
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke 🥰
Jangan sinder 😘😘
🌹 Happy Reading 🌹
Freya yang merasa gerah ketika mendengar suaminya menyebutkan nama wanita lain kini merasa muak, dan ingin menghindar.
Namun belum saja dia melangkahkan kakinya pergi, Aiden lebih dulu mendekapnya erat, "lepaskan aku!" bentak Freya kesal.
"Kamu cemburu kan," goda Aiden yang semakin gencar melihat wajah marah istrinya.
"Iya cemburu, pikirlah pakai otak, istri mana yang gak cemburu ketika suaminya merindukan wanita lain, punya otak gak sih," cerca Freya dengan emosi yang memuncak.
Cuuuppp, Aiden langsung mencium dan melum***at bibir istrinya dengan lembut, hingga Freya hanyut terbawa suasana.
Bahkan sangking dalamnya ciuman itu, tanpa di sengaja buliran air mata terjatuh tanpa seizin Freya, dia marah bahkan merasakan sakit ketika suaminya menyebutkan nama itu berulang-ulang.
Susana itu begitunlama terjadi, hingga mereka tidak menyadari Bi Salmah dan beberapa pelayan lainya yang datang untuk membuat Tenda dan api unggun untuk mereka.
Aiden melepaskan luma**tan itu, dan membawa tubuh Freya masuk ke dalam dekapaan eratnya.
"Jangan marah lagi ya, sungguh aku hanya mencintaimu, dan tidak akan ada wanita lain lagi," ungkapnya tulus.
Freya masih terlihat sesegukan menahan tangisnya, "lalu siapa Gabriella ? Kenapa kamu merindukanya?" tanyanya penasaraan.
Aiden tersenyum tipis menanggapi kalimat istrinya yang sepertinya lupa jika dia pernah menceritakan tentang Briell.
"Gabriella Jonathan, apa kamu lupa aku pernah menyebut nama Briell?" tanya Aiden balik, mengingatkan istrinya tentang siapa Briell.
Freya nampak berfikir terlebih dahulu mengingat setiap kalimat yang pernah di katakan oleh suaminya ini.
"Oh Briell sahabat kamu itu," jawabnya mengingat kalimat itu.
__ADS_1
Kalimat dimana suaminya memgenalkan Briell sebagai sahabat baiknya, Aiden tidak mau jika Freya merasa tersaingi nantinya dengan kehadiran rindu untuk masa lalu suaminya.
"Iya dia adalah sahabat ku sedari kecil, aku sudah menganggapnya seperti adik ku," jawab Aiden bohong. Intinya dia tidak mau istrinya berpikir yang macam-macam lagi saat ini.
"Sayang, jika suatu saat ada orang tersayang mu meminta kamu untuk memilih antara meninggalkan ku atau lanjut denganku, apa yang akan kamu pilih?" tanya Aiden dengan raut wajah yang serius.
Freya menggelengkan kepalanya bingung, "pertanyaan seperti apa yang sebenarnya kamu tanyakan padaku ?" tanya Freya balik, merasa bahwa saat ini suaminya sedang mempermainkanya.
"Aku hanya ingin memberitahumu, jika aku menyesal melakukan kesalahaan dulu, dan aku rela melakukan hal apapun asal kamu bahagia, termasuk melepaskanmu," ungkap Aiden dengan senyum getirnya, menandakan dirinya yang sedang menahan luka dalam di hatinya.
Freya yang tak ingin menjawab pertanyaan suaminya yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu, dia memilih melangkahkan kakinya menghampiri tenda yang sudah jadi di buat beserta api unggunya.
"Dear Dear lihat deh, enak banget ya hawanya duduk berkemah dengan suasan windy seperti ini," serunya antusias, sambil mulai mengeluarkan beberapa marshmellow dari bekal yang di bawakan oleh Bi Salmah tadi.
Namun sebelum Freya membukanya, Aiden lebih dulu merampasnya, "No,,No Sayang, kamu harus makan nasi dulu baru boleh makan seperti ini," tegasnya, mengambil bekal yang berisikan nasi istrinya.
"Baiklah," jawab Freya pasrah.
Sejujurnya dia malas sekali makan saat ini, apa lagi melihat kantong makanan serta marshmellow yang menggiurkan, membuatnya mual memandang nasi.
Freya tersenyum dan langsung menerima suapan demi suapan yang suaminya berikan.
Hingga di saat keduanya tengah bermesaraan, tiba-tiba suara lift terbuka dan memperlihatkan sosok yang begitu Aiden rindukan.
"Oh my God, look at this, who comeing here," seru Aiden antusias menyambut tamu yang datang.
"Hei kak, Hei kakak ipar," sapa Zein datar tanpa senyum maupun tatapan yang ramah.
"Hallo," sahut Freya merasa suasana yang berubah jadi mencengkram.
"Sayang kenalin, ini adik aku Zein, dan ini kekasihnya Dara," imbuh Aiden memperkenalkan sosok yang asing bagi istrinya.
"Hallo, Freya," sapanya menjabat tangan Dara.
__ADS_1
"Hallo kakak," sahut Dara lembut.
Lalu Freya beralih ingin menjabat tangan Zein, namun malah di acuhkan begitu saja, membuat Freya merasa malu dan tersenyum kikuk.
Aiden hanya bisa menghela nafasanya panjang, dia tidak suka istrinya di perlakukan seperti ini, namun dia juga tidak bisa menegur Zein yang memang mempunyai watak seperti itu.
Freya memandang ke arah Dara yang begitu manis, namun bergedik ngeri ketika membayangkan nasib Dara yang bisa hidup dengan pria seperti Zein.
"Bagaiaman Griffin ?" tanya Aiden to the point.
Zein mengedikan bahunya singkat, membuat Aiden menyeritkan keningnya bingung.
"Aku akan mengurusnya di saat umurnya sudah cukup di latih, bukan di saat umurnya baru seumur jagung," balas Zein acuh.
"Oke lah, make sure kamu jaga Griffin dengan benar ya dan tentang wanita itu-," tanyanya keceplosaan, ketika mendapatkan tatapan mata tajam dari Zein sebagai kode untuk tidak membahas itu sekarang.
"Ohh soory, maksud aku wanita yang bertetangga dengan kamu itu masih suka gangu Bunda kamu gak sih?" tanya bodoh. Dia sendiri bahkan tidak tau tetangga mana yang di maksud.
Sedangkan kini Zein memilih untuk menggengam tangan kekasihnya yang merasa canggung berhadapaan dengan keluarga Zein.
"Ayolah santai saja, kita nikmati malam ini," ajak Aiden pada Zein dan Dara.
Sedangkan Freya memilih untuk diam dan memeluk lengan suaminya, karna jujur dia sangat takut dengan Zein saat ini.
To Be Continue.
Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
__ADS_1
Terima kasih🙏🏻🙏🏻