[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 10


__ADS_3

Keesokan harinya, dimana suasana pagi yang masih begitu sejuk dan hawa dingin masih berhembus kencang melalui celah celah jendela. Seorang pasangan suami istri lama yakni kedua orang tua Bill itu berkunjung ke rumahnya.


Mereka duduk di sofa tempat ruang tamu, di sana ada seorang pelayan yang sedang melayaninya. Ia menawarkan minuman apa yang ingin mereka minum.


"Tuan dan Nyonya besar, kalian ingin aku buatkan minuman apa?" Tanya pelayan tersebut.


"Apa aja, asal masih bisa di minum" Jawab Alice dengan senyuman lebar yang tampak di wajahnya.


Tak lama setelah itu, Bill serta Lusia datang menghampiri mereka berdua di ruang tamu. Pagi ini Alice memakai pakaian yang mewah layaknya seorang nyonya. Padahal dia sudah di anggap sebagai pelayan oleh Bill sebelumnya, tapi karena kedatangan orang tuanya yang tiba tiba ia pun berpura pura seakan masih menjadi seorang Nyonya.


"Kalian serasi banget...." Lontar Alice sambil memandang dengan penuh kasih sayang pada Lusia. Lusia dan Bill pun duduk di samping mereka, dan setelah itu seorang pelayan datang sambil membawakan hidangan.


"Kok tiba tiba dateng?" Tanya Bill dengan wajah sedikit kesal karena kedatangan mereka yang begitu tiba tiba.


"Ayah sama Ibu mau kasih surprise ke kalian" Cetus Jasper.


"Jadi.... Ayah dan Ibu udah cari tempat buat kalian bulan madu. Tempatnya ngga jauh jauh banget, sih" Kata Alice yang sontak membuat keduanya terkejut bukan main.


"Bu---bulan madu?!!"


Jasper dan Alice mengangguk bersamaan menjawab pertanyaan dari putranya itu. Namun Lusia hanya bisa terdiam, jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama maka ia akan menjalaninya sebagai seorang istri. Tapi jika tidak, dia hanya bisa pasrah karena dia juga bukan siapa siapa dan hanya orang rendahan.


"Kita pengin secepetnya punya cucu, loh" Kata Jasper sedikit memaksa pada Bill dan Lusia.


"Oke oke" Bill pun menerimanya meskipun ia sangat terpaksa.


Setelah lumayan lama mereka berbincang, akhirnya Jasper dan Alice pun pulang meninggalkan kediaman Amedeo. Namun suasana tak mengenakan terjadi pada Bill dan Lusia setelah kepergian orang tua Bill.

__ADS_1


"Apa..... kita bakalan bulan madu di tempat yang udah di cari sama mereka?" Tanya Lusia meskipun sedikit ragu.


"Jangan terlalu berharap gitu, dong. Aku setuju juga buat pura pura aja biar mereka ngga curiga sama hubungan kita" Paparnya. Hati Lusia begitu sakit ketika Bill berkata kalau dirinya hanya berpura-pura.


"Terus kita harus gimana?" Tanyanya lagi.


"Kamu aku kirim ke Amerika buat sementara sampe waktu bulan madu selesai. Nah, jadi mereka ngga akan tau kalo kita sebenernya ngga bulan madu"


"Oke kalo itu mau kamu" Jawab Lusia dengan air mata yang sudah keluar dari kedua bola matanya.


"Ngga usah cengeng. Lagian di sekolah juga kamu di bully terus menerus, tapi kamu masih bisa bertahan di sana" Lontar Bill sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Bener Lusia! Kamu ngga boleh cengeng. Lagian di dunia ini juga ngga ada yang bakalan ngasihani kamu" Batinnya. Ia pun menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya itu.


Dua hari kemudian, sesuai dengan rencana mereka berdua. Bulan madu yang hanya pura pura itu akhirnya mereka lakukan. Karena semalam Bill sempat memesan tiket penerbangan ke Amerika, Lusia pun jadi sudah bisa langsung ke bandara pagi ini. Ia di antar oleh Bill dan seorang asisten pribadinya untuk mengendarai mobil.


"Apa ngga akan ada masalah, Tuan?" Tanya asisten itu yang sebenarnya tidak tega melihat Lusia keberatan membawa koper.


"Bodo amat," Ucap Bill. Asisten pribadinya itu hanya bisa terdiam karena tidak berani membantah ucapan Bill.


Sementara suasana di pesawat yang begitu bising, Lusia tak henti hentinya memikirkan soal Bill. Dia juga khawatir mertuanya akan tau semua kebohongannya dengan Bill. Tapi ia hanya bisa menuruti rencana dari Bill meskipun akan terjadi kegagalan.


Setelah cukup lama menunggu penerbangan, pesawat itupun akhirnya melandas. Jika harus memikirkan Bill terus menerus, ia tidak akan bisa lupa dengan sosoknya. Akhirnya untuk mengisi waktu luang di dalam pesawat ini, Lusia membaca sebuah novel di aplikasi MangaToon. Dia lebih senang jika membaca novel bertema romantis.


24 jam telah berlalu. Pesawat itupun mendarat tepat di Washington, Amerika Serikat. Lusia sebagai warga negara asing di tempat itu tidak merasa khawatir. Karena Lusia juga menguasai bahasa Inggris. Di sekolahnya, Lusia terkenal dengan seorang gadis cantik yang begitu cerdas. Hanya saja ekonomi keluarganya yang membuat Lusia jadi di bully habis habisan.


Karena lelah, Lusia memutuskan untuk mencari tempat penginapan terlebih dahulu. Dia menuju sebuah apartemen dengan menaiki taxi. Tidak menggunakan waktu lama, akhirnya Lusia pun sampai di sebuah apartemen mewah. Lusia tidak khawatir dengan uang yang ia gunakan karena Bill sudah memberinya sebuah black card.

__ADS_1


"Aku ingin menyewa sebuah kamar," Ucap Lusia dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Boleh. Ini kuncinya" Kata pria itu sambil memberikan sebuah kunci kamar pada Lusia.


Lusia pun menuju ruangan apartemen yang sudah diberitahu oleh pria tadi. Saat memasuki ruangan tersebut, betapa terkejutnya ia bisa melihat sebuah tempat mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan kemewahan rumah Bill pun kalah dengan ruangan ini. Mungkin karena desain yang dibuat di Amerika juga lebih hebat dibandingkan dengan Indonesia.


Drtttt.... drrttt... Suara ponsel berdering dan membuat Lusia terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengambil ponselnya yang diletakkan di atas lemari kecil di samping ranjang. Betapa terkejut nya ia ketika melihat seseorang yang sedang menelepon dirinya. Dengan cepat Lusia mengangkat panggilan itu dan memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Halo? Bill?" Ucap Lusia membuka pembicaraan.


"Baru dua hari ngga ketemu aja udah ngga sopan panggil aku tanpa sebutan Tuan," Cetus Bill dengan nada yang sedikit kesal namun seperti sedang bercanda.


"Tu--tuan" Lusia menyebut nama Tuan dengan gugup.


"Udahlah. Sekarang ini ngga perlu sebut Tuan dulu" Lanjut Bill yang membuat Lusia jadi sedikit jengkel namun juga senang.


"Oh ya, aku mau kasih tau kamu kalo penerbangan pulang ke Indonesia udah aku pesen tiketnya" Bill memberitahu. Diirngi dengan itu, Lusia jadi terkejut karena tiba tiba Bill memesan tiket penerbangan pulang ke Indonesia untuk Lusia.


"Emangnya aku bakal pulang kapan?" Tanya Lusia bersemangat.


"Masih lama sih, sekitar sepuluh hari lagi" Kata-kata itu membuat Lusia jadi tidak bersemangat lagi, padahal tadinya ia sudah begitu bersemangat untuk segera pulang.


"Aku kasih tau ini ke kamu biar kamu ngga usah beli tiket lagi. Nanti kalo waktunya penerbangan pulang juga bakal aku kasih tau," Lanjut ucapnya.


Karena sudah tidak ada lagi hal yang ingin disampaikan oleh Bill, ia pun mematikan panggilannya. Di iringi dengan itu Lusia pun melanjutkan tidurnya lagi karena masih merasa lelah setelah 24 jam berada di pesawat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2