[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 7


__ADS_3

Kring!!!! Suara deringan alarm itu membuat Lusia terbangun dari tidur nyenyak nya. Mentari pagi yang menyoroti matanya itu membuatnya silau. Lusia menatap setiap sudut ruangan kamarnya, namun dia tidak melihat Bill di sana.


Ceklekk... Pintu kamar mandi terbuka, itu tandanya Bill telah selesai membersihkan diri. Baru pertama kalinya Lusia melihat tubuh kekar Bill tanpa dibaluti dengan kain. Perutnya yang berbentuk kotak kotak itu membuatnya ingin merasakan kenikmatan.


"Keluar" Ucap Bill tiba tiba, ia menyuruh agar Lusia segera keluar dari kamarnya.


"Keluar?" Tanya Lusia heran. Bill hanya mengangguk sambil menyeret Lusia keluar dari kamar itu.


Brak! Suara pintu yang tertutup keras itu terdengar keras sampai lantai bawah. Beberapa pelayan mengira kalau ada kejadian tembok yang roboh. Tapi sebenarnya itu hanya suara pintu yang ditutup dengan sekuat tegana oleh Bill.


Lusia hanya terdiam bengong di depan pintu kamar. Dia bertanya tanya dalam hatinya, "Apa aku udah bikin kesalahan pagi ini?"


Akhirnya karena tidak tau harus berbuat apa, Lusia pun pergi ke dapur yang terletak di lantai 2 rumah itu. Dia melihat beberapa pelayan yang sedang melaksanakan tugas mereka masing masing. Perlahan, Lusia mendekati mereka yang sedang sibuk memasak.


"Aku bantu, ya" Ucap Lusia pada para pelayan itu. "Ah, tidak perlu Nyonya, ini sudah menjadi tugas kami untuk memasak. Nyonya silahkan duduk saja menonton TV atau melakukan hal yang Nyonya suka, atau... Nyonya ingin kami buatkan sesuatu?" Seorang pelayan menolak jika Lusia ikut membantu mereka memasak. Dia juga menawarkan makanan yang ingin Lusia makan.


"Kenapa setiap aku sama Bill bicara sama mereka, mereka ngga berani tatap kami? Apa ada suatu alasan? Uh, udahlah ngga perlu dipikirin" Batinnya.


"Ngga perlu. Kalian lanjut masak aja, nanti kalo aku mau makan apa apa aku bisa buat sendiri, kok" Balas Lusia.


"Baik Nyonya," Lusia pun pergi meninggalkan ruangan dapur itu dan memutuskan untuk pergi ke taman belakang rumah tersebut.


Tanpa disengaja, ia bertemu dengan Bill saat hendak menyusuri anak tangga. Wajah Bill yang begitu berkilau membuatnya sulit untuk menatap wajahnya. Ditambah dengan penampilannya yang begitu rapi membuat Lusia tidak dapat berkata apa apa.


"Kamu mau berangkat sekarang?" Tanya Lusia dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sudah lama Lusia tidak pernah tersenyum lebar seperti sekarang ini.


"Aku mau ngasih tau kamu sesuatu dulu sebelum berangkat ke kantor" Ujar Bill membuat Lusia menjadi ketakutan. Pikirannya sudah terbang kemana mana membayangkan akan ada hal buruk yang akan terjadi.


"Kita bicara di ruang tamu aja" Lanjut ucapnya. Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju ke ruang tamu yang berada di lantai paling bawah.


Saat tiba di ruang tamu, Bill tiba tiba memberikan sebuah kertas panjang yang entah apa isinya. Tapi perasaan Lusia mengatakan kalau kertas itu berisi sebuah surat peringatan baginya.


"Ini.... apa?" Tanya Lusia tak berani mengambil kertas yang diberikan oleh Bill.


"Kamu baca sekarang dan pelajari. Kalo ada yang ngga kamu pahami langsung tanya aja"


Lusia pun menuruti apa kata Bill. Ia membuka kertas itu dengan sangat perlahan. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tulisan yang tak dapat ia mengerti apa maksud dari tulisan itu.

__ADS_1


Peraturan setelah menikah :


-Kita tidur di kamar yang berbeda


-Kamu harus memanggil Bill dengan sebutan Tuan


-Ketika dirumah, layaknya kita adalah seorang Tuan dan pelayan, tapi saat di masyarakat, kita adalah sepasang suami-istri


-Kamu harus menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah setiap harinya


-Kamu akan di gaji dengan gaji yang besar


-Jika ada kesalahan saat menyelesaikan pekerjaan rumah, kamu akan menjalani hukuman


-Menunduklah saat berhadapan dengan Bill


***


"A--apa maksudnya ini?!!" Tanya Lusia merasa kesal. Dia juga tidak mengerti kenapa tiba tiba Bill memberikan sebuah peraturan aneh padanya.


"Tapi inget, kalo kita ada di masyarakat, kita masih tetep suami istri. Dan satu lagi, jangan sampe orang tua aku tau soal peraturan ini. Kalo sampe mereka tau, kamu ngga akan keluar dari rumah ini dengan selamat" Lanjut ucap Bill padanya. Sontak Lusia langsung terkejut dengan ucapannya barusan.


"Mulai hari ini, kamu harus kerja di rumah" Lontar nya sambil beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Namun Lusia hanya bisa menangis dengan semua kenyataan yang telah terjadi.


"Ngga papa Lus! Kamu kan udah biasa diperlakukan gini sama temen temen kamu, apalagi sama keluarga kamu" Ucap Lusia menyemangati dirinya sendiri. Dia menghapus semua air mata yang telah membasahi wajahnya. Setelah itu, ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


***


Waktu menunjukkan pukul 09.18. Lusia mulai membereskan bagian ruang kamarnya. Kemudian dilanjutkan dengan ruangan lain di lantai 3. Setelah selesai beres beres, ia pun pergi ke ruang makan untuk sarapan karena tadi pagi ia belum sempat untuk sarapan.


"Lusia!" Teriak seseorang dari lantai atas. Suaranya yang tak ia kenali membuatnya merasa bingung. Dia menatap ke setiap sudut ruangan untuk mencari siapa orang yang baru saja memanggil namanya. Namun Lusia hanya melihat sosok pelayan yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal.


"Kamu masih berani makan ditempat itu? Bukannya sekarang kamu itu udah jadi pelayan?!!" Lontar nya dengan suara tegas. Lusia baru ingat kalau dirinya bukan siapa siapa lagi di rumah ini melainkan sebagai seorang pelayan.


"Terus, aku harus makan dimana?" Tanya Lusia dengan suara pelan. Dia tidak berani berkata dengan suara keras pada orang yang lebih tua darinya.


"Ikut aku" Ajak pelayan itu pada Lusia. Ia pun pergi mengikuti langkah kaki kemana perginya pelayan itu.

__ADS_1


Tiba di depan sebuah pintu, pelayan tersebut menyuruh Lusia agar memasuki ruangan itu. Lusia hanya menurutinya tanpa berpikir, dan saat memasuki ruangan tersebut, ternyata isinya adalah sebuah kasur dan sebuah lemari serta terdapat kamar mandi di sana.


"Ini... kamar?" Tanya Lusia dengan wajah polos.


"Iya. Ini kamar baru kamu sekarang. Dan... ini barang barang kamu dari kamar sebelumnya. Buruan di tata sebelum Tuan pulang, ya" Jawabnya sambil memberi sedikit peringatan.


"Oh ya, kamu bisa panggil aku Bu Lili" Pelayan itu memperkenalkan dirinya pada Lusia. Dan Lusia hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Kemudian Lili pun pergi meninggalkan Lusia sendirian di kamar itu.


Flashback on...


"Lili!" Teriak Bill memanggil nama seorang pelayan.


"Iya, Tuan?" Tanya Lili ketika tiba dihadapan Bill.


"Kamu ambil barang barang Lusia dari kamar dan masukin ke dalam koper. Habis itu kamu anter Lusia ke kamar yang ada di sebelah sana, ini kuncinya" Kata Bill sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang ada di sana.


"Loh, Tu--tuan?" Tanya Lili gugup tidak berani untuk membuka mulutnya.


"Ngga usah banyak tanya!" Tegas Bill dengan sedikit emosi. "Nanti kamu kasih tau Lusia kalo itu kamar dia" Lanjut ucapnya. Lili pun mengangguk dan hanya bisa menuruti kata Bill meskipun sebenarnya dia ingin menyanggah.


**Flashback off**


Malam pun tiba, seperti biasa Bill pulang dari kantornya saat waktu sudah begitu larut. Penampilannya juga sudah berantakan bahkan lebih berantakan dari hari kemarin. Bill berjalan menuju ruang kamarnya diikuti dengan Leon, asisten pribadinya itu.


Saat hendak memasuki ruangan kamarnya, Bill mendapati Lusia yang tengah tertidur di depan ruang TV. Dia mendekat ke arah Lusia bersamaan dengan Leon.


"Apa perlu kita bawa dia ke kamarnya, Tuan?" Tanya Leon meskipun merasa sedikit ragu.


"Buat apa? Dia kan ngga penting" Balasnya sambil tertawa kecil.


Karena keinginan Bill untuk membiarkannya, mereka pun akhirnya meninggalkan Lusia yang sedang tertidur itu. Kemudian Leon berpamitan untuk segera pulang.


"Tuan, jika tidak ada tugas lagi... saya izin untuk pulang"


Bill pun memberinya izin dan Leon langsung pergi dari rumah ini menuju ke rumahnya. Setelah itu, Bill berbaring di atas ranjangnya dengan pakaian kerja yang belum diganti.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2