[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 16


__ADS_3

Happy Reading~


"Kamu serius?!!!" Tanya Lusia merasa heran dengan keputusan baru yang dibuat oleh Bill.


"Emangnya sejak kapan aku bercanda?" Tukasnya.


Karena kebetulan mereka sedang bersama, Bill pun akhirnya sekalian mengajak untuk makan malam berdua. Sontak Lusia dibuat kaget dengan ajakan Bill yang selama ini belum pernah terlontar dari mulutnya. Dengan senang hati Lusia pun menerima ajakannya karena ini suatu keberuntungan bagi Lusia.


Mereka berdua menuju lantai atas untuk pergi ke ruang makan karena ruang makan terletak di lantai 2. Saat semua makanan dihidangkan, Lusia menjadi begitu terkesima dengan makanan makanan itu yang bahkan sebelumnya belum pernah ia makan, melihatnya saja belum pernah.


Malam itu adalah malam pertama dimana mereka makan malam bersama. Lusia berharap ia bisa melahirkan seorang anak dari keturunan Amedeo. Susana malam itu begitu hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berperang. Karena sedikit malu, Lusia jadi hanya mengambil makanan yang terlihat paling sederhana.


"Uhuk uhuk!" Lusia pun tersedak karena memakannya tidak dengan hati hati. Namun Bill yang melihat sang istri tersedak itu hanya terdiam dan terus menatapnya tanpa mengambilkan minuman.


"Duh, makan ginian aja ngga bisa pelan pelan. Gimana kalo orang tua aku liat?" Cemooh Bill.


"Maaf," Ucap Lusia merasa tidak enak.


"Hmmmm" Bill hanya menjawabnya dengan berdehem.


Makan malam hari itupun berakhir dengan baik meskipun Lusia beberapa kali melakukan kesalahan di depan Bill hanya karena tidak pernah makan makanan tersebut. Rasanya Lusia ingin mengulangi kejadian tadi saat mereka makan malam bersama agar ia tidak melakukan kesalahan.


Setelah selesai makan, Bill tiba tiba menyuruh agar Lusia segera tidur sebelum pukul 22.00. Entah apa yang membuatnya jadi sangat berbeda dari biasanya.


"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯?" Batin Lusia sambil terus menebak.


"𝘈𝘩, 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘩" Lanjut batinnya.


Segera mungkin Lusia pun pergi menuju ke kamarnya. Tiba di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan berusaha untuk memejamkan kedua bola matanya. Namun sudah beberapa kali ia berusaha agar bisa tertidur, tapi tetap saja ia masih tidak bisa tidur. Mungkin hal ini terjadi karena Lusia terus memikirkan soal peraturan baru yang dibuat oleh Bill.


Ia berjalan menuju dapur dan membuka sebuah lemari kulkas untuk mengambil sebotol susu agar ia bisa tertidur. Tetapi setelah meminum susu tersebut, rasa kantuk belum juga timbul dalam dirinya. Lusia mencoba cara lain yaitu dengan menghitung domba. Namun cara itu juga gagal. Sampai pada akhirnya ia pun tidak bisa tidur semalaman.


*********


Zrasshhhh!!!! Lusia membuka kedua bola matanya dengan perlahan. Suara hujan terdengar jelas di telinganya karena hujan yang turun begitu deras. Dia membuka hordeng kamarnya dan melihat cuaca buruk pagi ini.


"Padahal aku berniat mau jalan jalan pagi" Ucapnya sebal. Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia tidak langsung keluar dari kamar melainkan duduk di sofa kamarnya.


Lusia terus melamun sambil mengingat kejadian hari lalu saat ia berada di Amerika dan bertemu dengan Cattie. Dia pikir Cattie adalah sahabat yang baik bahkan belum pernah ia dapatkan selama ini. Namun ternyata perkiraan nya itu salah, Cattie yang selama ini bersamanya adalah wanita yang hanya baik di depannya setelah ia tau kalo Cattie adalah kakak sepupu dari Ethan.


Tok tok tok.... Lusia terbuyar dari lamunannya setelah mendengar suara ketukan pintu dari pintu kamarnya. Ia pun membuka pintu itu dan mendapati seorang pelayan yang sedang berdiri di hadapannya.


"Nyonya, ini sudah pagi. Sebaiknya anda sarapan agar cepat pulih" Ucap pelayan itu pada Lusia. Lusia sendiri yang mendengar pelayan tersebut memanggilnya dengan sebutan Nyonya pun menjadi heran.


"Oh, oke" Balas Lusia dengan senyuman ragu diwajahnya. Lusia pun pergi menuju ruang makan dengan diantar oleh pelayan tersebut.

__ADS_1


Di sana Lusia melihat seorang pria yang sedang duduk di kursi nya dengan sebuah ponsel yang berada di genggamannya. Lusia duduk di samping Bill yang hanya fokus dengan ponselnya nya itu.


"Bill" Sahut Lusia. Bill yang tadinya hanya fokus dengan benda itu kini menoleh ke Arah Lusia yang tanpa ia sadari sudah berada di samping kursinya.


"Apa?" Tanya Bill dengan raut wajah kesal. Dia merasa kalau Lusia telah mengganggu nya bermain ponsel.


"Kenapa pelayan yang tadi ke kamar aku itu panggil aku Nyonya?" Lusia bertanya karena dia merasa ada yang tidak beres dengan semua orang di tempai ini.


"Kan kamu Nyonya," Jawab Bill dengan mata yang terus menatap pada Lusia.


Karena suasananya yang cukup canggung, Lusia pun mencoba untuk mengubah suasana agar tidak canggung lagi. Dia mengambil sebuah makanan yang dihidangkan di meja itu dan menaruhnya ke dalam piring. Belum sempat Bill mengambil makanan, Lusia sudah lebih dulu makan bahkan dihadapan Bill yang masih menatapnya. Saat hendak mengambil gelas, Bill meraihnya terlebih dahulu.


"Aku mau minum," Geram Lusia. Tenggorokan nya yang sudah dipenuhi dengan makanan yang belum ditelan itu membuatnya jadi sesak nafas.


Meskipun sudah menunjukkan raut wajah iba, Bill tetap tidak mau memberikan gelas itu pada Lusia. Karena kesal, Lusia pun mengambil gelas milik Bill dan ia gunakan untuk minum. Setelah selesai minum, Lusia segera meninggalkan ruang makan tersebut dengan Bill yang masih bengong melihat sikapnya.


"Lusia!!" Teriak Bill ketika Lusia sudah beranjak meninggalkan tempat itu. Lusia pun kemudian menoleh ke arah Bill dan melihat sosok Bill yang penuh amarah. Karena takut, Lusia segera berlari menuju kamarnya. Bill sendiri merasa aneh dengan sikap Lusia yang berbeda pagi ini.


"Sialan. Baru aja jadi Nyonya udah belagu banget" Ucapnya kesal sambil menatap jejak Lusia.


Tak lama setelah itu, Bill menuju ke halaman rumah untuk menaiki mobilnya dan pergi menuju perusahaan. Tapi karena cuaca yang tidak begitu mendukung, Leon pun menyarankan agar Bill tetap di rumah saja sambil menemani Lusia yang belum begitu pulih.


"Tuan, sepertinya cuaca pagi ini sangat buruk. Bagaimana jika Tuan di rumah saja sambil menemani Nyonya? Sekali kali, lah" Cetus Leon. Bill sendiri dibuat jengkel dengan sikap Leon yang tidak ada bedanya dengan Lusia.


Sekitar setengah jam lamanya mereka berada di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di perusahaan K & J Food. Perusahaan itu adalah perusahaan baru yang didirikan sekitar 2 bulan lalu. Ia sendiri memiliki lebih dari 10 perusahaan di Indonesia dan perusahaan lain yang ia dirikan di luar negeri sampai tak terhitung jumlahnya.


Belum sempat ia menginjakkan kakinya ke pintu perusahaan, ponselnya itu tida tiba berdering di dalam saku jas nya. Setelah di cek, ternyata salah seorang pelayan di rumahnya itu menelepon. Bahkan biasanya pelayan itu tidak pernah meneleponnya.


"Apa?" Tanya Bill setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Tuan, Nyonya. Nyonya Tuan" Ucap pelayan itu yang membuat Bill kebingungan dengan kata katanya.


"Kamu itu hewan apa manusia, sih?!!! Kalo ngomong itu yang bener, dong" Omel Bill dengan senyuman yang terlihat mengembang di wajahnya.


"Nyonya Tuan, dia pingsan" Pelayan itu memberi tahu pada Bill.


"Udah di omelin aja masih ngga becus buat ngomong, nanti sore aku pecat aja pelayan kaya dia" Batinnya sebal.


Setelah itu Bill pun mematikan panggilan yang sedang berlangsung dan menyuruh agar Leon mengantarnya pulang kembali di cuaca yang seperti ini.


"Balik lagi," Lontar Bill sambil beranjak memasuki mobil.


"Lah? Kenapa Tuan?" Leon dibuat penasaran dengan keputusan Bill yang tiba tiba.


"Ngga perlu tau" Balas Bill. Leon pun hanya bisa menerima kelainan aneh pada diri bos nya itu. Setelahnya mereka pun kembali ke kediaman Amedeo.

__ADS_1


Tiba di kediaman Amedeo, Bill langsung berlari masuk ke dalam rumah dan melihat Lusia yang sudah terbaring tidak sadar di sofa ruang tamu. Ternyata para pelayan lah yang membawa Lusia ke sofa itu agar Bill tidak repot saat mengangkatnya ke dalam mobil.


"Duh, kenapa kalian taruh depan sini? Gimana kalo orang tua saya liat?!!!" Lontar Bill penuh amarah. Dia benar benar merasa benci dengan hari ini karena semua orang membuatnya kesal.


"Maaf, Tuan. Kami ngga berpikir sampe situ" Celetuk salah satu dari pelayan yang berada di sana.


"Harusnya kalian panggil dokter aja buat ke sini. Kenapa aku harus repot bawa dia ke rumah sakit segela, sih?" Bill pun mengangkat Lusia dan membawanya ke dalam kamar Lusia. Setelah itu ia mencoba menghubungi kenalannya yang ternyata seorang dokter.


Tidak menggunakan waktu lama, kenalan Bill itupun tiba di halaman rumah Bill. Pelayan yang melihat dokter itu langsung mengantarnya menuju ke dalam kamar Lusia.


"Permisi" Ucapnya ketika memasuki ruangan kamar. Ia melihat sosok Bill yang sedang duduk di sofa dan seorang wanita yang terbaring di ranjang dengan tidak sadarkan diri.


"John," Sapa Bill dengan senyuman sinis. Kenalannya itu bernama John, mereka berteman sejak SMP.


"Hai, Bill"


"Itu istri kamu?" Tanya John sambil menunjuk ke arah Lusia. Bill hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.


"M0*tok, kan?" Celetuk Bill yang membuat John jadi geleng gelang kepala.


"Dari dulu kamu emang sint1ng. Ngga pernah berubah dan cuma gila nafsu" Papar John.


"Ckck!"


"Tapi kamu udah cobain belum?" Tanyanya lagi.


"Aku cuman manfaatin dia doang"


"Sayang banget, padahal kayanya nikmat deh" Canda John dengan tangan yang menutupi bibirnya.


"Kamu coba aja sendiri,"


"Eh??!!! Kamu seriusan?" John merasa terkejut dengan ucapan Bill barusan. Namun Bill tidak menanggapinya dan hanya terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Karena sudah cukup banyak mereka mengobrol, John pun mulai memeriksa Lusia. Dia mengecek detak jantungnya dan kemudian mencatatnya di sebuah buku yang ia bawa.


"Dia ngga papa. Mungkin ini karena efek capek aja" Ucap John memberi tahu pada Bill.


Tak lama setelah itu, Lusia pun terbangun dari pingsannya dan melihat dua pria yang sedang berada di dalam ruangan kamarnya. Ia juga sempat terkejut ketika melihat kancing bajunya bagian atas sudah terbuka.


"Ka... kalian?!!" Teriak Lusia merasa panik dengan tangan yang menutupi kedua gunung kembar miliknya. Sontak keduanya pun menoleh ke arah Lusia secara bersamaan.


"Aku ngga keterlaluan, kok. Lagipula aku juga ngga buka kancingnya sampe keliatan gunung kamu" Canda John diiringi tawaan. Lusia jadi merasa malu karena sikap John. Bahkan dia sendiri tidak kenal dengan pria yang berpenampilan seperti seorang dokter itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2