
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐ฅฐ
Jangan sinder ๐๐
๐น Happy Reading ๐น
"Cukup yah Mah, kenapa sih sampai seperti harus seperti ini," seru Aiden frustasi.
Aiden merasa jika kali ini langkahnya sudah mati di tangan orang tuanya.
"Kamu tinggal pilih, ikut Mamah pulang atau kehilangan istrimu," seru Stella yang memberikan pilihan pada putranya.
Aiden masih terdiam memikirkan semua ini. Dia tidak menyangka bahwa Mamahnya akan melakukan hal sejauh ini.
Beruntungnya, dia masih bisa menghentikan langkah Stella yang pasti ingin membawa Freya ke Sanova Island. Pulau yang dia sendiri tidak tau dimana tempatnya berada.
Yang mengetahuinya hanya Arvan dan Stella saja, sedangkan yang lain hanya boleh ke sana tanpa tau nama tempatnya.
"Kamu masih tidak mau menjawab, oke, Mamah bawa dia sekarang," ancam Stella lagi, dengan mulai melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam ruangan Freya.
Aiden merasa terdesak dalam situasi ini, sejauh apapun kekuasaanya tetap saja Mamah dan Papahnya akan jauh lebih di atasnya. Sehingga dia sudah tidak ada jalan pilihan lagi selain menuruti Mamahnya.
"Oke,,oke,, aku ikutin maunya Mamah," balas Aiden pasrah.
Stella tersenyum menepuk pipi Aiden pelan, "Good boy," lirihnya pelan, dan kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan Freya, untuk melihat keadaan selanjutnya.
Di ikuti oleh Aiden yang juga ingin melihat keadaan istrinya.
"Mah, kapan istri Aiden akan sadar?" tanyanya yang tidak sabaran.
Arnon yang sedari tadi melihat Aiden yang merasakan ingin privasi, kini memberikan kode pada istrinya untuk keluar sejenak.
Stella yang mengerti itu, kini mengikuti langkah suaminya untuk keluar dan meningglkan Aiden bersama dengan Freya.
Sedangkan Aiden yang kini sedang menatap lekat wajah pucat istrinya, hanya bisa fokus tanpa memeperdulikan sekelilingnya, "Freya sayang, bangun! Ini aku di sini, apa kamu tidak merindukanku?" lirihnya pelan, sambil terus memebelai lembut wajah istrinya.
Hingga dia merasa letih dan akhirnya memilih untuk naik ke tempat tidur Freya dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. "Sayang, aku sangat merindukanmu," bisiknya lagi pelan di telinga Freya.
__ADS_1
Tanpa dia sadari sebenarnya sedari dirinya di pindahkan ke ruangan ini, Freya sudah tersadar dari pengaruh obat bius itu.
Sehingga dia bisa mendengar jelas segala pertengkaraan Mamah Stella dan juga Aiden yang tidak tau sedang membahas apa.
Freya membuka Matanya perlahan, hingga dia berhasil menatap ke arah wajah Aiden yang tengah tertidur di sampingnya.
"Aku mencintaimu, tapi aku juga membencimu, katakan padaku! Apa yang harus di lakukan sekarang? semakin hari kamu membuatku takut akan sikapmu, namun kenapa perasaanku tetap jatuh di kamu? Aku benci berada di situasi seperti ini," batinya terus memandang wajah tenang Aiden ketika tidur.
"Sudah puas memandangku sayang?" suara Aiden tiba-tiba mengejutkan Freya yang ketahuan menatapnya.
Aiden langsung membuka matanya perlahan hingga kedua mata mereka bertemu dengan pandangan yang sulit di artikan.
Cuuupp Aiden mencium bibir Freya dengan singkat, lalu tersenyum manis. Sedangkan Freya memilih mengalihkan pandanganya ke sisi sebelah, agar tidak menatap wajah Aiden.
"Freya sayang, kamu masih marah sama aku?" tanyanya dengan meletakn tanganya di atas perut Freya.
Dan menyadari kehamilanya, Freya langsung menepis tangan Aiden dan menjauhkanya dari atas perutnya, dia takut jika nanti anaknya gak bisa bernafas karna ulah Papahnya.
"Kenapa sih Sayang? aku hanya ingin memelukmu, jangan pernah melewati batasanmu Freya," tegas Aiden yang membuat Freya langsung menatapnya dengan tajam.
"Batasan? Apa yang kamu tau tentang batasan? Selain kamu yang hanya tau tentang bagaimana menyiksa istri kamu sendiri,"balas Freya dengan ketus.
Aiden hanya diam saja tanpa tau harus menjawab apa, karna dia sedang menahan rasa kesal di hatinya karna 1 orang pun tidak ada yang mengerti akan cintanya.
Dan setelah kejadian itu, kini Aiden terlihat selalu diam ketika berhadapan dengan Freya.
Keduanya saat ini sudah tinggal di Mansion Lesham sesuai dengan permintaan Stella dulu.
Saat ini terlihat Freya yang sedang duduk di kursi rodanya di dalam kamar, dengan Aiden yang tengah berlutut di bawahnya untuk menyuapi istrinya makan.
"Sayang ayo makan dulu ya," bujuknya pada Freya yang sangat malas makan beberapa hari ini.
Namun Freya langsung menepis kasar sendok yang di arahkan kepadanya, bahkan dia juga menepiskan piring yang berada di tangan Aiden hingga terjatuh pecah ke bawah.
"Freyyaa," bentak Aiden dengan menahan seluruh emosinya.
Aiden terlihat menatap Freya tajam begitu juga dengan Freya yang menatapnya dengan tatapan benci. "Salmaaahhh," teriaknya memanggil kepala pelayan di rumahnya.
__ADS_1
Dengan cepat dari arah belakang datanglah bi Salmah dengan rasa ketakutanya, "i,,iya Tuan," jawabnya dengan gugup.
"Bersihkan semua ini! Dan pastikan jika nanti istriku akan makan! Jika tidak maka kepalamu yang akan hilang," ancam Aiden yang membuat siapapun Gemetaran memdengarnya.
Cuup Aiden mencium singkat kening Freya untuk berpamitan, karna dia harus ke Kantor untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang dia tinggal beberapa minggu ini.
"Aku pergi dulu ya sayang, tapi aku akan cepat kembali," pamitnya pada Freya yang sama sekali tidak di tanggapin. Dan lalu dia segera melangkahkan kakinya pergi dari kamar itu.
Dan setelah melihat kepergiaan Aiden, Freya langsung mengalami muntah-muntah yang berlebih.
"Hueekkk,,hueekkk,,hueekkk," Freya bahkan sampai menangis merasakan perutnya yang tidak nyaman.
"Apakah nyonya butuh sesuatu?" tanya Salmah yang masih berada di dalam kamar itu.
Freya menggelengkan kepalanya pelan, sambil terus menahan gejolak di perutnya. "Mungkin aku hanya butuh minyak kayu putih bi, bisa tolong ambilkan, ada di atas meja itu bi," pintanya lembut pada bi Salmah.
"Ini Nyonya," ucap Bi Salmah memberikan minyak itu dengan sopan.
"Terima kasih bi," ucapnya tulus.
"Sama-sama Nyonya," balasnya.
"Sekarang nyonya istirahat saja dulu, nanti akan saya ambilkan makanan baru," seru Salmah lagi, sambil mendorong kursi roda Freya mendekat ke tempat tidur, lalu membantunya untuk berbaring.
"Baik Bi, terima kasih ya," ucapnya lagi.
"Sama-sama nyonya, ini memang tugas saya," jawabnya lagi, dan kini dia beralih pada makanan dan piring yang tadi pecah untuk segera di bersihkan.
Sedangkan Freya memilih untuk tidur agar perasaan pusing di kepalanya ini bisa hilang sejenak.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐ *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
__ADS_1
Terima kasih๐๐ป๐๐ป