![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
"$100.000" Kini Bill tidak main main dalam menaikkan jumlah angka harga liontin tersebut. Pria itu tersentak, ia terdiam tidak menaikkan angka harganya.
"Wow... Tuan Amedeo ngga main main, kan?"
"Gila! Itu kan bukan harga yang murah"
"Dia seriusan?"
Beberapa pertanyaan terus terlontar dari mulut mereka lantaran Bill tidak main main dengan ucapannya.
"Tuan, apa anda tidak akan menaikkan angkanya lagi?" Tanya sang pejabat lelang itu pada sosok pria misterius yang kini hanya terdiam. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan menggeleng. Sontak Lusia dibuat kaget setelah melihat wajah pria tersebut yang ternyata adalah Ethan.
Ethan menatap ke arah Lusia, namun Lusia langsung memalingkan pandangannya dari sosok Ethan. Kini Bill lah orang yang mampu mendapatkan liontin yang hanya ada satu di dunia itu dengan harga tertinggi yakni $100.000.
Ia bersama Lusia naik ke atas panggung dan pejabat lelang itu memeberikan liontin nya pada Bill. Di depan banyak orang, Bill memasangkan liontin itu di leher Lusia. Itu adalah pertama kalinya ia memasangkan sebuah benda perhiasan di salah satu anggota tubuh sang istri. Setelah selesai memasang liontin itu, Bill pun mengecup kening Lusia yang membuat orang orang di sana jadi merasa iri.
"Hah... romantis nya" Ucap seseorang dengan wajah bahagia disertai dengan senyuman. Ethan yang melihat hal itu hanya terdiam. Ia langsung beranjak pergi dari tempat itu lantaran acaranya yang juga akan selesai sebentar lagi.
Setelah cukup lama berada di ruangan lelang, satu persatu orang akhirnya keluar setelah acaranya selesai. Kini hanya terisa Bill dan Lusia yang masih berdiri di depan pintu keluar masuk ruangan tersebut.
"Aku terpaksa" Ucap Bill tiba tiba tanpa memandang wajah Lusia.
"Terpaksa?" Lantas Lusia pun menjadi heran dengan ucapannya.
"Hmmm," Balasnya yang hanya berdehem.
Mereka pun akhirnya keluar dari gedung pelelangan, di sepanjang jalan menuju tempat parkir, hanya ada perang dingin diantara keduanya.
"Lusia!!!" Teriak seseorang dari arah belakang. Suaranya begitu familiar di telinga Lusia. Ia pun menoleh ke arah sumber suara. Dan benar saja, orang yang baru saja berteriak memanggil namanya adalah Ethan.
Ethan berlari menghampiri Lusia, ia tidak merasa takut ataupun ragu meskipun ada Bill yang tengah berdiri tepat di samping Lusia.
"Udah lama ngga ketemu" Seloroh Ethan yang sontak membuat Lusia merasa kaget. Ia khawatir jika kedatangan Ethan akan membuat masalah dalam rumah tangga nya. Entah mengapa Bill merasa cemburu saat keduanya sedang saling berbicara dan bertatap tatapan.
__ADS_1
"Ayo Bill," Ajak Lusia seraya menarik tangan Bill untuk masuk ke dalam mobil. Namun Ethan langsung meraih tangan Lusia dan memegangnya erat erat. Bill tidak tinggal diam, ia langsung mendaratkan telapak tangannya di pipi Ethan dan meninggalkan bekas merah.
"Jangan sentuh istri saya" Ucap Bill dengan sejelas jelasnya. Ethan memandang sinis wajah Bill, ia tidak menghiraukan ucapannya dan masih saja memegang tangan Lusia.
"Tuan ngga tau apa apa, sebaiknya diem" Sembur Ethan dengan raut wajah kesal.
"Ethan, aku mau bicara sama kamu" Kata Lusia sambil menarik lengan Ethan agar bisa sedikit menjauh dari Bill. Bill yang kini berdiri sebatang kara di samping mobilnya lantas tidak perduli dengan sang istri. Ia pun masuk ke dalam mobil dan langsung merebahkan tubuhnya di kursi mobil.
***
"Ethan, stop! Jangan ganggu rumah tangga aku" Lusia kesal. Ia berbicara pada Ethan dengan sedikit ngotot.
"Aku ngga bermaksud deketin kamu," Jelasnya. Ia tak ingin Lusia salah paham dengan sikapnya yang seperti ingin merebut istri orang.
"Lalu?" Tanya Lusia. Ia benar benar heran dengan sikap Ethan yang terus terusan seperti ini terhadapnya.
"Aku ngerti, kamu udah punya suami. Ngga mungkin juga aku ambil kamu dari Bill. Aku cuman pengin sekali kali kita bisa ketemu, udah itu doang"
"Huh, Lusia... aku pengin ngomong sesuatu sama kamu. Tapi berat bagi aku buat ungkapin yang sebenernya" Batin Ethan. Ia masih saja mematung di tempat tersebut meskipun Lusia sudah pergi dengan mobilnya bersama Bill.
☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎
"Bill, tadi--"
"Ya, aku ngerti" Balas Bill dengan suara dingin. Wajahnya terlihat acuh tak acuh sambil terus fokus mengendarai mobilnya.
"Kamu.... ngga marah, kan?" Tanya Lusia memastikan bahwa pria yang kini berada di sampingnya tidak ambil hati dengan kejadian tadi.
"Cukup. Ngga perlu diperpanjang"
Lusia pun terdiam, kini dirinya tidak berani untuk melanjutkan penjelasannya lagi. Ia terus memandang ke arah Bill, wajahnya terlihat jengkel namun tidak mungkin juga ia cemburu karena Lusia sempat berbicara berdua dengan Ethan di hadapannya.
Setelah memakan waktu cukup lama di perjalanan, mereka pun akhirnya tiba di kediaman Amedeo. Bill langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa membukakan pintu mobil untuk Lusia terlebih dahulu.
__ADS_1
"Bill? Dia kenapa?" Tanya Lusia pada dirinya sendiri.
***
"Huh...." Bill menghembuskan nafasnya panjang panjang. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Kedua bola matanya sudah tertutup rapat tidak kuat lagi menahan rasa kantuk. Namun dirinya juga tidak mungkin bisa tidur dengan perut kosong.
Tanpa berpikir panjang, Bill kembali bangkit dari ranjang dan menuju ruang makan. Setibanya di ruang makan, ia melihat Lusia yang tengah memakan kue di sana. Bill duduk, ia tidak menatap wajah Lusia sama sekali.
"Pelayan, bikinin aku pancake," Ucap Bill pada seorang pelayan yang berada di dapur. Pelayan itu pun dengan sigap langsung melaksanakan perintah dari sang Tuan.
Suasana di ruang makan saat ini terlihat canggung. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun diantara keduanya. Ditambah dengan Bill yang hanya terfokus melihat sekeliling ruangan tanpa memandang Lusia membuatnya menjadi heran.
"Dia kenapa, sih? Apa gara gara tadi?" Lusia bertanya tanya dalam hatinya dengan rasa yang begitu penasaran dengan sikap Bill yang tiba tiba berubah drastis.
Setelah cukup lama menunggu, pelayan itu pun datang dengan membawa sebuah pancake di tangannya. Ia meletakkan pancake tepat di depan mata Bill. Setelahnya pelayan itu langsung menjauh dari hadapan sang Tuan.
Drrrttt... drrrttt... Telepon Lusia berdering. Ia bangkit dari kursi ruang makan lalu berjalan menaiki anak tangga. Ia sengaja menjauh dari Bill saat mengangkat panggilan telepon meskipun itu panggilan dari Vien.
"Halo, Vien?" Sapa Lusia setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Ah, Nyonya. Selamat malam, maaf jika saya mengganggu waktu malam Nyonya"
"Ngga kok. Ada apa?"
"Besok ada meeting dengan klien, meeting akan dipercepat 1 jam. Saya harap Nyonya bisa bersiap lebih pagi lagi agar bisa cepat tiba di perusahaan. Besok juga saya akan menjemput Nyonya lebih pagi dari biasanya" Balas Vien.
"Mmmmm.. oke oke"
"Baiklah, terima kasih Nyonya"
"Iya... Vien"
Bersambung....
__ADS_1