menunggu laki-laki itu datang di kehidupan Keira. Aku tidak akan melepaskan laki-laki itu, begitu juga Keira. Selagi aku menjaganya, aku juga akan membunuh semua laki-laki yang dekat dan berniat mendekatinya. Akan ku buat seperti itu, suka tidak suka. Aku akan terus membuatnya berada di sisiku. Dan akan aku buat Keira akan bergantung kepadaku, dan hanya kepadaku, apapun caranya.


Aku lantas memegang tangannya seraya menatapnya. Benar, hanya cara itu. Dan jika aku berfikir kembali, aku juga tidak bisa hidup tanpanya.


“Kamu mau gak, menikah sama aku?” Tanyaku.


Pertanyaan ku itu membuat ia terkejut dan menyelaraskan tatapannya. Lalu ia tersenyum dan menganggap hal itu hanya candaan belaka. Aku pun lantas mengeratkan pegangan tanganku, dan kembali menatapnya.


“Tunggu aku 4-5 tahun lagi, kita akan menikah. Aku akan lulus kuliah dan mengambil alih perusahan Ayahku.” Lanjut ku.


“Aku akan menjaga kamu, dan akan aku buat kamu selalu bahagia. Nikah sama aku Ra?” Kataku.


“Iya, aku percaya.” Jawabnya.


Jawabannya mengukir senyum di wajah ini, harapan timbul dari rasa sakit. Dan karena aku tahu dan mengenal rasa sakit itu, aku akan berusaha keras mewujudkan harapan itu. Di tengah senyumku, teringat peristiwa atap sekolah, yang hingga saat ini terus menggangguku.

__ADS_1


Peristiwa tentang ciumanku dan Frisca, dimana aku mengkhianati cinta Keira. Fakta itu tanpa sadar terus mengusik diriku, dan rasanya aku tidak sanggup menyimpannya lagi. Aku pun mulai mempersiapkan diriku dan mulai menatap Keira.


Kulihat Keira sedang disibukan oleh kotak makanan yang ia bawa. Aku pun kembali berfikir, apakah tindakan yang aku lakukan ini benar. Bagaimana jika senyum itu akan hilang dari wajahnya, dan bagaimana jika ia tidak bisa memaafkan aku. Pikiran-pikiran itu terus menggangguku, aku pun kehilangan akal ku.


Haruskah aku menceritakan semua itu kepadanya atau aku kubur fakta ini agar senyum itu terus menghiasi wajahnya. Dan jika aku berfikir kembali, aku dan Frisca sudah sepakat untuk mengubur peristiwa itu. Walau aku sedikit takut bahwa Frisca akan berubah pikiran dan menceritakan kejadian itu kepada Keira. Keira mungkin akan lebih hancur jika mengetahui fakta itu dari orang lain.


“Kamu kenapa?” Tanya Keira sambil tersenyum menatapku.


Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Senyumannya terus menghardik nurani ku, dan tanpa sadar hati ini menyuarakan untuk mulut ini bungkam. Tapi ini sungguh melelahkan, aku terpenjara oleh sebuah fakta. Sebuah fakta, bahwa aku akan kembali menyakitinya.


“Aku mau cerita.” Kataku.


“Cerita apa?” Tanya Keira.


Senyum Keira kembali membuat langkahku mundur. Mulut ini pun enggan berbicara, namun aku tidak sanggup lagi menyimpannya. Aku pun memutuskan untuk membagi rasa sakit itu kepadanya, aku sadar bahwa aku sangat egois. Jadi kumohon, maafkan aku.


“Aku ciuman sama Frisca.” Kataku.

__ADS_1


Kata-kataku serentak membuat Keira menghentikan segala aktivitasnya di atas meja, kemudian ia hanya terdiam seraya menatapku. Tatapan itu bagai sebuah tusukan pedang di dada ini, dan itu sangat menyakitiku.


__ADS_2