
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐ฅฐ
Jangan sinder ๐๐
๐น Happy Reading ๐น
"Bisakah Mamah membuatnya Lumpuh selamanyanya?" Tanya pelan, namun cukup membuat siapapun kaget mendengarnya.
"Apa," sahut Stella yang masih belum memahami kata-kata putranya ini.
Aiden mengalihkan pandanganya menatap wajah istrinya yang masih menutup matanya, lalu dia mengelus lembut pipi merah Freya dan mengecupnya.
"Aiden mau Mamah membuatnya lumpuh selamanya, Aiden mau dia hidup dengan bergantung kepadaku, Aiden mau dia selamanya tidak bisa bediri dan selalu membutuhkan ku sebagai penopangnya,Aiden mau-,"
Plaaakkkk, satu tamparan berhasil mendarat di pipinya sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Aiden memegangi pipinya yang terasa panas karna tamparan yang di berikan Mamahnya itu.
Sedangkan para staff yang lain, kini memilih untuk membawa pasien menjauh dan pergi ke ruang rawat terlebih dahulu.
Setelah Stella memastikan semuanya aman, kini dirinya kembali menatap ke arah Aiden dengan tajam. "Kamu pikir Mamah terlalu bodoh untuk mengetahui semua perbuatan kamu? Apa kamu pikir Mamah tidak tau jika kamu sengaja mengugurkan baby kamu sendiri Aiden," teriak Stella yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Mah, Sepertinya Aiden tidak perlu mengatakan lagi apa alasanya Aiden melakukan semua ini," balasnya dengam tegas.
Bahkan dia tidak menghormati lagi posisi Stella sebagai orang tuanya. Yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya agar istrinya ini terus bersama denganya.
Stella memijat keningnya pusing, dia sudah tidak tau mau ngomong apa lagi pada putranya yang paling keras kepala ini.
"Sudah Aiden, Mamah tidak mau lagi berdebat dengan mu. Intinya sekarang kalian berdua tinggal di rumah Mamah! Dan keputusan Mamah saat ini adalah yang paling mutlak." Tegas Stella yang kali ini sudah mengeluarkan taringnya.
__ADS_1
Aiden mengusap wajahnya kasar, dia tidak bisa menerima keputusaan dari Mamahnya, "enggak bisa Mah, Aiden gak mau! Ini rumah tangga Aiden dan Mamah gak bisa ikut campur ke dalamnya," jawab Aiden.
Dia tidak mau sampai Mamahnya atau siapapun akan masuk campur ke dalam urusan rumah tangganya.
"Jika Mamah gak ikut campur, apa kamu bisa menghargai arti sebuah pernikahaan ini," bentak Stella.
"Tentu saja bisa, aku mencintainya dan dia mencintaiku-,"
"Cinta," sahut Stella dengan senyum sinisnya.
"Apa yang kamu tau soal Cinta Aiden, kamu bahkan tidak bisa menghargai istri kamu sendiri," balas Stella lebih galak dari apapun.
"Mamah tidak tau apa-apa soal hubungan kami Mah-,"
"Jelas Mamah tau, makanya Mamah mau ikut campur Aiden," teriak Stella dengan nafas yang menderu.
Arnon yang mendapatkan laporan dari salah satu staff rumah sakit, kini langsung memasuki ruangan itu.
"Kalian berdua ini apa-apain sih? Ini tuh ruanh publik! Tau etika tidak sih kalian berdua," bentak Arnon yang sudah cukup menahan rasa sabar selama ini.
Stella yang melihat kedatangan suaminya kini langsung menyilangkan tanganya di depan dada. "Tanya sama anak kamu tuh, kemana rasa hormatnya terhadap orang tua." sahutnya menunjuk ke arah Aiden.
"Cukup ya Aiden, Papah tidak tau apa yang sebenarnya kamu inginkan, dan Mamah juga gak bisa terlalu kasar seperti itu bicara sama anaknya," ucap Arnon sebagai penengah antara Istri dan anaknya ini.
Stella merasa tidak terima dengan suaminya yang selalu membela Aiden terus menerus seperti ini, "kamu jadi orang tua yang bijak ya Arnon Giovani! Jangan terlalu membela Aiden Giovani! Ingat keputusan Auristella yang paling mutlak di sini," tegasnya sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.
Lalu dengan segera dia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dua Giovani ini. "Ingat kamu gak mau tinggal di rumah Mamah! Maka jangan harap bertemu lagi dengan Freya!" Keputusaanya final. Dan langsung pergi tanpa memperdulikan suami serta anaknya.
Arnon kini hanya pusing memijat keningnya, "padahal maksudku bukan bela anaknya, tapi dia kan belum dengar apa kelanjutanya," batinya merasa frustasi setelah ini.
__ADS_1
"Aiden harusnya kamu itu-,"
Bugggghhhh, Aiden meninju dinding dengan sangat keras hingga dinding itu terlihat retak di sekitarnya.
Terlihat darah yang mengalir dari mata-mata tanganya, Arnon menatapnya dengan rasa tidak percaya.
Dan tanpa mengatakan apapun, Aiden juga melangkahkan kakinya keluar, sedangkan Arnon masih terpaku mengingat masa lalu, dimana kala itu di saat dia marah pasti juga akan melakukan hal yang sama dengan di lakuakan oleh Aiden tadi.
"Ahh aku gak bisa seperti ini terus, Aiden harus di kendalikan," batin Arnon lagi.
Lalu dia mengirimkan pesan pada istrinya untuk menjalakan rencananya.
"Aiden maaf, tapi ini harus di lakukan," gumamnya menatap kosong ke depan.
Setelah itu Arnon langsung menyusul Stella yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan rahasia.
Namun siapa sangka, ternyata pergerakan Stella sudah terbaca oleh Aiden yang kali ini menghalangi langkah Mamahnya.
"Cukup yah Mah, kenapa sih sampai seperti harus seperti ini," seru Aiden frustasi.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐ *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
__ADS_1