You Are My Wife Not My Enemy ( Kamu Adalah Istriku Bukan Musuhku )

You Are My Wife Not My Enemy ( Kamu Adalah Istriku Bukan Musuhku )
Chapter 25


__ADS_3

Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐Ÿฅฐ


Jangan sinder ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


๐ŸŒน Happy Reading ๐ŸŒน


Saat ini Freya baru saja sadarkan diri dan terdiam menatap ke sekelilingnya. Dia mengingat kejadian apa yang terakhir dia alami.


Dan tak lama kemudian dia melihat Aiden yang memasuki ruanganya dengan tatapan penuh amarah.


"Are you okay Honey?" tanya Aiden ketika melihat Freya yang sudah sadar.


"I don't know, mungkin tidak seharusnya kamu bertanya sama aku tentang itu, karna kamu pasti tau jelas bagaimana keadaan aku," jawabnya sinis.


Aiden menatap Freya dengan serius, sepertinya istrinya ini sudah mulai berani menentangnya, "sayang kenapa kamu menjawabku seperti itu, jangan pancing kemarahanku ya," balas Aiden yang tidak menyukai jika Freya bicara kasar denganya.


"I angry with you Aiden, I'am so angry, kamu hancurkan semuanya, kamu marah karna ada baby di dalam perutku padahal kamu jelas tau kalo itu adalah anak kita," ungkapnya benar-benar marah dengan apa yang telah di lakukan oleh Aiden yang telah tega merenggut kehidupan anaknya sendiri.


"Freya stop!, kenapa kita harus membahas hal ini lagi," balas Aiden terlihat malas.


"Tentu saja aku membalasnya Aiden, tidak kah kamu merasa bersalah dengan apa yang telah kamu lakukan terhadap bayi kita," cerca Freya lagi yang sudah tidak tau harus berkata apa.


"Kamu marah dengan baby, tapi baby tidak pernah berbuat salah Aiden, kalo kamu melakukan s*e*x jelas kamu akan mendaptkan baby, lalu apa salahnya, kenapa kamu menyakiti kami dan kenapa kamu membunuhnya," teriak Freya dengan tangis yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


"Ini yang buat aku tidak menyukainya Freya, kamu marah sama aku, kamu lebih memilihnya dari pada aku, kamu-,"

__ADS_1


"Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku harus bahagia? Apa aku harus berterima kasih karna kamu sudah membunuh bayi kita ha?" Sahut Freya.


"Aku marah karna kamu sudah mengambil seluruh apa yang aku punya, keluarga, kehidupan, masa depan bahkan Baby juga kamu renggut dariku Aiden, kamu tidak mencintaku, kamu tidak menganggapku istrimu, bagimu aku hanyalah sebuah budak nafsumu saja, dan selamanya akan seperti itu." Ungkapanya meluapkan semua segala isi hatinya saat ini.


"Aku tidak ingin kamu hidup dengan siapapun yang bisa membuatmu memilih ataupun membagi kasih sayangmu pada mereka, aku hanya mau kamu memilih ku! Aku tidak mau kamu membaginya-"


"Walaupun dengan anak kamu sendiri,-"


"Iya walaupun itu anak aku sendiri, aku tidak akan pernah membiarkan satu manusiapun yang bisa mengambil perhatianmu dariku Freya tidak akan," tegasnya, lalu melangkahkan kakinya keluar.


Aiden merasa perlu menenangkan pikiranya terlebih dahulu, dia takut jika nanti dia akan kembali menyiksa Freya.


Sedangkan di dalam ruangan Freya hanya menangis dengan menatap tajam ke arah pintu yang tadi di lewati oleh Aiden.


Hingga tiba-tiba muncul seorang suster yang ingin memeriksnya, Sontak saja Freya mendapatkan sebuah ide yang bisa membantunya untuk pergi dari gengaman Aiden.


Dengan berusaha mengumpulkan tenangnya serta menahan sakit dia apom serta perutnya, Freya bangkit dan mengganti pakaianya dengan pakaian suster itu.


Setelah dia rasa cukup, tak lupa dia memakai masker agar menutupi wajahnya, Freya langsung berjalan keluar dari ruanganya sebelum Aiden atau anak buahnya kembali datang.


Ketika dirinya sudah sampai di luar dengan mendorong kereta obat-obatan yang di bawa suster tadi, Freya berhasil meloloskan diri tanpa di curigain sedikipun oleh pengawal-pengawal yang berjaga di luar pintu.


Merasa cukup jauh dia berjalan, Freya meletakan kereta obat itu ke sembarangan arah, lalu berlari keluar rumah sakit mencari sebuah jalan sempit, karna dia tau jika dia menaiki taxi di depan rumah sakit, sudah sangat jelas jika Aiden bisa melacaknya.


Dengan jantung yang berpacu dengan sangat kencang, serta rasa sakit di perut dan apomnya yang teramat, Freya tetap berusaha agar usahanya kabur tidak sia-sia.

__ADS_1


Hingga di saat dirinya sudah sampai di ujung jalan yang dia yakini tidak akan ada CCTV, barulah dia menyetopkan taxi dan pergi ke satu alamat yang dia yakini bisa menyelamatkanya.


Sedangkan di sisi lain, Aiden yang baru saja masuk ingin melihat keadaan istrinya, kini di kejutkan dengan melihat suster yang tidak menggunakan pakaian, serta darah yang mengalir dari kepalanya, membuat Aiden menarik hembuskan nafasnya dengan cepat menahan seluruh amarah yang sudah meledak.


Doorrrr,,,ddoooorrr,,doooorr,ddooorrr Aiden menembak kepala pengawalnya satu persatu karna di anggap tidak becus dlaam menjalankan tugasnya. bahakan dia tidak perduli dengan banyaknya mata yang memandang perbuatanya saat ini.


"Jika sampai masalah ini bocor keluar sana, siapapun kalian akan ku pastikan kematian kalian akan lebih parah dari pada ini, dooorr,,dooor," tegasnya dan lagi melepaskan pelurunya menembak dua bola mata pengunjung yang merekam aksinya.


Aiden benar-benar marah saat ini, dia sudah berada di tingkat atas sehingga di tidak bisa membedakan lagi mana yang pantas dan tidak.


Aiden menatap ke arah Hitto asistenya yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka saat ini. "Urus semua mayat mereka! Dan pulangkan pada keluarga mereka, jangan lupa kasihkan pesangon kematian mereka masing-masing 2M," perintahnya pada Hitto.


"Baik Bos," jawab Hitto dengan patuh.


Melihat Hitto yang menjalankan tugasnya, Aiden terlihat memainkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Hallo," sahut seseorang di ujung sana.


"Zein, aku membutuhkanmu," ucapnya dengan singkat namun sudah bisa di mengerti oleh si penerima panggilan.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐Ÿ˜Ž


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐Ÿ˜ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


Follow IG Author @Andrieta_Rendra


__ADS_2