![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Hari berganti hari, terlihat langit yang cerah. Suara kicauan burung menyambut mentari yang baru saja terbangun. Kemudian angin sejuk berhembus masuk ke dalam melalui celah celah ruangan. Kring!!!! Alarm berdering dan membangunkan sepasang suami istri itu, perlahan mereka membuka kedua bola matanya lalu melihat arah jarum jam yang terpampang di dinding kamar.
Bill bangkit dari ranjang yang juga diikuti oleh Lusia, mereka bergantian membersihkan tubuh lantaran hanya ada satu kamar mandi di dalam ruang kamar mereka. Seusai Bill membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket, kemudian Lusia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Lusia menatap wajahnya di cermin setelah keluar dari kamar mandi, ia membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kemeja hitam dengan celana panjang berwarna biru jeans. Setelahnya, ia menuruni anak tangga menuju ruang makan yang di ternyata sudah ada Bill di sana. Lusia duduk di sebelah kursi Bill yang sedang asyik melahap makanan. Lantas Lusia pun ikut memakannya.
"Ngga papa kalo Maria tinggal di sini" Ucapnya dengan makanan penuh di dalam mulut. Sontak Lusia tercengang, ia terkejut setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Yang bener?" Tanyanya memastikan. Bill pun mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Lagipula kalo Maria tinggal di rumah itu... biaya pelayan juga lebih banyak. Dan kalo Maria tinggal di rumah ini, rumah yang waktu itu ditempati keluarga Lusia bisa aku jual. Hehe.... " Gumamnya dengan wajah berseri. Lusia yang melihat ekspresi dari pria itu lantas menjadi keheranan. Tapi hal itu tak penting baginya, yang terpenting sekarang adalah Maria akan tinggal satu rumah dengannya.
Waktu menunjukkan pukul 08.12. Bill masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi. Kali ini Leon tidak bisa mendampinginya lantaran memiliki urusan pribadi dan terpaksa mengambil cuti pekerjaan. Tidak menggunakan waktu lama, Bill pun tiba di sebuah halaman perusahaan. Sebelumnya ia telah memarkirkan mobil di basement terlebih dahulu sebelum memasuki gedung perusahaan.
Ting! Ia keluar dari lift setelah berhenti di lantai 4. Bill berjalan dengan langkah cepat menuju ruang rapat. Begitu memasuki ruangan tersebut, ternyata sudah ramai orang di dalamnya. Untuk memastikan apakah dirinya terlambat datang atau tidak, Bill pun melihat arah jarum jam di tangannya.
"Masih ada waktu sekitar 20 menit buat acara rapat dimulai. Tapi kenapa mereka udah pada standby?" Pikirnya seraya duduk di tempat yang sudah ditentukan. Kali ini Bill mengadakan rapat hanya bersama dengan pegawainya, bukan bersama klien seperti sebelumnya.
☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎
"Anak anak, ada sedikit pengumuman untuk kalian. Pekan depan akan ada acara pagelaran di setiap masing masing kelas, dari kelas 10 hingga kelas 12 harus mengikutinya. Saya harap kalian bisa bekerja sama dalam acara tersebut" Jelas seorang guru selaku wali kelas. Namanya adalah Bu Elayna. Seorang wali kelas di kelas 11-2, tepatnya berada di kelas Maria.
Kring!!!! Bel istirahat berbunyi nyaring di setiap ruangan kelas, Bu Elayna pun langsung mengakhiri pembelajaran siang ini dan beranjak keluar dari kelas menuju ruang guru.
"Sial, berarti aku bakalan sibuk, dong! Ahh tenang tenang.... kamu kan sebentar lagi bakalan nikah sama Jiang. Jadi ngga perlu mikirin soal pagelaran ini" Gumamnya sambil beberapa kali tersenyum seperti orang tidak waras. Salah seorang teman Maria yang duduk di samping tempat duduknya lantas menjadi heran dan mengira kalau Maria sudah sakit jiwa akibat kematian orang tuanya yang baru beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Liat deh Maria, apa sekarang dia jadi gila?" Bisiknya di telinga teman laki lakinya. Maria yang mendengar ucapan temannya lantas menjadi kesal.
"Apaan sih! Aku ngga gila, tuh. Aku cuman lagi seneng aja, karena.... sebentar lagi aku bakal nikah" Lontar nya tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Beberapa anak dari mereka menoleh ke arahnya setelah tak sengaja mendengar ucapan Maria.
"Eh? Seriusan? Sama siapa tuh?"
"Maria, kamu ngga lagi bercanda kan?"
"Yang bener deh, kok aku jadi sedih"
Banyak pertanyaan yang keluar dari mulut mereka, Maria yang tak sanggup manahan amarahnya pun bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari kelas menuju kamar mandi sekolah.
"Sial, aku keceplosan" Ucapnya seraya menatap wajahnya di cermin. Ia melempar sebuah jepit rambut yang sebelumnya diikatkan ke rambutnya.
"Ugh, balik ke kelas aja deh"
****
"Woy! Aku serius tau" Kesal nya. Mereka pun menatap ke arah Maria yang masih mematung di pintu keluar masuk kelas.
"I--ini, kamu yakin?" Tanya teman laki lakinya yang bernama Jason. Ia sudah lama menyukai gadis di hadapannya itu, namun belum bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
"Terserah kalian aja sih kalo ngga percaya.... aku sih masa bodo" Maria langsung meraih tas nya, ia berniat untuk bolos sekolah siang ini. Tak ada satupun temannya yang mengejar Maria, karena mereka takut dengan sikap anehnya yang sekarang. Belum lama ini, sikap Maria berubah drastis. Ia menjadi lebih emosional dari biasanya, bahkan dengan seiring waktu berjalan, teman dekatnya juga semakin menjauh darinya.
"Sial sial sial!!!!" Maria menendang sebuah kaleng soda, namun suatu hal yang tak diinginkan itu terjadi. Kaleng botol itu tak sengaja mengenai kepala seorang lelaki yang sedang berjalan di depannya dengan mengenakan seragam sekolah.
"Wah jinja! Salah," Maria memutar badannya dan berlari menuju arah sebaliknya karena takut lelaki itu akan membunuhnya.
__ADS_1
"Hei! Tunggu!" Teriak lelaki itu. Suaranya yang begitu familiar di telinga Maria lantas membuatnya menghentikan langkah.
" Kak Ethan?" Maria terkejut, perlahan Ethan pun menghampiri Maria.
"Kok kakak di sini? Lagi ngapain?" Tanya Maria merasa heran. Tidak mungkin juga jika sosok lelaki dihadapannya bolos sekolah.
"A--anu, aku... aku di bubarin. Kamu,, bolos ya?!!" Ethan terkejut saat melihat Maria tengah mengenakan seragam sekolah di jalanan saat siang hari dengan penampilan yang sudah benar benar berantakan.
"Iya. Habisnya males belajar mulu"
"Mau pulang ke rumah?"
"Iya. Kakak?"
"Aku juga!"
"Gimana kalo kita main ke tempat game dulu?" Ajak Ethan dengan wajah bersemangat. Maria pun mengangguk tanda bahwa dirinya setuju untuk bermain game terlebih dahulu. Lagipula tidak ada yang akan dilakukannya di rumah di siang bolong seperti ini.
Dengan berjalan kaki, keduanya pun akhirnya tiba di tempat game hanya dengan waktu kurang lebih 30 menit. Maria yang sangat bersemangat lantas mengambil sebuah remote game mobil balap. Begitu juga dengan Ethan.
"Kamu sering ke sini?" Tanya Ethan sambil asyik memainkan game tersebut.
"Iya dong! Kali ini aku pasti menang..." Maria menyombongkan dirinya.
Setelah permainan nya berakhir, ternyata Ethan lah pemenangnya. Perkataan yang tadi ia lontarkan pada pria itu lantas membuatnya menjadi malu.
"Haha---"
__ADS_1
"Sial! Bikin malu aja deh"
Bersambung....