
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐ฅฐ
Jangan sinder ๐๐
๐น Happy Reading ๐น
Aiden terbangun dari tidurnya dengan rasa gelisah yang menjalar di hatinya.
"Siapa mereka," gumamnya dalam hati, lalu melirik ke arah jam tanganya yang sudah menunjukan waktu 5 pagi.
Lalu dia milirkan ke arah istrinya yang masih tertidur dengan nyenyak, cuuuppp,,cuuup "aku mencintaimu," bisiknya pada Freya yang masih tertidur.
Tak lama kemudian dia melihat Mamahnya yang sudah datang ke sini di pagi awal ini.
"Freya belum bangun sayang?" tanya Stella yang terlihat membawa bebrapa barang penting.
Aiden menggelengkan kepalanya pelan, lalu mendapatkan sebuah kecupan di kening dari Mamahnya. "Ini Mamah bawakan kamu makanan, Mamah tau dari semalam kamu belum makan," ucap Stella, sambil menyerahkan sebuah bungkus makanan. Namun Aiden menolaknya, dan menggeserkan makanan itu agar menjauh darinya.
"Di saat istri aku belum makan, bagaimana aku bisa makan Mah? Bagaimana bisa aku bersikap egois seperti itu?" tanyanya sinis pada Mamahnya.
Stella hanya mampu terdiam tanpa bisa membantah, "Mah, menurut Mamah apa yang saat ini harus Aiden lakukan ?" tanya Aiden dengan suara khawatirnya.
"Mamah juga tidak tau sayang, Mamah juga bingung, harusnya Freya tidak bersikap seperti ini, tapi entahlah, ini adalah pilihan kalian," balas Stella yang juga bingung untuk mengambil langkah.
Dan tak lama kemudian, terdengar suara Freya yang terbangun dari tidurnya setelah semalaman terpangaruh obat bius, "engghhh," lenguhanya mulai membuka matanya perlahan membiaskan cahaya masuk menerpanya.
"My Dear, Mamah," serunya melihat dua sosok yang tak asing baginya.
Freya mulai memperbaiki posisinya dengan setengah duduk bersandar di tubuh suaminya, "itu makanan siapa Mah?" tanya Freya melihat bungkus makanan yang masih utuh.
Stella tersenyum dan menatap singkat ke arah putranya, "dia dari kemarin pulang dari Itali belum ada makan sayang, Mamah takut jika dia keikutan sakit." balas Stella yang sangat merasa cemas melihat putranya seperti sedang menghukumnya dirinya sendiri.
Freya menoleh singkat ke arah Aiden, lalu tersenyum canggung pada Mamah mertuanya, "maafkan Freya ya Mah, karna Freya sakit, Aiden juga jadi ikut buat mamah cemas," sahut Freya.
Kemudian dia mengambil bungkus makanan itu dan menoleh ke arah Aiden, "aku suapin ya," pintanya agar suaminya ini mau makan.
__ADS_1
Aiden menggelengkan kepalanya, lalu mengambil alih sendok yang di pegang istrinya, "aku makan jika kamu juga makan," serunya pelan.
Freya terlihat ragu ketika mendapatkan sendok yang dia suapkan ke arahnya, dan dengan perlahan dia mulai makan dari suapan suaminya, "enak sayang?" tanya Aiden ketika Freya sudah memakan nasinya.
"Enak," jawabnya dengan singkat, kemudian dia mengambil paksa sendok yang berada di tangan suaminya, "sekarang kamu makan ya," pinta Freya dengan lembut.
Aiden tersenyum lalu mulai menikmati suapan demi suapaan dari istrinya dengan mereka yang saling bergantian.
Namun tiba saja di tengah susana hangat mereka, Freya kembali merasakan mual di perutanya, "hueeekkk,,hueeekkkk,,hueeekkk," dia memuntahkan semua makanan yang tadi dia makan, membuat Aiden kembali merasakan frustasi.
"Jesus, apa ini kenapa seperti ini terus," batinya yang tak sanggup melihat istrinya seperti ini.
Freya yang dulunya cantik, berisi dan kencang, kali ini berubah menjadi seperti wanita tua yang menyeramkan, dengan wajah yang penuh lekukan karna kurang tidur dan vitamin, wajah yang sangat pucat bagaikan mayat hidup, tulang pipi yang terlihat jelas, tubuh yang kurus bagai tidak bergizi, Aiden merasa sangat mengerikan memandang bayi yang di kandung istrinya.
Bagaimana bisa sebuah janin mengambil seluruh kehidupan istrinya seperti ini, jika saja dia bisa membunuh kembali, akan di pastikan dia akan membunuh janin itu.
Stella sigap langsung membantu Freya dengan memberikan sebuah penanganan lebih dulu, sedangkan Aiden terlihat melangkahkan kakinya mundur untuk pergi entah kemana.
Freya yang menyadari kepergian suaminya kini hanya bisa menundukkan kepalanya, "maafkan Freya Mah," lirihnya pelan pada Stella.
Sedangkan Aiden, kini terlihat tengah melajukan mobilnya ke sebuah Danau di pinggiran kota, dengan kecepatan tinggi, di karenakan masih terlalu pagi, maka dari itu jalanan masih terlihat sepi.
Baru kali ini dia merasakan sebuah sakit dan rasa takut kehilangan, baru kalo ini dia merasakan sedih atas sikap yang tidak adil menurunya.
Lalu Aiden menolehkan pandanganya menatap sebuah Gereja yang berada di belakangnya, dan dengan yakin dia melangkahkan kakinya masuk, sudah begitu lama dia melupakan hal ini.
Dia sangat ingat kapan terakhir kali dia memanggil Tuhan serta menyembah kepadanya. "Terakhir aku ke sini di saat usiaku masih 8 tahun, dan sekarang aku sudah 28 tahun yang menandakan aku sudah 20 tahun tidak mengakuinya." gumam Aiden, terus melangkahkan kakinya masuk.
Bruuuggghhh Aiden menjatuhkan dirinya berlutut di dean sebuah patung salib di hadapanya.
"Bapak yang mulia, aku datang menundukan kepala ku di hadapanmu. Tuhan, kamu mengirimkan bayi kepada seorang ayah yang sangat tidak berguna seperti ku, maka aku memohon kepadamu untuk bersimpatilah kepadanya, bawalah dia ke dunia yang paling indah yang berada disisimu, saya tidak dapat melindungi bayi ini, maaf kan lah aku Tuhan, aku hanya tidak mampu melihatnya terus menerus menyakiti Istriku, ambil lah dia dan berikan dia sebuah perlindung, amennn ." ujarnya sambil meneteskan air matanya menahan kesesakan di dadanya.
Dan selesainya dia berdoa, Aiden langsung segera melangkahkan kakinya kembali ke rumah sakit, karna dia sedang merasakan hal buruk tengah terjadi.
"Hufftt semoga saja tidak terjadi apapun," harapnya dalam hati.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit. Aiden terkejut melihat Mamahnya yang menangis histeris memanggil nama Freya.
"Ada apa Mah?" tanya Aiden dengan rasa yang bergemuruh di hatinya.
"Hisskk,, Aiden Freya hilang, dia gak ada di dalam kamarnya," tangis Stella merasakan takut jika anaknya ini akan kembali menjadi seorang Malaikat Maut.
"Apaaaa, kenapa bisa?" bentak Aiden merasa emosi yang memuncak.
"Tadi Mamah hanya pergi ke toilet saja sebentar, tapi ketika Mamah keluar Freya sudah tidak ada." lapornya pada Aiden.
"Aaarrggghhhh bruuuggghhhh, bajing**an, siapa yang berani membangunkan jiwa kematianku," gumamnya pelan dengan nafas yang sudah tidak beraturan.
Lalu dia terlihat mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang, "hallo ZEIN, datang segera ke rumah sakit sekarang!!!" Perintahnya pada sang Dewa Kematian paling menakutkan.
To Be Continue.
Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐ *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
Pemesanan buku Griffin bisa melakukan pengiriman ke seluruh negara ya !! Harga 120 ribu, bukan 90 ribu.
Yang 90 itu buku Lucas ya, buku Griffin mahal karna jumlah halamanya yang lumayan.
Dari awal Saya sudah menginformasikan karya Griffin akan terbit cetak ya, bukan di sini.
So yang mau order dan nabung dulu silahkan ya๐๐ป
__ADS_1
Po akan tutup pada tanggal 19 Agustus, dan pembayaran akan hanya di lakukan Via Transfer.
Terima kasih ๐๐ป๐๐ป