[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 13


__ADS_3

Happy Reading~


Setelah cukup lama menonton film di bioskop, mereka pun akhirnya kembali ke apartemen dan beristirahat. Mereka langsung menuju ke ruangan apartemen masing masing. Belum sempat berbaring di ranjang, seseorang tiba tiba menelepon Lusia.


Drrttt.... Lusia segera mengangkat panggilan itu. Dan ternyata Bill lah orang yang tengah meneleponnya.


"Halo?" Sapa Lusia.


"Ada apa?" Tanya Lusia berharap kalau Bill menanyakan keadaannya sekarang ini.


"Tadi Ayah telfon, dia bilang kalo Ayah sama Ibu baru aja ke tempat penginapan yang mereka saranin buat kita bulan madu, mereka ada niatan mau temuin kita" Jelas Bill dengan suara yang agak sedikit berbeda dari biasanya. Jika dipikir pikir, Bill seperti orang yang sedang kebingungan.


Flashback on....


Jasper menghubungi Bill~


"Kenapa?" Tanya Bill setelah mengangkat panggilan dari sang Ayah.


"Kamu sekarang lagi dimana?" Tanya Jasper dengan nada sedikit tinggi.


"Aku? Aku lagi di---" Ucapan Bill terhenti.


"Ayah sama Ibu lagi ada di tempat kalian bulan madu. Tapi waktu kita tanya ke penjaga di sana katanya atas nama Bill Amedeo ngga ada. Sekarang kamu ini lagi dimana?!!" Jasper mengulangi pertanyaannya. Ia merasa heran dengan keberadaan sang anak dan menantu.


"Jadi aku itu milih bulan madu di Washington, Amerika Serikat. Karena menurut aku tempat di sana lebih bagus" Bill berbohong.


"Oh, gitu. Ayah sama Ibu kira kalian lagi ada masalah sampe sampe ngga ada di tempat ini"


"Ngga,"


"Ya udah, aku matiin teleponnya, ya" Lanjut ucap Bill sambil mematikan panggilan teleponnya.


**Flashback off**


"Terus aku harus gimana?" Tanya Lusia merasa kebingungan. Sejak awal dia juga sebenarnya sudah tidak setuju dengan rencana dari Bill. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa selain menuruti apa kata Bill. Jika memang rencananya akan berhasil, berarti ia beruntung. Tapi jika gagal, lagipula itu juga bukan salahnya melainkan kesalahan Bill.

__ADS_1


"Aku cuman kasih tau kamu" Seloroh Bill dengan sinis. Kemudian panggilan itu tiba tiba di akhiri oleh Bill.


"Dasar sinting" Batin Lusia.


***


2 Minggu telah berlalu. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Lusia pergi ke Amerika. Tapi sore itu ia langsung dihubingi oleh Bill.


"Nanti malem kamu pulang ke Indonesia. Tiket udah aku beliin dan kamu tinggal pergi ke bandara aja," Ucap Bill memberitahu pada Lusia kalau Lusia akan pulang ke Indonesia nanti malam. Rasa senang dan sedih terasa dalam dirinya. Dia senang karena akan pulang ke Indonesia. Namun di sisi lain, dia juga sedih karena ia harus meninggalkan sahabatnya yaitu Cattie.


"Oke, makasih udah kasih tau"


Tak lama setelah itu, Lusia pun segera bersiap siap untuk nanti malam. Dia menata semua pakaian yang sebelumnya ia bawa dan dimasukkan nya ke dalam koper. Tidak lupa ia juga membawa hadiah yang pernah Cattie berikan padanya.


Malam pun tiba, suasana di apartemen itu begitu mengharukan karena perpisahan Lusia dengan Cattie. Ditambah dengan hujan deras dan badai petir yang menyerang kota.


"Terima kasih karena selama ini anda sudah mau menjadi teman saya di sini. Saya jadi merasa tidak kesepian," Ucap Lusia diiringi dengan isak tangis.


"Aku berharap kita akan bertemu lagi" Cattie mengusap air matanya kemudian memeluk erat tubuh Lusia.


"Selamat tinggal," Teriak Cattie pada Lusia yang sudah berada di dalam pesawat. Tak lama setelah itu, pesawat pun melandas dan meninggalkan area tersebut.


Dari atas terlihat Cattie yang masih setia menatap pesawat itu dengan tangan yang melambai-lambai pada Lusia. Meskipun hujan deras dan badai petir menyerbu, Cattie tetap masih ingin berdiri di sana sampai pesawat itu tidak terlihat lagi di matanya. Rasanya berat jika meninggalkan tempat itu sebelum pesawat itu hilang dari pandangannya.


12 menit telah berlalu dan pesawat itu tiba tiba kehilangan kendali disebabkan oleh badai. Lusia merasa panik karena pesawat itu terombang ambing angin besar. Dia manatap bumi yang sudah tertutup oleh awan gelap dari jendela pesawat.


"Harap semua penumpang untuk tetap tenang dan tetap berada di kursi," Suara itu muncul dari speaker saat keadaan penumpang sudah tidak baik baik saja. Para penumpang berteriak dan berlarian ke sana kemari karena panik dengan pesawat yang sudah hilang kendali. Berbeda dengan Lusia yang masih terduduk di kursinya, dia terus berdoa pada Tuhan agar Tuhan menyelamatkannya.


Tapi takdir berkata lain, pesawat itu akhirnya terjatuh ke laut karena cuaca yang sangat buruk membuat pesawat itu sulit dikendalikan.


"Apa aku bakal mati sebelum tiba di Indonesia???" Batin Lusia sambil meneteskan air matanya.


_____________________________________


Gangnam, Korea Selatan~

__ADS_1


"Tuan!!! Tuan!!" Asisten Leon berteriak sambil berlari ke arah Bill yang sedang santai menikmati kopi di cafe pagi itu.


"Apa?!!" Tanya Bill merasa kesal dengan sikap Leon yang tiba tiba aneh.


"Pesawat!!!! Pesawat!!! Itu, Lusia!" Ucap Leon dengan suara nafas yang tidak beraturan karena habis berlari.


"Ngomong yang jelas, dong. Jangan bikin aku bingung. Ckck! Kalo kamu udah ngga berguna buat ngomong, mending aku pecat" Cetus Bill dengan tangan yang masih setia dengan segelas kopi.


"Pesawat yang ditumpangi Lusia jatuh ke laut di Amerika!!" Lanjut ucap Leon yang sontak membuat Bill tidak dapat berkata apa apa.


Belum sempat menghabiskan kopinya, dia langsung berlari menuju mobil dan menyuruh Leon agar mengendarainya.


"Cepat! Kita ke bandara!" Perintah Bill dengan wajah yang terlihat begitu panik.


"Baik, Tuan" Balas Leon sambil menginjak gas nya dengan kecepatan tinggi.


Tidak menggunakan waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di bandara dan langsung memesan tiket perjalanan ke Amerika.


Setelah lama berada di perjalanan menuju ke Amerika, mereka pun akhirnya sampai di TKP. Beberapa penumpang yang ditemukan sudah dalam keadaan tanpa nyawa. Bill yang melihat hal itu tangannya gemetaran, dia takut jika Lusia juga akan kehilangan nyawanya.


"Pak, apa ada orang yang selamat?" Tanya Bill sedikit ngotot pada polisi itu.


"Tuan sabar dulu. Jika ada keluarga Tuan yang menumpangi pesawat ini silahkan Tuan tunggu kabar selanjutnya" Jawab polisi itu sambil berjalan meninggalkan Bill yang masih berdiri di sana bersama Leon.


"Tuan, Tuan yang sabar ya. Semoga Lusia baik baik aja" Ucap Leon berusaha agar bisa menenangkan Bill.


Karena mereka belum sempat beristirahat saat tiba di Amerika, Leon pun mengajak Bill agar mereka beristirahat dulu sampai ada kabar mengenai Lusia. Apalagi cuaca di sana sedang buruk yang bisa menyebabkan flu.


Mereka pergi ke sebuah hotel yang cukup jauh dari TKP agar bisa menenangkan diri. Tiba di sebuah hotel, Bill memesan dua kamar agar mereka bisa tidur di kamar yang berbeda.


"Tuan ngga perlu sedih," Cetus Leon ketika melihat raut wajah Bill seperti sedang kehilangan seseorang.


"Aku bukannya sedih, sebenernya juga aku ngga perduli sama Lusia. Aku cuman khawatir kalo orang tua aku tau soal ini" Papar Bill dengan wajah kesal menatap pada Leon.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2