WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 66) ALASAN DIA DATANG DAN MENANGIS


__ADS_3

ALASAN DIA DATANG DAN MENANGIS


Dan sekarang aku mengerti, kenapa Frisca datang hari ini. Dia datang karena masa depannya, ikut berubah karena keputusanku. Aku juga tidak mengerti, bagaimana aku bisa masuk kedalam masa depannya. Apakah karena ciuman di atap itu, aku juga tidak mengerti kenapa dia menangis dan menyerang ku secara membabi buta.


Apakah ia tidak menyukai takdir barunya, hal itu mungkin terjadi. Aku pun kaget akan takdir yang begitu mendadak ini, namun aku berharap dia bisa menerima takdir itu. Dan aku akan membuatnya seperti itu, walau aku sedikit bersalah.


Karena aku melakukanya demi Keira.


Tak lama, aku dibawa oleh potongan kisah berikutnya, kisah masa depan gadis yang akan menjadi masa depanku. Malam, di sebuah cafe. Aku melihat diriku dan Frisca duduk di satu meja. Di temani sebuah lilin, dan iringan musik, aku melihat diriku duduk berdua bersama Frisca. Aku melihat diriku tersenyum disana, bagai orang bodoh yang di buta kan rasa bahagia. Hanya menatap penuh malu, saat melihat tingkah diriku di potongan masa depan ini.


Di tengah makan, aku melihat diriku dengan raut wajah tak menentu. Aku pun mengerutkan dahi ku, saat menatap itu. Dan bertanya-tanya, apa yang menggangguku. Tak lama aku melihat diriku sengaja menjatuhkan sendok dan garpu ke lantai, dan tak lama aku melihat diriku beranjak dari bangku berniat mengambil garpu itu.

__ADS_1


Dan aku tersenyum menatap diriku di potongan masa depan ini, karena bukanya mengambil garpu yang jatuh. Diriku malah mengambil sebuah kotak cincin dari saku celana, hanya tersenyum menatap diriku sendiri, yang bisa aku lakukan. Dan dengan raut wajah tak menentu, aku melihat diriku membuka kotak cincin itu. Seraya tersenyum, diriku menodongkan kotak cincin itu kearah Frisca yang masih terduduk menatap.


“Nikah sama aku?” Tanyaku.


Rasanya sungguh menggelikan menatap kisah diriku sendiri, namun aku ingin ia berhasil dan mendapatkan apa yang ia mau. Eemm bukan, tapi apa yang aku mau. Melihat kejadian itu, Frisca hanya terdiam menatap diriku yang masih berlutut bersama sebuah kotak cincin di tangannya. Kemudian aku dikagetkan, saat Frisca tiba-tiba beranjak dari tempatnya. Raut wajahnya terkesan marah, aku pun tidak mengerti.


Dan tatapannya kali ini, sangat berbeda seperti potongan yang aku lihat sebelumnya. Aku hanya menatap kejadian itu, dan diriku tampak kecewa disana. Dan dengan raut wajah marahnya, Frisca berniat pergi dari tempat itu. Diriku lantas beranjak dari tempatnya dan meraih tangan Frisca yang bersiap pergi. Frisca hanya merespon raihan tangan itu dengan raut wajah marahnya, Frisca lantas menepis tangan itu.


Aku hanya menatap situasi tegang itu, aku pun tidak mengerti apa yang terjadi. Aku juga tidak mengerti, kenapa diriku merespon kata yang di utarakan Frisca dengan menundukkan kepalanya. Aku lantas melihat diriku mengangkat kepalanya dan kembali menatap Frisca.


“Aku sayang sama kamu, dan aku gak apa-apa. Kalo itu semua akan terjadi.” Jawabku.

__ADS_1


Frisca tampak marah mendengar jawaban itu, aku pun tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka berdua. Aku hanya menatap kejadian itu bersama rasa keingintahuanku.


“Egois kamu.” Kata Frisca dengan raut wajah marahnya.


Frisca lantas beranjak pergi setelah mengatakan kata itu, sementara aku melihat diriku berdiri mematung dengan raut wajah sedih dan menatap kearah Frisca yang hendak pergi.


“Aku hanya ingin melihat senyum Pasha.” Kataku.


Langkah kaki Frisca berhenti setelah mendengar kalimat itu, dia pun berbalik menatap diriku. Dan aku dikejutkan saat melihat air matanya, dan dengan air mata itu dia menatap diriku.


“Dia berhak untuk tersenyum, aku gak mau karena diriku, dia gak punya kesempatan itu.” Kataku.

__ADS_1


Kata-kata itu membuat tangisan Frisca makin deras, tampaknya kata-kata itu sangat menyakiti dirinya. Frisca lantas pergi bersama air matanya, meninggalkan diriku yang masih berdiri menatap punggung Frisca.


__ADS_2