
TANPA HITAM DI ATAS PUTIH
Aku pun lantas menatap matanya, dan terus menatap matanya. Berharap potongan akan masa depannya datang kepadaku. Setelah beberapa saat, tak lama aku pun masuk ke dalam pusaran takdir akan masa depannya.
Serpihan kejadian-kejadian akan masa depannya pun menghampiriku satu persatu dan membuatku hanyut bersama potongan-potongan akan masa depan miliknya. Banyak potongan-potongan yang hadir, namun ada sebuah potongan akan masa depannya yang membuatku terjaga.
Di sebuah ruangan dari sebuah gedung yang menjulang tinggi, terlihat tumpukan-tumpukan kertas menghiasi sebuah meja. Di tempat lain di meja itu, terlihat sebuah foto Keira dengan sebuah lencana pengacara yang menggantung di jas yang ia pakai. Keira sangat cantik kala itu, dia tersenyum bahagia.
Di samping foto itu, terlihat sebuah bingkai lain. Namun aku di kejutkan oleh sebuah suara keras berasal dari ruangan lain di tempat itu. Saat aku mengikuti sumber suara itu, di kamar mandi aku melihat Keira tak sadarkan diri. Dan begitu kagetnya aku, saat melihat sebuah darah yang mengalir di kamar mandi itu.
Tidak sampai disitu, aku semakin di kejutkan kan, saat aku melihat Keira yang tak sadarkan diri, setelah menyayat urat miliknya.
**
Dan saat aku tersadar, aku lantas melihat Keira di hadapanku. Keira kala itu, sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku lihat dari masa depannya yang sayu. Seketika aku pun lantas melepaskan tanganku dari bahunya. Aku masih terkejut, dengan apa yang barusan aku lihat. Dan tanpa sadar, air mataku hadir.
Begitu tragis takdir wanita ini, dan sekali lagi dunia ini mengejutkanku. Aku hanya bisa menatapnya bersama air mataku.
“Lu kenapa, kok nangis?” Tanya Keira seraya menatapku.
Aku lantas membalikan wajahku dan mengusap air mataku. Aku pun tidak mengerti, kenapa aku selalu menangis setelah melihat potongan akan masa depannya. Mungkin karena tragisnya takdirnya, karena itu aku menangis.
Setelah aku mengusap air mataku, aku pun menguatkan diriku dan menatapnya.
“Pengacara.” Kataku.
“Hah?” Tanya Keira.
“Di masa depan, lu akan akan jadi seorang pengacara.” Tuntas ku.
Jawabanku, membuat Keira terdiam. Dan tak lama, Pak Amir datang dan mengakhiri percakapan kami.
“Kita harus bicara nanti.” Pinta Keira.
Kelas pun di mulai, di depan kelas Pak Amir pun sibuk menerangkan pelajarannya yang sangat membosankan. Disisi lain, aku sangat terganggu akan senyuman yang terus menerus menghiasi wajah Keira.
__ADS_1
Si bodoh itu, terus tersenyum akan takdirnya. Sekelebat rasa penasaran pun memenuhi pikiran ini, dan jujur aku masih tidak mengerti akan semuanya. Dunia terus mengejutkanku lagi dan lagi.
**
Selepas jam pelajaran berakhir, Keira menahan ku di kelas. Aku pun lantas terpenjara oleh tatapan penuh keingintahuannya. Tanpa sadar, aku gugup dibuatnya. Karena aku tidak bisa menebak, apa yang akan Keira tanyakan kepadaku tentang takdirnya. Aku takut keceplosan dan mengatakan yang sejujurnya, akan takdir yang penuh nestapa itu.
“Jadi pengacara adalah impian gua.” Kata Keira.
Pengacara, di pengelihatan ku akan masa depannya, Keira akan menjadi seorang pengacara. Aku mengetahui itu semua saat aku melihat bingkai foto di mejanya, di foto itu Keira memakai sebuah lencana pengacara. Namun aku sungguh takut, Keira akan bertanya hal yang lebih detail akan penglihatannya tadi.
“Jika benar, lu bisa melihat masa depan.” Lanjut Keira.
Aku pun hanya menatapnya, aku sungguh khawatir akan pertanyaan lanjutan Keira. Terlebih lagi, tadi ia sempat melihatku menangis. Karena jika itu terjadi, jujur aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepadanya.
“Bantuin gua.” Pinta Keira.
“Hah?” Tanyaku.
“Bantuin gua, jadi Ketua OSIS.” Tuntas Keira.
“Lu mau kemana?” Tanya Keira.
“Pulang.” Jawabku.
“Bantuin gua, kira-kira gua bisa menang gak di bursa pemilihan Ketua OSIS?” Tanya Keira.
“Bentar deh, gua benar-benar gak ngerti. Kenapa gua harus bantuin lu?” Tanyaku sambil kembali duduk.”
“Kita kan teman.” Jawab Keira sambil tersenyum.
Aku pun lantas beranjak dan berniat untuk pulang, aku tidak ingin membantunya. Alasannya adalah karena aku sungguh tidak berniat mempunyai kesibukan apapun di sekolah. Dan terlebih lagi, aku tidak mau kembali harus melihat takdir akan masa depannya.
“Gua traktir lu seminggu di kantin, budget 150.000?” Tanya Keira.
“Enggak mau.” Jawabku.
__ADS_1
“Budget 200.000, gimana?” Tanya Keira.
“Ini bukan masalah nominal.” Jawabku.
“Terus apa? ayo dong bantuin gua.” Pinta Keira sambil memohon dan tak lama memegang tanganku.
Aku pikir saat itu, aku sungguh gila. Saat aku melihat Keira memohon kepadaku. Entah kenapa dia terlihat sangat lucu. Dan tanpa sadar, bibir ini tersenyum. Aku sungguh tidak mengerti, apa yang terjadi kepadaku.
Dan saat aku tersadar, aku lantas mengutuk diriku. Dan langsung memikirkan ide untuk membuatnya menyerah akan keinginannya itu.
“Dari pada uang, gua mau lu ngerjain semua tugas gua.” Kataku.
“Tugas sekolah?” Tanya Keira.
“Iya tugas sekolah, lu harus ngerjain semua tugas gua sampai semester ini berakhir. nilai 8 minimal yang harus gua dapat di setiap tugas.” Jawabku.
Aku pun tidak mengerti, apa yang aku bicarakan. Karena yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana Keira menolak tawaranku. Aku tahu betul Keira tidak mungkin menerimanya, karena aku tahu dia sangat sulit berkompromi untuk masalah nilai.
“Gimana?” Tanyaku.
“Tugas?” Kata Keira bergumam sendiri.
“Oh iya, ulangan juga.” Lanjut ku.
“Kalo ulangan mana bisa, kita kan ngerjainnya sendiri-sendiri.” Jawab Keira.
“Ya lu tinggal bolehin gua nyontek.” Jawabku.
“Dasar perampok.” Keira bergumam kesal.
Wajah Keira mulai memerah, dan aku sadar bahwa strategi ku berhasil. Keira pun terus berfikir keras, dan aku menikmati momen itu. Namun aku melupakan bahwa Keira adalah Keira. Seorang wanita yang tidak bisa di tebak, dan aku sadar bahwa prediksi ku meleset.
“Ok, gua terima.” Kata Keira sambil tersenyum.
Senyuman Keira mengakhiri obrolan kita hari itu. Tanpa hitam di atas putih, perjanjian itu tercipta. Diikuti nilai ku yang mulai membaik, dan sekali lagi aku melakukan hal bodoh yang mungkin aku sesali di kemudian hari.
__ADS_1