
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐ฅฐ
Jangan sinder ๐๐
๐น Happy Reading ๐น
Freya yang baru saja selesai mengenakan bajunya, lalu mencari Aiden yang masih sibuk membanting-banting barang di dapur hanya acuh tidak memperdulikan.
Tanggg,,,prraaanggg,,braaakkk,ketebukk, dan berbagai macam bunyi lainya yang terdengar dari arah dapur.
"Hancurkan aja My Dear, kan rusak kamu beli lagi," teriak Freya yang semakin memancing kemarahan Aiden.
Dia merasa senang karna saat ini dia bisa bebas untuk keliling apartemen, dia bisa ke balkon, dia bisa ke ruang tamu, dia bisa nonton dan masih banyak lagi, sehingga dia tidak memerdulikan kemarahan suaminya.
Aiden yang merasa di abaikan kini capek sendiri, sudah begitu banyaknya barang yang dia banting namun Freya masih tidak menganggapnya dan meminta maaf ataupun sekedar membujuknya.
Lalu dia melangkah berjalan melewati Freya yang sedang asik nonton Tv dengan cemilan di tanganya, "aku marah," serunya sambil melangkah masuk ke kamar.
Sedangkan Freya yang melihatnya kini mengikuti arah langkah Aiden sambil mengunyah makananya.
Braaaakkkk, Aiden kembali membanting pintu kamar dengan sangat kencang.
"Aku baru tau loh, kalo orang marah itu ngomong," gumam Freya, dan kembali menonton filmnya.
Setelah beberap lama, akhirnya Aiden keluar dari kamar lagi dengan hanya menggunakan Boxer tanpa menggunakan baju, sepertinya dia habis mandi untuk meredupkan api yang membara di tubuhnya.
"Freya, apa kamu sudah menyiapkan barang untuk kita berangkat besok?" Tanya Aiden, dengan suara yang sedikit berat.
__ADS_1
Freya menoleh pada Aiden yang kini telah duduk di sebelahnya sambil memaikan Ipad untuk memeriksa pekerjaanya.
"Belum nanti saja," balas Freya, yang terus fokus pada layar Tv.
Mendengar jawaban itu, Aiden kembali diam dan terus fokus pada pekerjaanya, sedangkan Freya yang merasa lelah duduk sedari tadi kini beralih baring dengan menggunakan paha Aiden sebagai bantalnya.
Melihat Freya yang berada di pahanya, salah satu tangan Aiden kini mengusap lembut pipi istrinya. Cccuuup Freya mencium telapak tangan Aiden dan beralih menjadikan ganjalan supaya kepalnya lebih tinggi lagi.
"Besok kita mau kemana?" tanya Freya yang sedari tadi penasaraan dengan arah tujuan mereka besok.
Aiden menatap Freya dengan tersenyum tipis, "Argeles sur Mer , salah satu pantai terindah di Prancis, rekomendasi dari Briell sih," jawabnya santai.
Freya menyeritkan keningnya bingung, pasalnya dia tidak mengetahui jika suaminya itu memiliki teman wanita.
"Briell itu siapa?" Tanya Freya memberanikan diri untuk mengetahui tentang suaminya.
"Briell itu adalah istri sepupuku, dulu kami teman sepermainan, but setelah dia menikah dengan sepupuku, jadi udah gak dekat sih, hanya masih komunikasi," jawabnya bohong, dia tidak ingin mengatakan bahwa Briell adalah wanita yang dia cintai walaupun itu dulu.
Namun Freya teringat akan satu hal, tapi dia takut untuk menanyakan tentang masalah itu, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang alasan Aiden yang sebenarnya atas pembantaianya orang tuanya.
"My dear, jam berapa besok kita akan berangkat?" Tanya Freya lagi, untuk memecah suasana canggung di antara mereka.
Karna Aiden tidak akan bicara jika dirinya tidak bertanya, itu yang membuatnya sulit untuk beradaptasi dengan sifat suaminya.
"Bebas sayang, kamu gak perlu takut kesiangan, karna kita bukan menunggu pesawat, melainkan pesawat yang akan menunggu kita," balas Aiden yang semakin membuat Freya menelan salivanya kasar.
"Ini salahnya aku yang tidak seberapa tau tentang dunia bisnis, sehingga aku tidak tau seberapa kaya suamiku, yang aku tau hanyalah wajahnya itu adalah wajah pembunuh orang tuaku," batinya mengalihkan pandanganya kembali ke TV.
__ADS_1
Karna sejujurnya jika dia menatap wajah Aiden, maka dia akan selalu mengingat kejadian dimana pria yang sekarang sudah menjadi suaminya ini merupakan pembunuh dari keluaraganya.
Aiden melirik sedikit menatap wajah istrinya, dia tau apa yang sedang di pikirkan oleh Freya saat ini.
"Apa kah kamu masih mengingat kejadian itu?" Tanya Aiden yang pasti istrinya itu tau apa yang sedang di maksud olehnya.
Tanpa sadar Freya meneteskan air matanya, mengingat kejadian dimana jeritan orang tua serta kakak laki-lakinya terdengar untuk meminta ampun pada sosok suaminya.
"Apa kamu pikir jika seseorang yang melihat semua keluarga kecilnya di bantai habis oleh suaminya sendiri dia akan bisa lupa?" Jawab Freya tanpa sedikitpun memandang wajah Aiden.
"Maafkan aku sayang, aku tau aku salah tapi-," ucapnya terhenti, ketika melihat Freya yang bangkit dari tidurnya.
"Jangan bahas masalah ini ya, karna di bahaspun juga gak ada gunanya,"balas Freya berani dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Dia masuk bukan karna tidak menghargai Aiden, hanya saja dia sudah tidak kuat lagi menahan air matanya yang nyaris terjatuh karna menahan sakit melihat suaminya yang sama sekali tidak terlihat menyesal sama sekali.
Mungkin dia memang meminta maaf, tapi dari tatapan matanya, Freya bisa tau jika Aiden sama sekali tidak menyesal, yang dia ingin hanya dirinya, hanya cinta Freya tanpa mengingkan yang lainya, dan itu semakin membuat anya semakin jatuh ke dalam rasa bersalah karna sudah menikahi pembunuh orang tuanya.
"Mah, Pah, kak, maafin Freya karna belum bisa membalaskan kematian kalian, Hisskk,,hissk, jemput Freya boleh tidak? Sudah gak bisa tahan lagi dengan sikapnya," tangis Freya yang menenggelamkan kepalanya di bantal, agar suarnya tidak terdengar oleh Aiden yang masih duduk di luar.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐ *
__ADS_1
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
Terima kasih๐๐ป๐๐ป