[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 83 [S2]


__ADS_3

Happy Reading~


Ruangan yang begitu sunyi, hanya ada suara detik jam yang terus berputar. Semua orang sudah beristirahat di tempatnya masing masing. Waktu menunjukkan pukul 00.13 dan Lusia masih terduduk di sofa menanti kepulangan sang suami. Beberapa kali dirinya menoleh ke arah jarum jam, dan dilihatnya waktu malam yang sudah semakin larut. Dia berjalan menuju pintu keluar masuk kamar. Langkah kakinya terus bergerak sampai tiba di sebuah ruangan dapur.


Kriett.... Lusia membuka lemari es dan menemukan beberapa makanan didalamnya. Segera mungkin ia meraih sekotak susu untuk menemaninya malam ini. Yah, tidak hanya susu. Dia juga mengambil roti tawar serta nutella untuk mengganjal isi perutnya.


Tap tap tap. Terdengar sebuah suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ia menoleh, dan mencari sumber suara tersebut. Lalu dilihatnya seorang pria dengan raut wajah kelelahan.


"Bill? Kenapa baru pulang?" Tanya Lusia sekaligus merasa terkejut akan kedatangan Bill yang tiba tiba.


"Yah, karena ada sedikit masalah... jadi aku harus lembur buat selesaikan masalah itu" Jawabnya sambil tersenyum pada wanita yang berdiri di hadapannya.


"Sana ke lantai atas. Kamu harus mandi dulu habis itu makan malam. Kamu belum makan, kan?" Tanya Lusia memastikan. Lalu Bill menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepala.


Bill langsung beranjak pergi dari tempat itu menuju kamarnya untuk mandi terlebih dahulu. Dia masuk ke dalam bak dan menyalakan shower agar bisa menggunakan air panas. Selang beberapa waktu, Bill pun keluar dari dalam kamar mandi dengan aroma vanilla yang segar di tubuhnya. Dia mengenakan pakaian piama malam ini.


"Ayo di makan" Ucap Lusia ketika Bill telah duduk di kursi ruang makan. Wanita itu bisa mencium aroma vanilla segar pada tubuh suaminya.


"Habisin ya!" Lanjutnya. Bill pun memakan makanan buatan Lusia dengan sangat lahap. Entah karena kelaparan atau karena merasakan sensasi enak pada makanan itu.


Begitu waktu menunjukkan pukul 01.00 tepat, keduanya pun bersama sama menuju kamar untuk beristirahat. Sebelum memejamkan kedua bola matanya, Lusia sudah memasang alarm untuk besok pagi agar tidak terlambat bangun.


Drrtttt.... belum juga memejamkan matanya, ponsel Bill tiba tiba berdering. Hal itu membuat Bill tidak jadi beristirahat, terpaksa harus mengangkat panggilan tersebut. Begitu melihat layar ponselnya, ternyata Jasper lah orang yang tengah menghubungi Bill.


"Halo, Ayah?" Sapa Bill dengan suara lemas dan mata yang menahan rasa kantuk berat. Kemudian muncul suara seorang pria dengan diiringi isak tangis.

__ADS_1


"Halo, kenapa? Ayah!!!!" Bill panik, ia turun dari ranjang dan mengambil kontak mobilnya yang terletak di atas lemari kecil sebelah ranjang. Sontak hal itu membuat Lusia ikut merasakan panik, dia juga ikut beranjak turun dari ranjang.


"I--ibu kamu... Bill" Kata Jasper masih dengan isak tangis.


"Kenapa? Ibu kenapa?"


"Sekarang kamu ke rumah kami. Cepat!!!!" Lontar nya dengan nada tinggi. Kemudian Bill pun langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


"Ada apa, Bill?" Tanya Lusia tidak kalah khawatirnya dengan Bill.


"Ayo," Pria itu langsung menarik lengan Lusia. Keduanya masuk ke dalam mobil, dan dengan cepat Bill langsung menginjak gas mobil tersebut. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut akan ada hal yang tak diinginkan terjadi pada Ibunya.


"Bill, sebenernya ada apa? Jujur aku ngga ngerti apa apa, aku bingung" Tanya Lusia masih dengan rasa penasaran dalam dirinya. Tanpa disadari, ternyata cairan bening telah membasahi pipi pria itu.


"Bill! Kamu kenapa????" Lanjutnya masih terus bertanya. Namun pria yang duduk di sebelahnya itu tidak menggubris nya, dia masih terlihat sibuk dengan kemudi di tangannya.


"Ibu? Dimana Ibu??" Teriak Bill sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Tidak ada sopan santun nya itu anak asal masuk ke dalam rumah orang lain.


Seseorang muncul dari balik pintu, ia adalah Jasper. Wajahnya telah dipenuhi oleh air mata yang keluar dari kedua bola matanya.


"Apa yang terjadi sama Ibu?" Tanya Bill. Matanya itu terlihat memerah, bahkan terlihat sedikit sipit.


"Ibu? Astaga... apa yang terjadi sama Ibu?" Batin Lusia. Dia hanya bisa terdiam karena tidak pantas untuk ikut campur pada hal yang belum ia ketahui.


Orang orang tersebut pun masuk ke dalam sebuah ruangan kamar. Dan terlihat seorang wanita tengah tergeletak di lantai dengan tubuh yang berlumuran dengan darah.

__ADS_1


Deg?!!! Jantungnya seakan berhenti, melihat sang Ibu dalam kondisi mengenaskan di depan matanya. Bill langsung terduduk lemas dan memeluk wanita itu. Dia terus menangis dan menangis, tidak dapat mengontrol dirinya.


"Kenapa Ibu bisa kaya gini? Apa yang sebenernya terjadi? Huh, mana perut aku sakit banget" Keluh Lusia dalam hati. Rasanya bayi yang ada dalam perutnya itu marah sampai membuat ia kesakitan.


"Uh!!! Aduh, perut aku..." Lusia memegangi erat perutnya, dia tidak tahan dengan rasa sakit ini.


"Lusia! Kamu kenapa?" Tanya Bill, dia langsung menoleh pada sang istri.


"Bill, sakit banget...." Lusia terus merintih kesakitan, dan membuat Bill terpaksa harus meninggalkan Ibunya dalam kondisi seperti ini. Dia membawa Lusia masuk ke dalam mobil dan secepatnya menuju rumah sakit. Yah, pria itu lebih memilih kesehatan calon bayi dan istrinya dibandingkan dengan menangisi sang Ibu yang belum tentu masih hidup.


Tidak menggunakan waktu lama, Bill dan Lusia akhirnya tiba di sebuah gedung rumah sakit yang begitu besar. Sudah pasti rumah sakit yang hanya dikunjungi oleh orang orang konglomerat saja. Lusia langsung dibawa menuju ruang Ibu hamil untuk diperiksa oleh dokter kandungan. Sedangkan Bill hanya bisa menunggu di depan ruangan dengan perasaan cemas.


"Tuhan, kenapa masalah muncul gitu aja? Jawab aku Tuhan!!!" Batin Bill dengan perasaan kesal.


Tidak berselang lama, Bill pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Wajah wanita itu terlihat pucat dengan tangan yang terus memegang bayi yang ada di dalam perutnya.


"Lusia, kamu.... baik baik aja, kan?" Tanya Bill seraya mengelus kepala sang istri. Lusia pun hanya menggeleng sebagai tanda jawaban. Namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.


"Dokter, istri sama anak saya ngga papa kan?" Tanya Bill menatap dokter itu.


"Ada sedikit masalah yang membuat istri anda harus melahirkan anak dalam kandungannya sekarang" Balas dokter itu.


Bill menoleh dan menatap Lusia, wajahnya masih terlihat pucat. Ia pun jadi merasa bersalah karena telah membawa Lusia ke kediaman orang tuanya.


Andai saja dirinya tidak membawa Lusia ke tempat itu, mungkin istri dan calon anaknya akan baik baik saja sekarang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2