![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Suasana berubah mencekam. Kini tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Lusia melangkah pergi dari tempat itu. Namun saat itu juga Nara sengaja menarik tangan Lusia dan membuat Lusia menghentikan langkahnya.
"Apa?" Tanya Lusia heran dengan tingkah Nara.
"Sebenernya.... kalian ada hubungan, kan? Aku yakin banget, pasti bukan hubungan biasa" Paparnya, namun Lusia tidak menerti apa maksud perkataan Nara. Ia beberapa kali mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Nara, namun hasilnya nihil.
"Maksud kamu apa? Jujur, aku ngga paham kamu ngomong soal apa" Cetus nya. Nara tersenyum, dia tidak percaya dengan jawaban dari Lusia.
"Buat apa sih kamu bohong, ngga masalah juga kan kalo kamu ngomong yang sebenernya?!!!" Kini amarahnya sudah mulai meletup. Membuat siapa saja tidak berani ikut berbicara.
"Nara.... udah Nara... jangan emosi! Kamu bisa dipandang buruk sama orang orang di sini. Inget, ini bukan sekolah. Ini tempat umum" Ucap Catarin memberi sedikit nasehat. Nara pun mencoba untuk meredakan amarahnya, ia menarik nafas panjang panjang dan kemudian perlahan ia hembuskan.
"Tadi kamu bilang, ngga masalah kan kalo aku ngomong yang sebenernya? Terus... kalo aku ngga ngomong yang sebenernya juga ngga masalah bukan?" Sindir Lusia dengan menunjukkan senyuman licik.
"Sial, dia bukan anak biasa lagi. Kalo aku dorong dia, pasti orang orang akan berpikiran kalo aku udah celakain seorang istri CEO. Terus, aku harus apa ya?" Batinnya sembari berpikir keras.
"Kalo ngga ada urusan lagi, aku mau pergi. Kalo terus di sini aku cuman buang buang waktu aja sama orang orang yang ngga ada tujuan hidup kaya kalian ini" Lontar nya sambil melangkahkan kakinya.
Brakk!!! "Uh, Lusia! Kamu jahat, ya!!" Nara yang sebelumnya terlihat baik baik saja tiba tiba terjatuh. Teman temannya yang lain termasuk Lusia dibuat heran dengan perangainya. Namun Lusia mengerti, ini adalah trik jebakan untuknya. Catarin yang berdiri di sebalah Nara lantas langsung membantunya kembali berdiri. Kini mereka jadi pusat perhatian para pengunjung taman tersebut.
"Trik macam apa ini" Ucap seseorang yang tiba tiba datang. Suaranya begitu familiar ditelinga Lusia. Ia perlahan menoleh kan pandangannya ke belakang, dan benar saja ternyata sosok itu adalah Bill. Mereka semua sontak terkejut kalang kabut saat melihat seorang CEO menghampiri mereka.
Bill menarik lengan Lusia untuk masuk ke dalam pelukannya. Semuanya kaget saat melihat hal itu, tak terkecuali dengan Nara dan dua sejoli nya. Wajah Nara yang sebelumnya terlihat segar kini berubah menjadi pucat masam. Tidak hanya teman sekolah Lusia yang kini berada di tempat itu, namun para pengunjung taman juga ikut menyaksikannya.
"Jangan macam macam dengan istri saya" Cetus Bill yang sontak membuat beberapa dari teman sekolah Lusia itu pergi.
__ADS_1
"Maaf kak, tapi--" Sanggah Nara namun terjeda.
"Jika anda melakukan kekerasan lagi dengan istri saya, maka saya tidak akan tinggal diam! Ingat perkataan saya. Mengerti?"
"Ya ampun! Bikin malu aja deh" Batin Nara merasa kesal. Kemudian Bill dan Lusia pun pergi dari tempat tersebut meninggalkan orang orang yang menurutnya tidak berguna itu.
"Kenapa kalian diem aja, sih!" Ucap Nara dengan jengkel sembari menatap Catarin dan Ray.
"Habisnya aku ngga tau harus apa," Balas Catarin dengan kepala yang sedikit tertunduk.
"Emmmm..... aku belum pernah cerita soal ini ke kalian," Timpal Ray yang sontak membuat anak anak di sana menjadi penasaran.
"Soal apa?" Tanya Gabriel tidak sabar ingin mendengar cerita dari Ray.
"Jadi waktu itu, Tuan Bill diundang ke acara pesta perusahaan keluarga aku. Sebelumnya aku ngga tau kalo dia suami dari Lusia, karena itulah pertama kali aku liat sosok Tuan Bill yang sebenarnya. Nah, aku syok banget waktu aku ke tempat pesta itu.... karena di sana aku liat ada Lusia juga. Disana juga aku baru paham, kalo ternyata dia Tuan Bill, suami dari Lusia" Ujar Ray.
"Emmm.... kala itu kita sama sama syok. Dan Lusia ijin ke toilet, di sana aku susulin dia. Dan..... aku pukulin dia, yah karena itu udah kebiasaan aku. Tapi untungnya aja ngga ada yang tau soal ini" Imbuhnya memberitahu.
"Lain kali aku pengin rundung dia lagi. Tapi gimana caranya?" Cetus Nara.
"Kemungkinan besar kita ngga bisa apa apain dia, karena sekarang posisi kita jauh di bawahnya" Tandas Juya. Nara berpikir sejenak, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Juya.
Ditempat lain, Bill dan Lusia memasuki sebuah mobil. Lusia mengira kalau Bill datang bersama Leon, namun ternyata tidak. Bill hanya datang seorang diri dan ia juga yang mengendarai mobilnya. Lusia menatap ke arah Bill, wajahnya terlihat tidak baik baik saja. Dengan perasaan ragu, Lusia mencoba mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan di tengah tengah kecanggungan ini.
"Emmm.... Bill"
"Kenapa?" Tanya Bill sembari menoleh ke arah Lusia.
__ADS_1
"Ah, ngga jadi" Bill pun kemudian langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama diperjalanan, tidak ada diantara mereka yang membuka pembicaraan. Bahkan jalur yang dilewati oleh Bill membuat Lusia bertanya tanya dalam benaknya.
"Bill mau bawa aku ke mana? Kayanya ini bukan jalan menuju rumah ataupun perusahaan" Pikirnya.
Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 17.13. Mereka tiba di sebuah tempat yang tidak diketahui oleh Lusia. Mereka turun dari mobil dan terlihat sebuah pantai yang tidak begitu jauh.
"Pantai?" Lusia bingung.
"Ayo," Ajak Bill yang kemudian langsung menarik tangan Lusia begitu saja. Ia membawanya sampai di pesisir pantai. Kini mereka benar benar berhadapan dengan sebuah air. Karena waktu yang sudah begitu sore, membuat suasana di pantai itu lebih indah. Apalagi tidak ada satupun orang di sana kecuali Bill dan Lusia.
"Indah, kan?" Tanya Bill sambil tersenyum menoleh ke arah Lusia. Lusia pun dibuat heran dengan perangainya. Ia juga tidak tau apa alasan Bill membawanya ke pantai di sore hari.
"Kamu pasti bingung kenapa aku bahwa kamu ke sini" Cetus Bill seperti tau saja apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Jadi, aku mau ngomong alasan kenapa aku tiba tiba dateng di saat kamu lagi dirubung sama manusia manusia aneh itu" Papar nya membuat Lusia ingin sekali tertawa lepas setelah mendengar kata kata manusia manusia aneh.
"Pffttt"
"Kenapa?" Tanya Bill heran. Lusia hanya menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Sebenernya aku sempet ikutin mobil kamu dari rumah saat kamu menuju ke taman. Disana aku juga menyaksikan tingkah kamu waktu kamu berusaha buat hindarin manusia manusia itu, dan saat kamu lagi debat sama mereka.... aku ngerasa ngga bisa biarin kamu gitu aja. Akhirnya aku hampiri kamu" Jelasnya panjang lebar. Kini Lusia telah menemukan jawaban yang sempat ditanyakan pada dirinya sendiri di dalam benaknya.
"Kenapa ngga sejak awal bantu aku buat hindari mereka?" Tanya Lusia merasa kecewa.
"Karena aku mau tau se cerdik apa kamu buat lawan mereka" Tuturnya.
Bersambung.....
__ADS_1