![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
"Bisa diem?" Ucap Bill setelah dirinya memukul Lusia. Lusia hanya terdiam tidak bisa menerima semua ini.
"Kenapa jadi kamu yang pukul aku? Seharusnya kamu yang berhak aku pukul, karena kamu yang salah" Celetuk Lusia dengan nada tinggi. Tetapi Bill belum mengetahui apa maksud dari perkataannya sejak tadi.
"Bukannya kamu habis bersenang senang sama wanita wanita itu? Iya, kan?" Imbuhnya. Wajahnya sengaja ia dekatkan dengan wajah Bill. Kini Bill baru mengerti apa maksud dari ucapan Lusia 'Berapa wanita?'
"Apa urusannya sama kamu? Ini kan hidup aku, bukan hidup kamu" Papar Bill dengan langkah kaki yang menjauh dari tempat tersebut.
"Dasar cecu**uk!" Lontar nya. Sontak Bill pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lusia. Kini kedua bola matanya kembali mengeluarkan air mata.
"Bukannya kamu sendiri, wanita pel@c*r?"
"Apa maksud kamu ngomong aku wanita pel@c*r? Semua itu cuman kecelakaan! Aku ngga berniat buat ngelakuin hal itu sama pria lain, " Balas Lusia merasa kesal lantaran Bill menganggapnya sebagai wanita pel@c*r.
"Cuman kecelakaan pun, kamu menikmatinya kan?" Bill kemudian melanjutkan langkahnya kembali. Ia menaiki anak tangga dan berhenti di depan sebuah pintu kamar. Ia menatap lantai bawah yang sudah tak terlihat sosok sang istri.
"Huh... apa aku berlebihan?" Cetus nya dengan suara lirih.
Cek lek... ia membuka pintu kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia membuka layar ponselnya dan tak sengaja menerima sebuah pesan dari Leon yang sudah terlewat jauh sejak Leon terakhir kali Leon mengirimkan pesan.
Message~
19.45 p.m
Sekretaris Leon : Selamat malam Tuan, saya ada sedikit kabar mengenai sebuah pelelangan liontin yang hanya ada satu di dunia. Jika anda berniat untuk memberikannya pada Nyonya Lusia, anda bisa datang ke alamat yang saya kirim Tuan.
Sekretaris Leon : [File Map]
☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎
__ADS_1
"Mungkin aku bisa ajak Lusia ke tempat lelang buat permintaan maaaf ke dia. Lagipula aku juga ngerasa bersalah udah mukul kepalanya" Batin Bill seraya mengusap wajahnya. Ia bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamarnya untuk keluar dari kamar.
Baru selangkah ia keluar dari kamar, Bill tak sengaja melihat Lusia yang hendak masuk ke dalam kamarnya. Karena kamar Lusia bersebelahan dengan kamar milik Bill. Dengan langkah yang begitu berat, Bill pun menghampiri Lusia.
"Lusia" Panggil nya. Lusia menoleh, wajahnya menatap Bill dengan sinis. Ia tak menghiraukan Bill dan tetap masuk ke dalam kamarnya.
"Tunggu" Bill menarik lengan Lusia dan membuat langkah kakinya terhenti.
"Apa?" Tanyanya dengan jengkel. Ia tidak menatap wajah Bill, matanya hanya menatap ke segala isi ruangan di lantai itu.
"Tatap aku," Cetus Bill dengan tangannya yang menyentuh dagu Lusia agar ia mampu menatapnya.
"Bisa ngga sih jangan ganggu aku!" Lantaran kesal, ia pun berkata dengan nada tinggi pada sang suami yang kini berada di hadapan nya.
Tanpa basa basi, Bill langsung menunjukkan sebuah gambar liontin di ponselnya pada Lusia seraya berkata, "Besok aku ajak kamu ke tempat lelang"
"Cih! Kamu sukanya bikin aku kesel, habis itu minta maaf dengan bujuk aku hal kaya gitu? Aku masih sadar diri, kok. Aku emang bocah yang terlahir dari keluarga miskin dan kamu pungut dari keluarga miskin"
"Huh.... aku lelah" Hembus nya dengan tubuh yang sudah di rebahkan di ranjang.
"Lusia..." Tok tok... Bill yang tengah mematung seorang diri di depan pintu kamar Lusia lantas terus menerus mengetuk pintu kamar tanpa henti.
"Terserah kamu aja deh," Lanjut ucapnya yang kemudian angkat kaki dari tempat itu. Ia sudah pasrah dan lebih baik masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Lagipula malam juga sudah begitu larut bahkan seharusnya mereka sudah tidur sejak tiga jam sebelumnya.
☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎
Drrttt... ddrrtttt... Bill membuka kedua bola matanya dengan perlahan. Ia tak sengaja terbangun kan oleh sebuah ponsel yang tengah berdering. Cahaya matahari yang menembus celah celah kamarnya membuat matanya terasa silau. Lantaran semalam telat tidur, kini ia jadi berat untuk bangun.
"Hmmm... halo" Sapa Bill setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Halo sayang, pagi... kamu baru bangun?" Tanya seorang wanita yang kini tengah mengobrol dengannya melalui telepon.
__ADS_1
"Iya. Kenapa?" Tanya Bill.
"Ada acara lelang nanti malam di gedung X. Kamu mau ajak Lusia ke sana?" Jawabnya sekaligus bertanya pada Bill. Wanita yang tengah mengobrol dengan Bill adalah Alice, ibunya sendiri.
"Ngga tau"
"Loh, kok ngga tau?!! Kamu jangan kaku gitu dong sama istri kamu" Celoteh Alice menjadi kesal lantaran Bill yang tidak peka terhadap Lusia.
"Bukan aku yang kaku, tapi menantu kamu yang kaku! Dasar b@jing@*!!" Batinnya kesal.
"Ya udahlah. Ibu ngga mau ikut campur lagi," Panggilan itupun langsung di akhiri oleh Alice. Ia hanya mampu menghembuskan nafas pasrah.
Bill langsung bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Apalagi semalam setelah pulang dari hotel dirinya tak sempat mandi terlebih dahulu. Setelah cukup lama berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia pun mengacak acak lemari pakaiannya hanya untuk mencari sebuah jas hitam. Yah, Bill tidak hanya memiliki satu atau dua jas hitam, tetapi lebih dari dua puluh. Tidak heran, karena Bill memang mencintai warna hitam.
Ia menuruni anak tangga dan akhirnya tiba di ruang makan. Di sana dirinya tidak melihat Lusia, ia menoleh ke segala arah di setiap sudut ruangan. Namun tidak melihat Lusia sama sekali.
"Lusia mana?" Tanya Bill dingin pada salah seorang pelayan yang tengah membersihkan ruangan di bagian dapur.
"Nyonya belum sarapan" Jawab pelayan tersebut. Wajahnya menunduk saat berhadapan dengan sang Tuan.
"Dia di kamar?" Tanyanya lagi. Pelayan itu hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.
"Ambilin itu, itu, itu dan itu" Ucap Bill sambil menunjuk pada beberapa makanan yang telah dihidangkan. Pelayan itupun segera mengerjakan apa yang telah diperintah oleh Bill.
"Bawa ke kamar Lusia" Imbuhnya. Kini ia berjalan menuju lantai atas tempat kamar Lusia dengan dikawal tiga orang pelayan untuk membawakan makanan.
Setibanya di depan pintu kamar Lusia, Bill dengan sangat perlahan mengetuk pintu kamarnya. Namun sudah beberapa kali Bill mencoba, tetap saja tidak ada jawaban. Karena sudah terlalu kesal, ia pun iseng membuka pintunya dan ternyata pintu itu mampu terbuka yang artinya tidak di kunci.
Bill dengan tiga orang pelayan masuk dan melihat Lusia yang masih terlelap di ranjangnya. Meskipun masih terlelap, Bill mampu melihat penampilan Lusia yang sepertinya sudah selesai mandi bahkan sudah berganti pakaian.
Bersambung....
__ADS_1