
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke ๐ฅฐ
Jangan sinder ๐๐
๐น Happy Reading ๐น
Freya berlari sekencang mungkin, sampai dirinya benar-benar lelah dan akhirnya terjatuh berlutut.
Dalam diam dia menatap ke arah tanganya yang terlihat banyak darah suaminya yang masih menempel di sana.
Freya memperhatikan darah itu hingga akhirnya dia tertawa sendiri, "hahahah, lihatkan Aiden, lihatkan My Dear, aku berhasil,aku berhasil membunuhmu, kamu selalu bilang aku istrimu, aku istrimu, dan sekarang aku tunjukan sama kamu kalo aku adalah musuhmu, hahaha Aiden," serunya dengan senyum bahagia, namun terlihat air mata yang keluar dari sudut matanya.
Dia merasa bingung saat ini, dia tidak tau mau bahagia atau malah sakit hati, jujur sebenarnya dia sedikit merasa tidak tega melihat Aiden yang terbaring lemah seperti itu.
Namun dia menepis prasaan itu, dan mencoba meyakinkan hatinya jika ini memanglah pantas untuk pria itu.
Setelah puas meluapkan emosinya, Freya kembali berjalan mencari sebuah bantuan atau apapun yang bisa membuatnya bertahan hidup ataupun tempat persembunyian sementara.
Dan tak lupa dia mencuci tanganya terlebih dahulu di air pantai, agar darah dari Aiden bisa hilang ikut dengan arusnya.
"Selamat jalan Aiden, terima kasih karna sudah mencintaiku, tapi bersamamu adalah sebuah kesalahan, tidak akan pernah bisa seorang musuh menjadikan ku istrinya, itu tidak mungkin," batinya menatap ke langit, mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi.
Dia berlari menyusuri jalan, hingga dia merasa kepalanya pusing, Freya masih berusaha untuk menjaga keseimbanganya, namun di tengah-tengah perjalanan dia terjatuh pingsan, hingga terlihat ada seseorang yang menemukanya dan membantunya.
Sedangkan di sisi lain, terlihat Aiden yang baru saja tiba di rumah sakit untuk mendapatkan sebuah pertolongan.
Tak lupa para pengawal tadi menghubungi Orang tua Aiden untuk segera datang ke sini.
Saat ini Aiden tengah mendapatkan sebuah tindakan di salah satu rumah sakit di Paris.
"Dokter, keadaan pasien sangat kristis, dia mengeluarkan banyak darah dok," lapor salah satu suster.
Dokter Teddy langsung menganggukan kepalanya perlahan pertanda dia mengerti, "kita harus cepat melakukan transfusi, suster cepat kamu hubungi bank blood, dan minta 2 hingga 3 kantong darinya," pinta Teddy dengan lembut.
"Baik dok," jawab salah satu suster yang membantunya.
Dan terlihat lagi Teddy dan para staff lainya terus berusaha melakukan operasi pada Aiden untuk mengeluarkan peluru itu.
__ADS_1
"Dokter, jantungnya mulai melemah dok," sahut salah satu suster lagi yang terus memperhatikan detail layar yang menampilkan detakan Pasien.
"Pastikan detakanya harus tetap stabil," perintah Teddy lagi.
Mereka terus melakukan upaya penyelamatan, namun sepertinya tubuh pasien mulai tidak merespon mereka.
Dan tak lama kemudian terdengar suara yang membuat mereka semua sontak terdiam.
Tiiiiiiiiiiiiiitttttttttt.
Suara manitor yang sudah tidak mendapatkan irama jantung itu.
"Dok," panggil suster lagi memperlihatkan garis lurus di monitor.
"Siapkan automated external defibrillator sekarang !" Perintah Teddy.
"Defibrillator siap Dok," jawab suster itu .
"Siapkan 120J!" Pinta Teddy.
"120J ," Siap dok.
"Satu...dua....deppp.."Alat itu mulai mengeluarkan kejutan elektrodanya ,namun tidak ada reaksi apapun dari Jantung Aiden.
"Lagi 150J." Perintah Teddy lagi.
"150J siap Dok," balas suster
"Satu..dua..deppp ," lagi -lagi kejutan elektroda itu berkerja namun masih belum menghasilkan irama apapun.
Teddy mulai merasa Frustasi karna tubuh Aiden sama sekali tidak meresponnya.
"Sekali lagi sus 200J " Pinta Teddy lagi untuk yang terakhir kali.
"Baik Dok,200J siap Dok."
"Satu..dua...deepp," alat itu mulai mengeluarkan kejutanya lagi namun sama sekali tidak memghasilkan.
__ADS_1
Teddy langsung melirik ke arah tanganya, "17.18, waktu kematian telah di deteksi," ucapnya pelan, namun berhasil mengehentikan segala perjuangan mereka.
"Terima kasih para staf yang telah berjuang, mari kita selesaikan operasi ini sebelum memberikannya kepada keluarganya," seru Teddy lagi, dengan suara yang parau.
"Baik dok," jawab beberapa staf yang ada.
Mereka terus melanjutkan operasi meskipun jantung pasien sudah tidak berdetak lagi.
Di sisi lain, Stella dan Arnon terlihat duduk santai di ruang tamu mereka sambil mengetjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Namun tiba-tiba saja, foto keluarga mereka jatuh dan pecah.
Prangggg, bingkai foto besar itu jatuh dan hancur tak tersisa.
"Pah," lirih Stella yang tiba-tiba saja merasa tidak enak.
Arnon mencoba bangkit dan melihat bingkai itu.
Dan di saat bersamaan dirinya mendapatkan sebuah panggilan yang nyaris membuatnya pingsan.
"Aaaapppppaa," teriak Stella yang sontak membuat Arnon menoleh kepadanya.
"Enggak, ini gak mungkin anak ku pasti kuat," balasnya dengan mulai menangis histeris.
Melihat istrinya yang seperti itu membuat Arnon langsung cepat memeluknya, "ada apa sayang, kenapa kamu menjerit seperti ini?" tanya Arnon bingung.
"Aiden di tembak oleh istrinya sendiri, dan sekarang keadaanya kritis, kita harus segera ke sana," jawabnya langsung berlari menuju bandara miliknya untuk segeranya terbang ke paris.
Arnon mengikuti langkah istrinya, untuk melihat keadaan putranya di sana, dia juga merasa takut dengan keadaan anaknya yang seperti itu.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ๐ญ*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐ *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
__ADS_1
Terima kasih๐๐ป๐๐ป