[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 49


__ADS_3

Happy Reading~


Malam semakin larut. Udara malam terasa begitu dingin di tubuhnya. Vien tak luput dari jalanan itu. Ia masih setia menunggu jalan nya dibuka agar ia bisa tiba di hotel. Setelah sekian lama, akhirnya jalanan itupun bisa di lalui kembali. Beberapa kendaraan yang juga berada di sana mulai menginjak gas nya dan kemudian saling menyalip. Lalu lintas menjadi tidak teratur karenanya.


"Huh... akhirnya" Hembus nya sembari menginjak gas dengan kencang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang perjalanan, hanya ada suara kendaraan yang terlintas ditelinga Vien. Ia merasa bising dengan hal itu.


Zrasshhhhh!!!! Hujan deras tiba tiba menyerbu kota itu. Vien mulai cemas karena jalanan yang gelap tidak mampu ia lihat meskipun sudah menyalakan lampu mobilnya. Apalagi hujan yang disertai dengan guntur membuat suasana menjadi mengerikan.


Ckitt____ Vien tak sengaja rem mendadak ketika melihat sebuah mobil yang begitu familiar. Ia yakin bahwa mobil yang baru saja berpapasan dengannya adalah mobil milik sang Tuan. Namun ia tidak ambil pusing dengan hal itu dan melanjutkan perjalanannya menuju hotel.


Selang beberapa waktu, Vien pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Ia keluar dari mobil setelah memarkirkan nya di basement. Kemudian berlari menuju lantai pertama di hotel tersebut. Vien menaiki sebuah lift agar bisa cepat sampai di lantai tujuan. Namun karena lift yang masih diperbaiki membuatnya hanya bisa melalui tangga menuju lantai atas.


"Kalo harus naik tangga kayanya bakal makan waktu. Aku coba bilang ke penjaga dulu deh" Gumamnya pelan. Ia pun berlari menghampiri seorang pria yang tengah menjaga di masuk pintu hotel.


"Selamat malam, Pak" Sapanya sembari membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Pria itu juga membalasnya demikian.


"Malam, ada apa Tuan?" Tanya pria itu dengan ramah. Ia juga tak luput dari senyuman yang mengembang diwajahnya.


"Apa lift nya masih cukup lama untuk diperbaiki?" Jawabnya sekaligus bertanya.


"Iya, tadi sempat ada masalah pada lift. Jadi harus diperbaiki. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ummmm, saya ingin menanyakan sesuatu dengan manager hotel"


"Bu manager sedang tidak ada di sini. Sudah 2 hari beliau mengambil cuti ke pulau Jeju"


"Oh, kalau begitu baiklah. Lain kali saja saya bertemu dengannya, saya permisi"


"Oh.. iya silahkan"

__ADS_1


Karena orang yang ia cari tidak ada, Vien pun terpaksa kembali menuju mobilnya yang sempat ia parkir kan di basement. Ia merebahkan kepalanya di kursi mobil sambil perlahan menutup kedua bola matanya. Kali ini sudah tidak ada harapan lagi bagi Vien untuk menyelidiki alasan kenapa Lusia sempat menangis setelah keluar dari hotel.


"Kayanya ngga ada cara lain" Ucapnya dengan jengkel sembari memukul setiran mobil.


Setelah terdiam cukup lama di sana, Vien tiba tiba memiliki cara lain yaitu dengan menemui pelayan hotel. Kenapa baru kepikiran sekarang? Mungkin saja ini efek karena ia sudah terlalu lelah. Kemudian Vien langsung bangkit dari kursinya dan bergegas masuk kembali ke dalam bangunan besar itu.


"Ah, permisi...." Sapanya pada seorang wanita yang tengah berdiri sebagai karyawan hotel di tempat pembayaran.


"Iya Tuan, apa anda ingin memesan kamar?" Tanyanya dengan suara lembut yang mampu melelehkan hati Vien.


"Saya mau tanya sesuatu" Tuturnya pelan dengan wajah yang terlihat begitu dingin seperti es batu.


"Oh, silahkan"


"Apa tadi sempet ada masalah di lantai.... emmm... " Ucapnya terjeda sambil mengingat kembali lantai yang tengah Lusia kunjungi sebelumnya. Setelah sesaat, ia baru sadar bahwa Lusia tidak sempat memberi tahu lantai pertemuannya dengan seorang klien.


"Tuan?" Wanita itu mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Vien yang terlihat bengong. Sontak Vien pun dibuat kaget olehnya.


"Ma--maaf. Saya tidak jadi bertanya" Ujar Vien sambil menahan rasa malu. Wanita itu hanya tersenyum kecil melihat perangainya. Kemudian Vien berjalan kembali menuju basement. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Tanpa berpikir panjang, Vien langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi bahkan belum pernah sekalipun ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan setinggi itu.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Ckittt..... Sebuah mobil terdengar berhenti di halaman rumah Amedeo. Lusia yang tengah berada di taman belakang pun tidak sampai mendengar suara mobil berhenti. Kini Lusia hanya terdiam tanpa benda apapun di tangannya. Ia melamun menatap setiap bunga yang berada di taman tersebut.


"Ah, Nyonya" Panggil seorang pelayan yang tak sengaja melihat Lusia berada di taman belakang yang hanya seorang diri. Apalagi di malam yang sudah begitu larut.


"Aiya... kenapa?" Tanyanya yang sempat terkejut karena kehadirannya yang tiba tiba.


"Ini sudah malam. Sebaiknya anda masuk, jika tidak anda bisa sakit nanti...." Tutur nya dengan suara lirih. Kemudian Lusia pun masuk ke dalam rumah bersama pelayan tadi.

__ADS_1


Saat hendak menaiki anak tangga, ia tak sengaja melihat sang suami tengah keluar dari mobil. Lusia dengan cepat berlari menaiki anak tangga dan kemudian mengambil seember air dari dalam kamar mandi. Lantas dirinya berdiri di atas tangga dengan sebuah ember berisi air di tangannya.


BYURR!!!! Lusia menumpahkan air itu pada seseorang yang berada di bawah tangga. Ia tersenyum, lalu menatapnya dengan sinis.


"Berapa wanita?" Tanya Lusia sembari menghampiri Bill yang kini telah basah kuyup karena ulahnya.


"Aku tanya sekali lagi, berapa wanita?!!!!!" Lusia mengulangi pertanyaannya, namun kini dengan suara yang terdengar seperti sedang mengeluarkan seluruh amarahnya.


"Apanya yang berapa wanita?" Ucapnya berpura pura polos. Lusia tersenyum, kedua bola matanya kini telah membendung sebuah air yang tak mampu ia tahan. Tanpa ia sadari, cairan bening telah membasahi pipi putihnya. Bill yang melihat sang istri tengah menangis di hadapannya lantas menjadi heran.


"Dasar ngga punya hati!" Plak!!!! Ia mendaratkan telapak tangannya di wajah Bill. Namun Bill hanya terdiam karena masih belum mengerti apa maksud dari pertanyaan Lusia. Hal itupun tak sengaja diketahui oleh beberapa pelayan yang akhirnya menjadi tontonan mereka lantaran Lusia berani menampar Bill.


Bill tersenyum kecil, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Lusia dengan jari telunjuknya yang diarahkan di antara hidung dan bibir Lusia.


"Jangan berisik" Ucapnya lirih sambil tertawa lepas.


"Kamu udah gila?" Tanya Lusia. Matanya terlihat merah setelah mengeluarkan begitu banyak air mata.


"Kenapa aku yang harus gila? Kenapa bukan kamu?" Celoteh Bill membuat Lusia ingin menghabisinya.


"Hhh... hhhh..... hahahaaa!!!" Belum lama Bill tertawa lepas, kini tinggal Lusia. Entah apa yang membuatnya tertawa seperti orang gila dengan berjalan mondar mandir di hadapan sang suami.


"Iya, aku emang udah gila dari dulu. Aku gila udah nikah sama kamu, kalo boleh jujur.... aku masih mending hidup di keluarga miskin daripada nikah sama kamu" Sontak kata kata yang baru saja terlontar dari mulutnya membuat Bill menjadi emosi. Ia mendekati Lusia dan tidak segan untuk memukulnya.


Prak!!!! Ia memukul kepala sang istri dengan tangannya sendiri. Bahkan sebelumnya Bill tidak pernah melakukan hal itu terhadap Lusia. Lusia tercengang, tidak menyangka Bill akan melakukan hal yang sama dengan perlakuan keluarga serta temannya di sekolah.


"Kalo gitu, apa mau kamu?" Tanyanya sambil memandang sinis wajah Lusia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2