
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐ฅฐ
Jangan sinder ๐๐
๐น Happy Reading ๐น
"Iya aku Marah, aku marah bukan sama kalian, tapi aku marah sama diri aku sendiri," balasnya dengan penuh penekanaan.
"Aku marah, karna aku tidak bisa menjaga Baby ke dua, aku marah karna kesalahaan ku dulu istriku sendiri tidak percaya padaku, arrrggghhhhh," Aiden sangat terlihat frustasi dengan kenyataan yang ada.
Freya dengan segera memeluk tubuh suaminya yang terlihat membeku, "maafkan aku sayang, lupakan semuanya ya," ucapnya pelan, lalu mengarahkan tangan Aiden menyentuh perutnya.
"Diakan ada di sini, baby akan tetap bersama kita dan tumbuh bersama," bisiknya lagi pelan penuh harapan.
Aiden semakin terpuruk mendengar kalimat istrinya, dia menggelengkan kepalanya menolak apa yang tengah di harapkan oleh istrinya.
"Sayang dengarkan aku baik-baik," ucapnya menangkupkan wajah istrinya dengan menggunakan kedua tanganya.
"Sayang, maafkan aku tapi baby kita harus di keluarkan, karna itu akan sangat berbaya sayang," lirih Aiden, pelan sontak membuat Freya terdiam membeku dengan otak yang masih sulit untuk mencernanya.
"Mah," suaranya pelan, memanggil mertuanya, lalu menjauhkan diri dari suaminya.
Dengan sigap Stella kembali merangkul menantunya yang terlihat ketakutan itu, "Mah, suamiku mau mengambil baby lagi, enggakan Mah, baby akan terus selalu di sini, di dalam sini, hiskk,,hiskk," tangisnya histeris, merasa ini hanyalah sebuah konspirasi saja.
"Freya dengarkan aku,"
__ADS_1
"Lepaskan aku, kamu pembunuh," teriak Freya, yang tidak ingin di sentuh suaminya.
"Oke fine, dengarin," bentak Aiden yang sudah merasa cukup saat ini.
"Aku mencintaimu Freya, bukan sebuah cinta palsu ataupun obsesi, saat ini jika memang baby ini bisa di pertahankan, maka aku akan melakukannya, of course karna dia baby ku, tapi kamu tau inilah pilihan terberatku, dan ajy tidak bisa melihat siapapun menyakitimy termasuk baby aku sendiri, aku berdiri di sini tanpa ingin kehilangan kamu-,"
"Kamu bilang tidak ingin kehilangan aku, tapi kamu selalu mengambil separuh hidupku, kamu selalu seperti itu tanpa pernah perduli apa yang aku ingin dan aku impikan Aiden," teriaknya dengan keras.
"Aarrrrgggghhhh,sakit," lagi-lagi rasa nyeri itu datang menghampirinya.
"Lihatkan, lihat bagaimana rasa sakit yang kamu alami, dan itu tidak akan pernah berhenti sampai baby sialan itu keluar," balas Aiden.
Freya yang mendengar suaminya mengatakan babynya adalah baby sialan, langsung menyeret kakinya mendekat ke arah Aiden yang masih terduduk di lantai.
Plaaaakkkkk Freya menampar Aiden dengan sangat keras, Stella dan Arnon hanya bisa diam tanpa mau ikut campur ke dalam masalah rumah tangga anak-anaknya.
"Sampai kamu mati iya," sahut Aiden.
Freya tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya, "bukankah kamu seorang dewa kematian, kamu selalu bisa mengambil kehidupan seseorang, dan harusnya sekarang kamu bisa memberikan kehidupan untuk babymu sendiri,"
"Apa kamu bodoh, aku hanyalah dewa kematian Freya, bukan seorang dewa kehidupan," balasnya tegas.
"Dan jika begitu jangan ambil kehidupan baby kita, karna kamu tidak bisa memberikanya kembali," teriak Freya lagi.
"Aku akan tetap memepertahankanya," tandasnya penuh keyakinan.
__ADS_1
"Freya sayang, ini bukan masalah bisa atau tidak ya, kehamilan ektopik itu paling sering terjadi di tubafalopi, itu gak akan bisa bertahan lama sayang. karna selain kamu nanti yang luar biasa merasakan sakit, juga kalau di biarkan tubanya bisa pecah," sahut Stella yang kali ini berada di pihak putranya.
Freya langsung menolehkan pandangnya ke arah Mamah mertuanya yang berada di belakang, "Freya bisa Mah, ini baby Freya, dan sampai kapanpun Freya akan mempertahankanya," yakin-nya lagi.
"Tidak bisa sayang, solusi terbaik kehamilanmu itu harus segera di akhiri, jika tuba nya sampai pecah resikonya pasti ke akan ke diri kamu sendiri," ucap Stella lagi, mencoba memeberikan pengertian pada menantunya.
Freya kembali menoleh pada suaminya dan memandangnya lekat, "jika kamu berani mengambil babyku lagi, maka seumur hidupku akan terus membencimu tanpa cinta sedikitpun," ancamnya, membuat Aiden semakin terpuruk dalam keadaan.
Di satu sisi dia memang menginginkan Baby itu mengisi hari-harinya bersama dengan istri tercinta, namun di sisi lain babynya akan melukai dan membahayakan nyawa istrinya.
Aiden benar-benar merasa dilema saat ini, tanpa tau keputusan apa yang akan dia ambil.
Mengakhiri tapi di benci atau melanjutkan tapi kehilangan.
To Be Continue.
Gengs, mampir ya ke cerita teman mimin, ini rekomendasi banget loh. Ceritanya udah mau tamat nih, jadi kalian bisa puas bacanya.
Mampir yukk sayang-sayang mimin ๐๐ฅฐ
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐ *
__ADS_1
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
Terima kasih๐๐ป๐๐ป