You Are My Wife Not My Enemy ( Kamu Adalah Istriku Bukan Musuhku )

You Are My Wife Not My Enemy ( Kamu Adalah Istriku Bukan Musuhku )
Chapter 65


__ADS_3

Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke 🥰


Jangan sinder 😘😘


🌹 Happy Reading 🌹


Di saat mereka sedang tertawa dan bahagia bersama lagi-lagi Freya merasakan sakit di perutnya, "aahhhhsshhhh,,aarrgghh," rintihnya namun mencoba untuk tetap tersenyum.


"Are you okay?" tanya Aiden yang terlihat sangat khawatir. Namun Freya membalasnya dengan sebuah senyuman yang mengatakan bahwa dia sedang baik-baik saja.


Aiden sebenarnya sudah merasa muak dengan semua ini, dia sangat tau jelas jika istrinya sedang menahan sakit yang teramat, namun dia mencoba untuk mengelabui orang-orang sekitarnya.


"Aku mau tidur lagi ya," pinta Freya.


"Huekkk,,hueeekkkk," lagi-lagi Freya merasakan mual yang teramat.


Aiden langsung memanggil seluruh dokter yang bekerja dengan menggunakan tombol panggila yang ada di atas Freya.


"Dear, jangan emosi ya please," mohon Freya lagi, dia tau jelas jika suaminya ini pasti akan melampiaskan emosinya ke para staf lain.


"Aku gak emosi sayang," jawab Aiden lembut.


Namun sesampainya para dokter dengan berlari masuk ke dalam ruangan Freya, wajah Aiden langsung berubah dingin, "kalian bekerja untuk apa jika selalu seperti ini," bentak Aiden penuh amarah.


"Cepat kalian periksa istriku! Lakukan apapun untuk menghentikaan rasa sakit dan juga mualnya itu," perintah Aiden dengan tegas.


"Baik Tuan," jawab dokter-dokter itu dengan hormat, dan segera melakukan tugasnya.


Freya menatap Aiden yang sedang berdiri jauh darinya, lalu tersenyum sebagai kode bahwa dia baik-baik saja, agar Aiden tidak terlalu mengkhawatirkanya.

__ADS_1


Sementara Freya sedang di periksa, Aiden berjalan melangkahkan kakinya keluar untuk mencari udara segar, lalu menghisap rokoknya untuk menghilangkan segala pikiran kerasnya.


Sebatang dua batang dia habiskan tanpa henti, dengan perasaan bersalah serta penyesalan yang berada di dalam dirinya semuanya harus dia hadapi demi istri tercintanya.


Walau sesulit apapun, tetap dialah yang harus berdiri tegak untuk menopang istrinya, agar tidak ada yang terjatuh ke dalam jurang mengerikan.


Aiden menikmati pemikiranya sendiri, bahkan dia sampai lupa jika Freya tidak ada yang menjaganya.


Sedangkan di sisi lain, terlihat beberapa orang yang tengah mengawasi pergerakan Aiden.


"Bos, dia sedang jauh dari istrinya," lapor salah satu pria terhadap bosnya melalui panggilan telpon.


"Bagus, cepat lakukan pekerjaanmu!" Perintah suara di panggilan tersebut.


"Baik bos,"


Aiden yang menyadari sedikit pergerakan, kini segera mematikan rokoknya dan kembali ke dalam ruangan istrinya.


Cuuuppp,,cccuuuppp, Aiden menciumi bahu istinya yang sepertinya sedang dalam pengaruh obat bius, "kenapa kamu lebih suka menyiksa diri sendiri di banding mendengarkan ku ? Apa susahnya untuk mematuhi ku demi kebaikkan kita semua," lirihnya pelan, berbicara pada Freya yang sedang tertidur.


Lalu tak lama kemudian, dia juga ikut menejamkan matanya karna merasa sangat lelah, dengan semua yang terjadi hari ini.


Namun di dalam tidurnya, Aiden mendapatkan dirinya sedang bediri di sebuah taman, dan memperhatikan sekelilingnya.


"Kenapa kamu membunuhku Papah?" suara anak kecil yang terdengar jelas di telinga Aiden namun tak ada wujudnya.


Aiden mengitari pandanganya menatap seluruh sudut taman namun tidak melihat siapa-siapa, "siapa kamu?" tanya Aiden tegas.


"Aku anak Papah, kenapa Papah tidak menginginkanku,,hiskk,,hiskk," tangis suara itu, semakin nyaring dan semakin mendekat ke arah Aiden.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki anak seperti mu, siapa kamu!" bentaknya menahan segala emosinya.


"Haahhahaha aku ingin hidup Papah, kenapa Papah membunuh ku," tawa serta tangis yang terdengar mengerikan dari suara itu, membuat Aiden ingin mencekiknya.


Aiden berusaha untuk mencari jalan keluar dari taman itu, dia terus berjalan hingga mendapatkan sebuah cahaya putih yang menghampirinya, namun di dalam cahaya itu dia melihat dua anak kecil yang saling bergandengan tangan lalu tersenyum padanya sambil melambaikan tanganya.


"Hey siapa kalian?" teriak Aiden mengejar sosok anak kecil itu, namun anak itu sudah hilang entah kemana.


Dan Aiden langsung terbangun dari tidurnya dengan kringat dingin yang membasahi tubuhnya.


"Hufftt,,hufftt, siapa mereka,?" gumamnya sambil terus mengingat mimpi tadi.


To Be Continue.


Gengs satu lagi rekomendasi dari Mimin ya, yuk mampir yuk meramaikan karya-karya baru adik-adik kita🥰🥰


Dukung karya-karya mereka yang menulis dengan jujur ya. Jangan yang plagiat🙏🏻🙏🏻


Bijaklah dalam memilih sebuah bacaan 🙏🏻



Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭

__ADS_1


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


__ADS_2