![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Selang beberapa waktu, keduanya pun akhirnya tiba di kediaman Amedeo. Mereka memasuki rumah dengan langkah bersamaan, kemudian beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka.
"Selamat malam Tuan, Nyonya" Cetus salah seorang pelayan dengan sedikit membungkukkan postur tubuhnya. Lusia pun membalasnya dengan sebuah senyuman sedangkan Bill hanya terdiam sambil terus melangkah.
Mereka manaiki anak tangga dan kemudian menuju kamar masing masing untuk membersihkan tubuh mereka yang begitu kotor dan tidak enak untuk dipandang. Setelahnya Lusia memilih baju piyama dan dilanjut menuju ruang makan. Setibanya diruang makan, ia sangat terkejut saat melihat sosok Bill yang tengah memandangnya sambil terduduk di sebuah kursi. Penampilannya begitu rapih dengan jas berwarna hitam pekat yang mampu menggoda siapa saja yang menatapnya.
"Emmm... kenapa?" Tanya Lusia merasa heran dengan tatapan Bill.
"Aku mau ajak kamu dinner di restoran" Ucapnya masih dengan tatapan yang sama. Sontak Lusia pun dibuat kaget oleh ucapannya. Tanpa perlu diperintah, Lusia langsung kembali menuju kamarnya untuk mengganti baju piyama nya dengan dress berkelas.
Tidak menggunakan waktu lama, Lusia pun berlari menuju halaman rumah yang di sana sudah ada Bill yang tengah menunggunya. Namun tidak hanya Bill, ternyata Leon juga sudah berada di sana. Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang setelah mereka semua menaiki mobil.
Selama di perjalanan tidak ada yang berbicara. Hanya perang dingin serta tatapan seperti orang yang tidak saling kenal mereka lakukan. Lusia melihat angka jam di teleponnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 20.18. Tidak terasa hari sudah begitu larut. Ia beberapa kali menoleh ke arah sang suami yang duduk disebelahnya, namun Bill tidak menanggapinya. Ia hanya terfokus melihat pemandangan malam melalui jendela mobil.
Ckittt____ mobil yang tengah mereka tumpangi tak sengaja rem mendadak. Untungnya tidak ada yang terluka dalam kejadian itu.
"Ada apa?" Tanya Lusia merasa cemas. Ia khawatir jika Leon tak sengaja menabrak mobil di depannya.
"A--anu Nyonya, ada kecelakaan mobil dengan truk di depan" Tuturnya pelan sambil melihat cermin mobil bagian depan.
"Apa bisa lewat?" Tanya Bill memastikan jalur menuju restoran akan baik baik saja.
__ADS_1
"Mmmm..., tidak bisa. Aku akan mencari jalan lain menuju restoran. Tapi sepertinya butuh waktu yang cukup lama jika melalui jalur lain selain jalanan ini" Jelasnya.
"Ya udahlah," Bill pun terpaksa untuk melewati jalan lain menuju restoran meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sekitar 1 jam lamanya menghabiskan waktu di perjalanan, mereka pun akhirnya tiba ditempat tujuan. Kini ketiganya sudah terlihat lemas akibat terlalu lama di dalam mobil. Bill dan Lusia beranjak turun keluar dari mobil dan memasuki restoran tersebut. Tidak dengan Leon yang hanya menunggunya di dalam mobil.
Begitu memasuki restoran tersebut, Lusia menatap ke setiap sudut ruangan. Sepertinya restoran ini hanya biasa biasa saja, tapi ia tidak tau alasan mengapa Bill memilih restoran biasa seperti ini untuk dinner. Apalagi dia juga merelakan waktu 1 jam hanya untuk di perjalanan menuju restoran.
"Mau pesen apa?" Tanya Bill ketika mereka telah duduk berhadapan di sebuah kursi. Bill memegang sebuah buku menu dan menunjukkannya pada Lusia. Namun Lusia hanya tersenyum senyum seperti orang tidak waras, entah apa yang membuatnya tiba tiba tersenyum. Bill pun dibuat bingung oleh perangainya yang aneh.
Karena kesal Lusia tidak menjawab pertanyaannya, Bill pun mengalihkan buku menu itu dari Lusia dan dilihatnya oleh sendiri.
"Aiya.... aku pesen sama kaya kamu deh," Cetus Lusia mengalah. Ternyata Bill bukan tipe seseorang yang mudah diajak untuk bergurau.
"Pesan!" Panggil Bill pada salah seorang karyawan yang bertugas sebagai pencatat menu. Kemudian wanita itupun menghampiri Bill serta Lusia.
"Ini, ini, ini dan ini" Bill menunjuk berbagai makanan. Entah apa yang ia pilih Lusia juga tidak tau. Tetapi Lusia merasa curiga dengan makanan yang dipesan oleh Bill, apalagi tidak hanya satu atau dua saja yang ia pilih, melainkan empat hingga lima makanan. Wanita itu meninggalkan Bill setelah Bill selesai memilih menu yang ia pesan.
"Kamu pesen apa?" Tanya Lusia merasa heran.
"Apa aja" Balasnya dengan raut wajah jutek tak seperti biasanya. Lusia menyipitkan matanya dan menatap mata Bill dengan rasa penuh curiga. Namun Bill menyadarinya saat Lusia sedang menatap matanya.
"Kamu tau ngga?" Ucap Bill tiba tiba.
__ADS_1
"Apa?" Tanyanya penasaran.
"Kalo aku berhadapan sama orang yang liatin aku dengan mata sipit, aku ngga segan segan buat congkel kedua matanya" Tuturnya yang sontak membuat Lusia menjadi jengkel. Ia mengalihkan pandangannya dari Bill dan berusaha untuk tidak melirik nya.
Setelah cukup lama menunggu, pesanan yang mereka pesan pun akhirnya dihidangkan. Betapa terkejutnya Lusia ketika melihat banyak makanan aneh yang kini berada di meja. Ia menatap satu demi satu makanan tersebut namun tak ia ketahui makanan apa yang sebenarnya telah dihidangkan.
"Ini apa?" Tanya Lusia dengan tangan yang hendak meraih sebuah makanan yang terlihat seperti mie namun memiliki tekstur keras.
"Itu makanan yang aku pesan. Katanya kamu mau pesan makanan yang sama kaya aku" Balasnya dengan diiringi senyuman licik.
"Aku ngga tau makanan makanan apa ini!" Ucapnya dengan nada jengkel. Raut wajahnya menunjukkan wajah kesal terhadap sosok pria yang kini tengah duduk di hadapannya.
"Ya terserah kamu aja. Kalo kamu ngga mau makan juga ngga perlu, lagipula yang butuh makanan juga kamu.... bukan aku" Seloroh nya. Kini amarah Lusia semakin melonjak. Ia bangkit dari kursi dan dengan langkah kaki yang hendak meninggalkan tempat itu.
"Ah, aku mau coba" Ucapnya dengan tiba tiba sembari duduk kembali ke tempat duduk sebelumnya. Bill hanya dibuat heran dengan perangai sang istri.
"Aku ambil yang ini, ya" Kata Lusia sambil meraih sebuah makanan berwarna biru pekat. Entah makanan apa itu namun Lusia merasa penasaran dan tertarik untuk mencobanya. Suasana di restoran itu begitu ramai dengan orang orang asing yang tidak mereka kenali. Beberapa dari mereka ada yang melihat tingkah lucu dari Lusia saat hendak pergi dari tempat ini namun kembali lagi ke kursinya.
"Lusia," Panggil Bill dengan tatapan yang begitu fokus entah kemana.
"Hmmm?" Mulutnya yang penuh dengan makanan lantas membuatnya tidak bisa membuka mulut lebar lebar. Bahkan untuk berkata saja tidak sanggup ia lakukan dengan mulut penuh.
"Telan dulu" Cetus Bill karena ia melihat mulut Lusia yang dipenuhi dengan makanan. Lusia pun perlahan menelan makanan itu dan kemudian dilanjutkannya dengan minum seteguk jus jeruk.
__ADS_1
Sontak Bill langsung menarik pundak Lusia dan langsung mencium bibirnya. Lusia terkejut, jantungnya berdetak kencang seakan hampir copot. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung. Bahkan seorang karyawan yang melihat adegan itu hanya terdiam tidak mampu melakukan apapun lantaran ia mengetahui siapa Bill sebenarnya.
Bersambung....