[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 69 [S2]


__ADS_3

Happy Reading~


Terik matahari begitu menyorot. Cuaca siang ini begitu panas, bahkan angin pun tak kunjung berhembus. Beberapa orang yang terlihat tengah melintasi jalanan kota dengan berjalan pun mengenakan payung untuk menghindari sinar matahari secara langsung.


Sudah beberapa hari yang lalu sejak kematian Ayah dan Ibunya, kini Maria sudah terlihat lebih tenang. Ia juga sudah tidak melamun atau menangis sendiri di tengah malam seperti sebelumnya. Maria mengambil sebuah pakaian mini di dalam lemarinya, lalu dikenakannya. Ini adalah hari minggu, tentu saja Maria tidak perlu repot untuk bangun pagi hanya karena sekolah.


"Uh," Dia mengambil sebuah kotak uang di atas lemarinya, tentu saja Maria tidak akan khawatir dengan kehidupannya meskipun orang tuanya telah tiada. Siapa lagi kalau bukan Bill yang membantu mencukupi kebutuhan sehari harinya?


Bep Bep! Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, mobil itu berwarna merah pekat dan mengkilap. Maria langsung berlari menuju lantai bawah dan menghampiri seseorang dengan mobil itu. Dia tersenyum senang begitu tiba di halaman rumah.


"Ayo masuk," Ucap pria itu seraya membukakan pintu mobil bagian depan untuk Maria. Siapa lagi kalau bukan Jiang? Pria yang baru beberapa minggu lalu dekat dengannya. Banyak rumor beredar kalau keduanya memiliki hubungan, uh! Tentu itu sangat mustahil karena Maria adalah seorang mahasiswi. Sedangkan Jiang susah lebih tua darinya bahkan lebih tua dari Lusia.


Tidak menggunakan waktu lama, keduanya pun tiba di sebuah pantai. Tak jauh dari pantai, terlihat sebuah bangunan vila yang cukup besar. Maria tersenyum sembari menunjuk bangunan vila tersebut.


"Besar, ya" Cakap nya. Jiang pun tersenyum manis menanggapi ucapan gadis di samping nya. Begitu turun dari mobil, keduanya lantas bersiap untuk segera berenang. Maria menuju ruang ganti wanita untuk mengganti pakaian mininya dengan pakaian renang. Begitu juga dengan Jiang.


Selang beberapa waktu, keduanya pun kembali berkumpul di tepi pantai. Pertama tama mereka membasahi ujung kaki terlebih dahulu agar tidak keram saat masuk ke dalam air.


Wush... wush... air terus terombang ambing terbawa ombak. Di cuaca panas seperti ini memang sangat cocok jika pergi ke pantai. Mereka berselancar ke pantai bagian tengah, tentu saja Maria yang belum bisa bermain selancar air masih harus dibantu oleh Jiang.


"Tenang aja, kamu ngga perlu takut. Lagipula ada aku di sini... " Cetus nya. Ia terus memegang erat tangan gadis itu.


"I--iya, aku ngga takut nih..." Kilah nya merasa jengkel lantaran Jiang seperti merendahkannya. Tapi memang Maria terlihat begitu ketakutan karena tangannya yang terus gemetaran.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.


Beberapa kali Lusia mencoba untuk menghubungi sang adik, namun hanya suara robot wanita itu saja yang terus muncul. Lantaran kesal, ia pun membanting ponselnya ke lantai. Dirinya juga tidak tau mengapa bisa merasa kesal hanya karena masalah sepele seperti itu.

__ADS_1


"Aku coba bujuk Bill aja kali ya suruh Maria tinggal di rumah ini. Aku khawatir kalo dia tinggal sendirian, bisa bisa sering bawa cowo ke rumah" Gumamnya.


*******


Langit yang begitu cerah telah berganti dengan langit yang berwarna jingga. Angin mulai berhembus dan ombak semakin besar. Maria duduk bersebelahan dengan Jiang, mereka manatap matahari yang hampir terbenam di momen indah seperti ini.


"Huh.... dingin, ya?" Tanya Jiang. Ia melihat tatapan mata tak mengenakan dari Maria.


"Ke--kenapa?" Maria memalingkan pandangannya dari Jiang, sedari tadi dirinya terus berharap kalau pria itu akan melamarnya. Namun sepertinya ia hanya terlalu berharap selama ini.


"Maria, ayo kita nikah" Sontak Maria pun jadi ternganga mendengar kata kata yang baru saja terlontar dari mulut pria itu, ia membulatkan kedua bola matanya lalu menatap pria yang sedang duduk berdampingan dengannya.


"Kamu---, serius, kan?" Merasa tak percaya dengan ucapannya, Maria beberapa kali memukul pipinya sampai terlihat memerah. Tetapi yang dirasakannya adalah rasa sakit, yang artinya ini memang nyata dan bukan mimpi.


"Sejak kapan aku ngga serius? Bukannya selama ini aku udah nunjukin rasa sayang aku ke kamu? Ummmm... jangan jangan kamu masih ragu"


"Aku kira selama ini dia cuman anggap aku sebagai kekasihnya aja. Tapi ternyata... dia bener bener mau sampe di ajang pernikahan?!!!! Wuahhhh!!!! Ngga kebayang senengnya" Batinnya dengan tangan memegang kedua pipi yang terlihat merah.


"Aku liat ekspresi kamu, lho!" Ucap Jiang dalam hati.


3 jam telah berlalu. Kini langit sudah benar benar gelap. Lantas keduanya langsung mengemasi barang barang yang sebelumnya mereka bawa untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Setelah itu mereka pun langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat tiba di rumah.


Begitu tiba di depan sebuah toko swalayan, Jiang memutuskan untuk mereka berhenti sejenak dan menikmati beberapa minuman. Bukankah itu adalah hal yang menyenangkan jika dilakukan pada saat malam hari? Apalagi dengan pasangan mereka atau teman lawan jenis mereka.


"Kamu serius kan sama kata kata kamu tadi?" Tanya Maria berusaha memastikan. Jiang terdiam, ia lebih memilih untuk meneguk segelas soju terlebih dahulu daripada menjawab pertanyaan dari gadis di depannya itu.


"Ugh... iya"


"Emmm...., apa aku perlu bilang sama Lusia? Ah.. jangan! Ini ngga akan berjalan sesuai keinginan kalo harus ngomong sama dia. Apalagi aku masih sekolah" Gumamnya.

__ADS_1


**********


Sebuah mobil berhenti di halaman rumah Amedeo. Lusia segera bangkit dari ranjang dan berlari untuk menghampiri pria yang susah lama ditunggu kepulangannya dari kantor.


"Sayang!!!" Teriak Lusia sambil membuka lebar tangannya untuk menerima pelukan hangat dari sang suami.


"Kangen, ya?" Ledek Bill seraya menghindar dari Lusia.


"Ngga lucu!"


"Hehe...."


"Emmm, aku mau bicara sama kamu. Tapi lebih baik kamu bersih bersih badan dulu deh"


"Iya iya... "


Tidak lama setelah itu, Bill pun akhirnya selesai membersihkan tubuhnya dengan menggunakan sabun aroma lemon dan air hangat. Kini keduanya tengah duduk bersama di ruang tengah. Tepatnya berada di lantai atas.


"Jadi, apa boleh kalo Maria tinggal sama kita? Soalnya aku khawatir sama kehidupan dia. Dia kan sekarang sendirian" Ucap Lusia dengan memandang suaminya. Bill terdiam, ingin rasanya menolak namun mulutnya sulit untuk berbicara layaknya orang bisu.


"Bill?" Lusia mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Bill, sontak Bill pun terbuyar dari lamunannya.


"Ah... i--itu," Jawabnya terbata bata.


"Kalo kamu ngga setuju, aku juga ngga masalah" Lusia pun tadi tidak tega setelah melihat ekspresi bingung dari wajah sang suami.


"Aku pikir pikir dulu deh. Ini udah malem, sebaiknya kamu tidur aja"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2