You Are My Wife Not My Enemy ( Kamu Adalah Istriku Bukan Musuhku )

You Are My Wife Not My Enemy ( Kamu Adalah Istriku Bukan Musuhku )
Chapter 95


__ADS_3

Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke 🥰


Jangan sinder 😘😘


🌹 Happy Reading 🌹


Di saat makan malam, kini gantian Freya yang tertidur dan tidak mau bangun, membuat Aiden menikmati makan malamnya hanya bersama keluarga besarnya saja.


"Jadi kalian besok mau honeymoon lagi ke Bali?" tanya Stella, sambil memotong-motong makanan suaminya. Memang kebiasaan sedari awal pacaran sampai saat ini, Arnon tidak bisa memotong dan menyiapkan makananya sendiri, namun itu di maklumi oleh Stella yang sudah terbiasa dengan sikap Arnon seperti itu.


"Stella, kamu sama Arnon sudah 36 tahun, tapi kenapa masih melakukan hal yang sama seperti itu ? Tidak bisa kah dia mengurus makananya sendiri ?" cerca Alex yang selalu protes dengan sikap kekanak-kanakaan putranya ini.


Stella tersenyum menggelengkan kepalanya, terlebih melihat Aiden yang sepertinya juga mengikuti kegiatan Papahnya, "Aiden stop main game ya! Makan dulu," tegas Stella, pada putranya yang selalu saja seperti itu.


Hanya saja setiap ada Freya dia bisa menjaga sikap dan berpura-pura tenang, tetapi jika tidak ada Freya, dia akan sama seperti Arnon yang hanya bisa menggunakan tangan Stella untuk menyiapkan segalanya, dan itu benar-benar membuat Stella memikul banyak beban.


Beruntungnya Airein tidak seperti itu, putrinya satu itu memang sangat mandiri dalam melakukan apapun, termasuk hal rumah tangganya yang sama sekali di kunci rapat olehnya.


Dari awal Airein berhubungan dengan Roger, memanglah dari pihak keluarga tidak ada yang membantu ataupun mendukung, bahkan pernikhaan keduanya saja hasil dari tabungan mereka. Tidak ada sangkut paut dengan kedudukannya.


"Mah Aiden bisa melakukan hal itu sendiri," tolaknya mengambil piring yang sedang di isi oleh Mamahnya.


"Kamu main game terus, jadi Mamah ambilkan makanan kamu," sahut Stella yang tanggung mengisi piring itu.

__ADS_1


"Oh iya, Aiden, Wekong ingin bicara hal penting sama kamu, dan ini bukan di sengaja atau seperti apa, tapi Wekong butuh kamu pindah ke London dan mengurus perusahaan di sana, mungkin selama 5 tahunan ini," ungkap Alex, sontak membuat Aiden meletakan peralataan makanya.


"Aku tidak bisa wekong," jawabnya mutlak, sambil menatap tajam ke arah kakeknya.


"kenapa tidak bisa ? Bukankah semua sama?" tanya Alex bingung.


Sedangkan yang lain hanya diam sambil menyimak apa yang sedang mereka bicarakan, "bukankah dari dulu kamu suka tinggal di London? Dan kenapa sekarang gak bisa?" tanya Alex lagi.


"Karna istri Aiden bekerja di sini, Aiden juga sudah membuatkanya kantor, gak mungkin jika Aiden tiba-tiba membatalkanya dan mengajaknya pindah, itu sama aja aku memberikanya harapan palsu," serunya menjelaskan duduk permasalahaanya.


Alex dan Arnon kini menganggukan kepala mereka singkat, mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Aiden.


"Baiklah, jika begitu biar Papah dan Mamah yang pindah ke London, kamu-,"


"Why?" tanya Stella. "Lalu siapa yang akan tinggal di Mansion ini? Jika semuanya pindah ?" Stella mendadak khawatir tentang semuanya ini.


"Kan ada Airein, nanti setelah dia dengan Roger kembali dari Russia, pasti mereka akan menempati Mansion ini," sahut Elena, yang menghentikan kekhawtiran menantunya.


Stella menganggukan kepalanya singkat, "kenapa mau tinggal di Apartemen hem?" tanya Stella bingung pada putranya.


Aiden menoleh singkat ke arah Mamahnya lalu menatap Papahnya yang juga sedang menatapnya.


"Hemm, karna Aiden ingin memulai keluarga kecil dari hal-hal yang sederhana dulu, jika Aiden dan Freya tinggal dan memiliki 1 anak nanti, Aiden rasa itu masih cukup untuk kami menikmatinya nanti, kecuali jika Aiden memiliki banyak anak, mungkin semuanya akan dinpikirkan ulang," jawab Aiden bijak, membuat Stella, Arnon dan yang lainya tersenyum mendengar jawaban dari putranya itu.

__ADS_1


Pria yang dulunya selalu se-enaknya dalam hidup, dan tidak mempunyai tujuan. Sekarang berubah drastis hingga membuat keluarganya semua bangga dengan apa yang dia pikirkan.


"Ternyata hadirnya Freya memang membawa hal positif untuk kamu sayang," ujar Stella, sambil mengelus lembut kepala putranya.


"Dia memang yang terbaik untuk ku Mah, mungkin Tuhan memang mengirimkanya sebagai pelengkap hidupku yang hampa dan penuh dengan rasa tidak perduli," lirihnya sendiri sambil menatap lurus ke depan, membayangkan betapa kosongnya hidupnya dulu.


Tidak ada tawa,tidak ada rasa cinta, kasih sayang atau takut kehilangan. Rasa ini berbeda dari apa yang dia rasakan dulu ketika bersama dengan Briell.


Jika dulu yang ada hanyalah rasa amarah karna semua tuntutan yang di berikan oleh Briell.


Kali ini dia hanya merasakan sebuah kedamaian bersama dengan Freya. Yang jika kehilangan wanita itu sedetik saja, bisa-bisa dia yang akan menjadi gila.


To Be Continue.


Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2