[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 56


__ADS_3

Happy Reading~


"Kamu serius?" Lusia bertanya lagi. Jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya Ethan memang tidak sedang berbohong.


"Iya. Selama ini aku mau kasih tau kamu, tapi.... aku belum siap" Cakap nya dengan memandang Lusia. Wajahnya terlihat begitu sedih dan penuh penyesalan. Lusia tersenyum kecil, kini kedua bola matanya telah membendung air mata. Ia berusaha menahan air matanya didepan pria itu.


"Jadi, karena hal itu.... Ibu aku minta aku jagain kamu sebagai gantinya. Karena Ibu aku udah bikin Ibu kamu kehilangan nyawanya" Imbuhnya. Rasanya ingin sekali ia memeluk wanita yang kini tengah duduk di hadapannya.


"Ethan...." Sudah merasa tidak kuat menahan air matanya, ia pun menangis. Ethan yang tak tega melihat Lusia menangis lantas langsung memeluknya untuk bisa menenangkan Lusia.


"Maaf... maafin aku, selama ini... aku benci kamu cuman gara gara kesalah pahaman... aku ngga ngerti apa apa, tapi aku udah benci sama kamu! Jika emang Ibu kamu yang bersalah, harusnya aku ngga benci sama kamu, aku harusnya benci sama Ibu kamu. Tapi ternyata semuanya ngga sesuai dengan pemikiran aku... hiks..." Ucapnya dengan diiringi isak tangis. Ethan menghela nafas, ia masih menenangkan Lusia dalam pelukannya.


"Nangis, keluarin semua air mata kamu. Dengan itu kamu bisa tenang" Cetus Ethan. Lusia pun mengangguk. Ia benar benar merasa bersalah selama ini karena telah membenci Ethan hanya karena kesalah pahaman yang ia buat.


Dari kejauhan, ternyata dua orang pria tengah memperhatikan mereka. Kedua pria itu adalah Bill dan Vien. Mereka sudah berdiri di tempat itu selama kurang lebih 40 menit. Setelah melihat Lusia berpelukan dengan pria lain, rasanya Bill sangat tidak bisa menerima semua ini. Lantas ia pun meminta agar Vien mengendarai mobilnya dan segera pergi dari tempat tersebut.


***


1 jam telah berlalu, kini Lusia sudah bisa merasa tenang setelah mengeluarkan semua air matanya. Suasana menjadi canggung setelahnya, tak ada yang berbicara diantara mereka. Lusia menunduk, ia tidak bisa menatap wajah sosok pria yang kini masih duduk berhadapan dengannya lantaran merasa malu.


"Udah tenang?" Tanya Ethan. Ia menatap wajah Lusia yang terlihat sedih. Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Aku anterin pulang, ya" Imbuhnya sambil beranjak dari kursi.


"I--iya"


Lusia pun beranjak dari kursi dan mereka menuju kasir bersama sama. Ethan melunasi semua pembayaran minuman yang sebelumnya mereka pesan. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil milik Ethan.


"Aku jalan, ya" Kata Ethan sambil melajukan mobilnya dengan perlahan.

__ADS_1


Tidak menggunakan waktu lama, mereka pun tiba di sebuah tempat yang tak lain lagi adalah halaman rumah Amedeo. Lusia turun dari mobil bersamaan dengan Ethan.


"Makasih ya...." Ucap Lusia sambil tersenyum lebar pada pria yang kini berdiri tepat dihadapannya. Ethan pun mengangguk, ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi.


***


Lusia masuk ke dalam rumah, ia melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan. Ruangan itu terlihat begitu sunyi, tidak seperti biasanya. Ia menatap setiap sudut ruangan yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Pelayan, pelayan...." Lusia berteriak memanggil pelayan yang tidak terlihat di ruangan itu sama sekali. Tak lama setelah itu, seorang pelayan menghampirinya. Ia membawa sebuah koper yang entah apa isinya. Pelayan itu memberikan koper besar nya pada Lusia. Ia tercengang, merasa heran dengan hal yang dilakukan oleh pelayan itu.


"Apa ini?" Tanyanya.


"Tuan menyuruh saya untuk merapihkan pakaian Nyonya dan memasukkan nya ke dalam koper. Lalu memberikannya pada Nyonya" Kata pelayan itu. Wajahnya menunduk tak berani menatap wajah sang Nyonya.


Sontak kata kata itu membuatnya merasa bingung. Ia berlari menuju lantai atas dengan menaiki anak tangga. Kemudian ia berhenti di depan sebuah kamar suaminya.


"Apa?" Suara seseorang terdengar familiar. Pria itu tengah berdiri di balik tubuh Lusia. Ia menoleh, melihat sang suami sedang menatapnya sinis.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Lusia dengan menunjukkan sebuah koper yang dipegangnya.


"Silahkan angkat kaki"


"Coba jelasin, kenapa kamu lakuin ini" Kemudian Bill menunjukkan sebuah rekaman video saat Lusia tengah berpelukan dengan Ethan di cafe sore tadi menjelang malam.


"Coba jelasin, kenapa kamu lakuin ini?" Tanya Bill. memutar balikkan pertanyaan Lusia. Lusia tersenyum kecil, ia mengusap rambutnya kemudian menatap wajah Bill.


"Kita satu darah. Jadi ngga perlu cemburu" Lontar Lusia yang sontak membuat detak jantung Bill berdetak kencang. Ia sendiri tak tau mengapa jantungnya tiba tiba deg degan.


"Bener juga, ngapain aku cemburu???" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Aku ngga cemburu, aku cuman memperingatkan kamu... kalo kamu udah ngga mau tinggal di sini silahkan angkat kaki sekarang juga" Kata Bill.


"Terserah kamu aja" Lusia mengangkat kakinya, ia berjalan meninggalkan sosok Bill yang tengah mematung di tempat itu.


"Lusia!" Ia berlari menghampiri Lusia. Kemudian dirinya langsung memeluk erat tubuh sang istri.


"A... apa ini? Bill...."


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Semburat mentari pagi menyambut hari baru di hari berikutnya. Suara kicauan burung terdengar merdu. Cuaca mendung di pagi itu membuat angin pagi terasa lebih dingin dari biasanya, dikarenakan angin kencang terus berhembus.


Lusia melamun, menatap layar laptop di hadapannya yang masih menyala. Ia menghembuskan nafasnya lalu menarik sebuah tali yang terpasang di meja itu. Ia baru menyadari jika di meja itu terpampang sebuah tali. Sama dengan dirinya yang baru menyadari suatu kesalahan yang ia perbuatan setelah mendengar cerita yang sebenarnya.


"Ibu.... aku bener bener ngga nyangka. Ternyata Ibu bukanlah sosok baik yang selama ini aku kira. Berarti, aku itu anak haram. Anak yang terlahir di luar nikah. Jadi semua dosa Ibu dilimpahkan ke aku, makanya aku hidup sengsara selama ini" Ia berkata pada dirinya sendiri. Rasa bersalah masih terpampang di dalam dirinya lantaran selama ini sudah membenci orang yang seharusnya tidak ia benci.


*****


SMA JEOWON`


Ruangan kelas terdengar bising, Ethan hanya terdiam di bangkunya seraya menatap layar ponsel. Ia melihat sebuah foto kenangan saat mengambil foto bersama Lusia di taman sekolah dua tahun lalu. Ethan tersenyum, ia kemudian mematikan layar ponselnya setelah seorang guru tiba tiba masuk ke ruang kelas.


"Selamat pagi anak anak, bagaimana kabar kalian pagi ini?" Sapa guru lelaki itu. Ia memang periang dan bahkan tidak pernah sekalipun marah terhadap muridnya.


"Baik Pak!" Balas mereka serempak. Pelajaran pertama di hari itu pun dimulai, Ethan membuka buku mata pelajaran kesenian nya dan kemudian membaca sebuah tulisan di halaman pertama buku itu.


"Sekarang aku udah lega setelah ceritain semuanya ke kamu. Makasih udah mau dengerin penjelasan aku"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2