WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 34) WHEN PIGS, FLY


__ADS_3

WHEN PIGS, FLY


Apakah akan menjadi happy ending, di akhir cerita. Aku tidak mengetahuinya, dan semoga hanya senyumannya lah yang mengisi di akhir cerita.


“Nonton film yuk?” Pinta Keira.


Aku pun mengiyakan permintaannya, seraya beranjak dari tempatku dan menyiapkan segala hal. Kita pun berdua menonton sebuah film horor, walaupun aku sedikit takut untuk menonton film bergenre horor tapi karena itu permintaan Keira, aku pun menyetujuinya.


Kita pun berdua duduk menatap sebuah film, namun aku malah di sibuk kan menatap Keira. Kulihat Keira menatap film itu, dengan bantal dan gerak siap siaga untuk menutup wajahnya saat scene yang menyeramkan. Aku hanya tersenyum melihatnya, ia terlihat begitu lucu.


Kenapa ia bersikeras untuk menonton film horor, sedangkan ia terlihat sangat takut menontonnya. Sementara ia masih menonton film itu di celah bantal yang ia pegang, dan bibir ini tersenyum setelah menyadari, bahwa ia lebih menarik dari film horor ini.


Namun saat aku menoleh kearah TV, scene hantu mengagetkanku. Dengan refleks tubuh ini pun melompat ke belakang, jantungku pun berdetak tidak karuan. Dan aku membenci film horor ini. Melihat hal itu, Keira yang berada di sebelahku pun tertawa. Aku sangat malu karena itu, aku hanya bisa mengutuk film ini di dalam pikiranku.


“Gak seru filmnya.” Kataku dengan kesal.


“Bilang aja kamu takut!” Kata Keira meledekku.


Melihat Keira terus tertawa dan meledekku, membuatku kesal. Aku hanya terkejut sekali, sedangkan dia sepanjang film hanya terus bersembunyi di balik bantal. Jika melihat statistik itu, Keira lah sosok penakut sesungguhnya.


“Kayak kamu berani aja, kamu aja nonton filmnya aja tutupan bantal.” Kataku dengan kesal.

__ADS_1


“Ini seninya kalo nonton film horor, dasar penakut.” Jawab Keira seraya meledekku.


Aku pun hanya melihatnya, sementara ia terus tertawa dan aku sangat membencinya. Kenapa hari ini, ia sungguh menyebalkan. Senyuman yang biasa membuatku luluh, saat ini kehilangan makna. Aku lantas melihat bantal yang ia pegang.


“Kalo kamu berani, nontonnya jangan pake bantal.” Kataku sambil mencoba merebut bantal yang ia pegang.


Aku pun berusaha menarik bantal yang Keira pegang, melihat bantalnya di tarik olehku, ia pun mencoba mempertahankan bantalnya. Dan terjadi tarik menarik bantal antara aku dan Keira. Kekesalan yang sudah memenuhi perasaanku, membuatku berusaha keras.


Mengingat raut wajahnya saat meledek ku membuat diriku ingin menang dan mendapatkan bantal tersebut, sementara ia tidak mau mengalah dan terus berusaha mempertahankan bantal miliknya.


Dan saat aku menggeluarkan tenaga terbaikku, dan menarik bantal dari tangannya. Tubuh Keira pun lantas tertarik dan mendekat kearah ku. Dan kita lantas bertatap-tatapan dengan jarak yang sangat dekat.


“Gak seru filmnya.” Kata Keira sambil menatapku.


“Kan aku udah bilang dari tadi.” Jawabku.


Keira lantas memalingkan wajahnya, namun saat aku lihat bibir merahnya membuatku tidak bisa menahan diriku. Tangan kananku pun lantas memegang pipinya dan kembali mengarahkan wajahnya untuk menatapku.


Hanya saling memandang satu sama lain, ia makin cantik jika sedang kikuk. Aku ingin memilikinya, di pagi, siang dan malam ku. Aku pun melihat bibir merahnya seraya mendekatkan wajahku kearahnya, Keira pun tanpa daya menutup matanya dan menyerah akan cintaku.


Dengan beralaskan niatku untuk memilikinya, aku mencium bibir merahnya. Dalam diam ku, aku ingin memberitahu kepadanya sebuah kata yang menyakitkan. Sebuah kata itu mewakili segala perasaanku, bahwa aku tidak akan pernah melepas mu.

__ADS_1


Apakah kamu ingat Keira, saat pertama kali kita bertemu. Kala itu pagi di sebuah ruangan kelas yang kosong, disana aku membuatmu menangis. Dan apakah kamu juga ingat Keira, dahulu setiap kali kita berbincang. Di setiap pagi dan sore kita, hanya ada kalimat bernada tinggi, dan kita saling memaki satu sama lain. Dan aku akan selalu ingat, saat kamu meraih tanganku, dan kamu menarik diriku keluar dari neraka itu. Aku banyak menyesal, dan bersyukur akan semua momen itu.


Dunia ini sungguh misterius, untuk orang


yang selalu berfikir serius. Kata-kata itu cukup masuk akal, dan Tuhan memang punya kuasa akan hal itu, sangat mudah membalikan hati seorang manusia. Bagaimana bisa, orang


yang sangat membencimu, menjadi orang


yang paling mencintaimu. Dan bagaimana bisa, setelah aku melihat nestapa di masa depan mu. Aku tetap sama dan mencintaimu, bahkan semakin dalam. Dan semoga akan selalu seperti ini. Hanya ada kata kita, bukan hanya aku atau kamu.


Aku pun membuka mataku, dan melihatnya di hadapan ku. Pada dahinya ku sandarkan dahi ku, dan kulihat dia masih menutup kedua matanya. Tak lama ia membuka matanya dan menatapku, lalu ia tersenyum.


“Aku cinta sama kamu!” Kataku.


“Aku juga, aku cinta sama kamu.” Jawabnya.


Keira lantas mengaitkan leherku dengan dua tangannya dan menarik diriku seraya mendekatkan dirinya dan mencium ku. Aku tidak ingin mengakhirinya, dan kumohon ini jangan berakhir.


Jika ini penghujung hari, kumohon kepada matahari datang lah terlambat atau beritahu aku caranya untuk agar membuatmu datang terlambat. Agar aku bisa lebih lama bersamanya.


Tapi matahari tidak mengiyakan keinginanku dan mengusir paksa langit sore, dan memaksa Keira untuk pergi dari sisiku. Aku pun berniat mengantarnya pulang, dan kita pun beranjak dari tempat duduk kita dengan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2