[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 47


__ADS_3

Happy Reading~


Beberapa hari telah berlalu, sebuah matahari yang hampir tenggelam terlihat jelas melalui celah jendela perusahaan Lusia. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu menutup matanya untuk menenangkan diri sejenak.


"Huh...." Hembus nya dengan tubuh yang masih bersandar di sebuah kursi. Ia merasa sangat santai sore ini, dikarenakan pekerjaannya yang sudah selesai sejak tadi siang.


Kring!!! Suara telepon perusahaan tiba tiba berbunyi. Lusia segera mengangkat panggilan tersebut yang pastinya akan ada sesuatu yang membuatnya sibuk.


"Halo, ada apa?" Tanya Lusia setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Ini Bu, ada klien yang ingin bertemu dengan anda" Jawabnya.


"Apa ibu sedang sibuk?" Imbuhnya bertanya.


"Ah, ngga kok. Persilahkan aja dia buat ke ruangan saya. Saya tunggu sekarang" Papar Lusia yang kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


Selang beberapa waktu, suara ketukan pintu terdengar dari luar pintu ruangan kerja miliknya. Ia pun segera membukakan pintu itu untuk seseorang yang hendak bertemu dengannya.


"Halo, selamat sore.... silahkan masuk" Sapa Lusia seramah mungkin. Pria itupun masuk dan kemudian mereka duduk berhadapan di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Apa anda ada waktu luang untuk nanti malam?" Tanya pria itu dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. Namanya adalah Daniel. Seorang klien lama yang berkerja sama dengan perusahaan Lusia.


"Aiya... ada sih" Jawabnya singkat.


"Kalo begitu, nanti saya ingin bertemu dengan Bu Lusia. Tapi saya ingin membuat janji pertemuan kita di hotel" Tutur nya yang sontak membuat Lusia jadi gelagapan.


"Hotel?" Ia memastikan. Lantas Daniel pun mengangguk.


"Tenang, ini cuman urusan perusahaan. Saya ngga akan macam macam" Daniel berusaha menyakinkan Lusia yang sepertinya terlihat ragu.


"Baik, jam berapa?"

__ADS_1


"Jam 20.00"


"Oke,"


Malam pun tiba, suasana kota yang begitu ramai dengan aktivitas orang orang membuat keindahan terlihat di kota itu. Apalagi toko toko yang berada di tepi jalan dengan sebuah lampu di depannya mampu menarik perhatian para orang orang yang tengah melewatinya.


Lusia mengambil sebuah jas tebal. Kemudian ia mengenakannya. Setelah selesai dengan pakaian, kemudian dirinya menata bagian hair style agar terlihat lebih indah. Setelahnya ia beranjak turun dari tangga menuju halaman rumah. Ia menunggu kedatangan seseorang yang tak lain lagi adalah Vien.


"Kenapa Bill belum pulang? Apa dia lembur lagi?" Batinnya bertanya tanya sambil melihat sekitar halaman apakah terlihat mobil milik Bill atau tidak. Tetapi hasilnya nihil, yang artinya sang suami belum juga kunjung pulang.


Setelah cukup lama menunggu kedatangan Vien, Vien pun akhirnya tiba di halaman rumah Amedeo dengan mobilnya yang biasa ia bawa. Ia memasuki halaman tersebut setelah gerbang terbuka, dan kemudian ia turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Lusia.


"Selamat malam Nyonya, silahkan naik" Ucapnya seraya membukakan pintu mobil. Lusia hanya menanggapinya dengan tersenyum lantaran dirinya yang terburu buru.


Vien melajujan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa kali dirinya melewati lampu lalu lintas dan ia selalu berhenti saat lampu menunjukkan warna merah. Lusia yang menumpangi mobil itu menjadi geram karena ia sudah hampir telat hadir dalam acara. Sekitar lima puluh menit lamanya diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba di tempat tujuan yaitu hotel Y. Lusia turun dari mobil setelah Vien membukakan pintu mobil untuknya.


"Apa perlu saya dampingi, Nyonya?" Tanya Vien lantaran dirinya yang merasa khawatir jika akan terjadi suatu hal yang tak diinginkannya seperti kejadian sebelumnya ketika Lusia di bar untuk urusan perusahaan.


"Ngga usah. Saya bisa sendiri" Balasnya yang kemudian langsung memasuki hotel tersebut. Ia mencoba mengingat lantai pertemuan dengan Daniel yang sebelumnya sudah Daniel beritahukan padanya.


"Maaf Tuan, apa saya boleh berdiri di situ?" Tanya Lusia pada seorang pria tua dikarenakan dirinya yang ingin menjaga jarak dengan pria mesum itu.


"Oh, silahkan" Pria tua itupun mempersilahkan Lusia berdiri di tempatnya sebelumnya, mereka bergantian tempat.


Begitu tiba di lantai tujuan, Lusia langsung keluar dari lift dan mencoba mencari Daniel. Saat dirinya menoleh ke belakang, tak sengaja ia melihat pria mesum tadi terus mengikuti langkahnya dari belakang. Sontak Lusia menjadi panik kalang kabut, secepat mungkin dirinya mencari keberadaan Daniel.


"Sebaiknya aku telepon dia aja" Pikirnya dalam hati sambil terus berjalan agar bisa menjauh dari pria tersebut. Lusia mengambil ponselnya dari dalam saku rok, ia kemudian menghubungi Daniel selaku orang yang hendak bertemu dengannya. Begitu mendengar sebuah deringan dari ponselnya, Daniel pun mengangkat panggilan tersebut.


"Iya, halo?" Sapa Daniel sekaligus membuka pembicaraan.


"A--anu, Tuan ada di lantai 15, kan?" Tanyanya memastikan bahwa lantai yang akan di tuju adalah lantai 15.

__ADS_1


"Sejak kapan saya bilang lantai 15? Saya kan bilang lantai 13" Ujarnya yang sontak membuat Lusia kesal. Bahkan dirinya yang kini sedang di ikuti oleh pria mesum pun tidak ada seorang pun yang membantunya.


"Kayanya dia lagi panik. Apa ada masalah?" Batin Daniel bertanya-tanya.


"Nona Lusia, apa anda baik baik saja?" Tanya Daniel lantaran merasa khawatir terhadap Lusia.


"Saya diikuti oleh pria aneh. Bisa tolong bantu saya? Saya ada di lantai 15 sekarang" Jelasnya. Kini Lusia sedang mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


"Benarkah? Baiklah, saya ke lantai 15 sekarang" Panggilan itupun di akhiri oleh Lusia. Sekarang ia sudah menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi yaitu dibalik sebuah pintu.


"Cewe tadi kemana, ya?" Ucap pria mesum itu pada dirinya sendiri. Ia berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Lusia. Lusia yang melihat pria itu sedang berkeliaran di dekat persembunyian nya pun menjadi ketakutan. Apalagi tempat ini bukanlah tempat biasa melainkan sebuah hotel untuk bertemu dengan lawan jenis mereka sebebas nya.


Belum lama setelahnya, tibalah Daniel di lantai 15. Ia mencoba menghubungi Lusia kembali untuk menanyakan keberadaannya sekarang namun sama sekali tak diangkat olehnya. Dengan langkah cepat, Daniel berlari menuju sebuah ruangan dan ia melihat sosok pria yang berlagak aneh. Ia kemudian berpikir mungkin saja orang itulah yang dianggap aneh oleh Lusia.


"Permisi, paman" Sapa Daniel setelah tiba di hadapan pria mesum tersebut.


"Ah... iya?" Pria itu terkejut saat melihat Daniel tengah berdiri di hadapannya.


"Sepertinya anda sedang mencari sesuatu, benar begitu?" tanya Daniel memastikan.


"Anda melihat cewe yang memakai jas tebal tidak? Ia memakai rok pendek" Ujarnya dengan menggerakkan tangannya.


"Apa dia mesum?" Tanya Daniel pada dirinya sendiri dalam hati.


"Iya, saya melihatnya. Dia adik saya" Bohong Daniel. Ia terpaksa mengatakan kalau Lusia adalah adiknya karena memang lebih pantas dikatakan seperti itu. Apalagi selisih umur mereka yang mencapai sepuluh tahun.


"Oh, itu adik anda? Baiklah..." Kata pria itu yang kemudian langsung mengangkat kakinya hendak pergi. Tetapi dengan cepat Daniel menghentikan langkahnya dengan menarik lengan pria itu.


"Kenapa?" Tanya pria itu sembari memutar badannya menghadap ke arah Daniel.


"Untuk apa anda mencari adik saya?" Tanya Daniel.

__ADS_1


"Tidak ada" Sontak pria itu menjadi panik dan berlari sekencang mungkin. Ia tidak menaiki lift melainkan berlari dengan melewati anak tangga.


Bersambung...


__ADS_2