[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 45


__ADS_3

Happy Reading~


Kini suasana diantara mereka menjadi canggung. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berperang tanpa ada yang membuka pembicaraan. Lusia mengambil sebuah tisu yang berada di atas meja tersebut, ia kemudian mengelap nya ke bagian bibirnya yang terlihat kotor.


"Sini aku bantu," Cetus Bill berusaha mencairkan suasana. Ia merebut tisu yang tengah dipegang oleh Lusia dan membantu Lusia membersihkan kotoran yang berada di bibirnya. Bukannya senang, Lusia malah semakin malu karena mereka melakukan hal romantis seperti dalam drama di depan umum.


"Makasih" Ucapnya setelah Bill selesai mengelap sisa bumbu makanan itu.


Setelah semua makanan itu habis hanya dimakan oleh mereka berdua, Bill pun mengajak Lusia untuk segera kembali ke rumah. Tetapi sebelumnya Bill membayar makanannya di kasir terlebih dahulu.


"Totalnya berapa?" Tanya Bill dengan menunjukkan sebuah catatan makanan yang ia pesan sebelumnya.


"Totalnya jadi $500" Kata sang penjaga kasir. Lantaran total harga makanan yang begitu besar, Bill pun akhirnya membayarnya melalui tranfer. Tidak lama setelahnya ia pun kembali menuju tempat parkiran bersama dengan Lusia.


Seperti biasa Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana yang begitu sunyi tampak berada di dalam mobil. Hanya ada angin yang berhembus melalui jendela mobil yang terbuka.


"Fuhhh...." Dengus Lusia. Ia merasa kedinginan lantaran angin yang terus berhembus masuk melalui jendela mobilnya. Bill yang mengetahui hal itupun langsung menutup jendela mobil. Ia juga melepaskan jas hitamnya untuk dipakai kan nya pada Lusia.


"Ah, makasih" Ucap Lusia setelah Bill memakaikan jas nya padanya. Entah kenapa hari ini Lusia merasa begitu senang berada di dekat sang suami meskipun sikap Bill yang masih terlalu kaku terhadapnya.


Sekitar 40 menit lamanya berada diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba di kediaman Amedeo. Lusia turun dari mobil dengan pintu mobil yang sudah dibukakan oleh Bill. Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Sedangkan Leon langsung beranjak pergi dari kediaman Amedeo dengan membawa mobilnya.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Lusia merasa heran lantaran Bill yang terus berada di sampingnya. Padahal sekarang ini Lusia tengah memasuki ruangan kamar miliknya.

__ADS_1


"Aku mau pastiin kamu langsung tidur" Papar nya yang sontak membuat detak jantung Lusia lagi lagi berdetak kencang.


"Aiya... tenang aja. Aku bakalan langsung tidur kok" Lusia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Namun Bill masih saja mengikutinya, bahkan sampai ikut masuk ke dalam ruang kamar Lusia.


"Duh, keluar dong!" Batinnya merasa kesal. Ia tidak tau alasan kenapa Bill masih berada di dekatnya.


"Oke, aku tidur" Ucap Lusia langsung beranjak menaiki ranjangnya kemudian menutup rapat rapat tubuhnya dengan selimut. Ia sengaja melakukan hal ini agar Bill mau segera pergi. Namun saat Lusia membuka celah selimutnya, ia masih saja melihat sosok sang suami berdiri di dekat ranjangnya.


"Kamu ngga tidur?" Tanya Lusia dengan raut wajah heran. Lantas dirinya kembali berdiri dan turun dari ranjang.


"Katanya mau tidur, kenapa sekarang malah bangun?" Celetuk Bill yang benar benar membuat Lusia semakin heran dengan perangainya.


"I--iya, aku tidur kok. Tapi aku mau minta sesuatu dulu sebelum tidur... boleh ngga?" Ujarnya sambil memohon mohon menarik tangan Bill.


"Apa?" Tanya Bill dengan suara dingin.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Kring!!!! Suara alarm berbunyi terdengar keras ditelinga nya. Perlahan Lusia membuka kedua bola matanya yang terasa berat untuk terbuka. Namun dirinya terpaksa langsung bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Begitu selesai membersihkan tubuhnya, ia memilih pakaian yang akan dipakainya hari ini untuk hadir di perusahaan. Ia menatap wajahnya di cermin sambil menunjukkan senyuman manis yang terlihat begitu mengembang diwajahnya.


Perlahan dirinya menuruni anak tangga dibarengi dengan Bill, tidak biasanya mereka menuruni anak tangga secara bersamaan untuk ke ruang makan. Setelah tiba di ruang makan, mereka langsung duduk di kursi yang biasanya mereka duduki. Lusia mengambil sebuah piring lalu mengisinya dengan makanan yang ia inginkan dan sudah dihidangkan.


Tidak lupa juga untuk menyiapkan susu serta roti untuk makanan penutup. Ah, tidak! Lebih tepatnya makanan manis, yap! Boleh saja jika ditambah dengan minuman coklat hangat kesukaan Lusia. Bill mengambil secangkir kopi yang telah dihidangkan, ia meminumnya lantaran sudah terbiasa dengan minuman itu. Tetapi Bill bukanlah tipe pria yang menyukai kopi hitam, lebih tepatnya ia hanya menyukai minuman kopi rasa popcorn.

__ADS_1


Setelah cukup lama berada di ruang makan untuk sarapan, Lusia pun bangkit dari kursi dan kembali menuju lantai atas untuk mengambil tas kecilnya yang sempat tertinggal di ruangan kamar. Begitu mengambilnya, Lusia langsung menuruni anak tangga untuk ke halaman rumah menunggu kedatangan asisten pribadinya itu. Yah, sudah pasti Vien lah orang yang tengah ia tunggu.


Belum lama ia tiba di halaman rumahnya, sebuah mobil yang tak ia kenali tiba tiba berhenti di depan gerbang besar kediaman Amedeo. Lantas karena penasaran, Lusia pun menghampiri mobil tersebut.


"Pak, tolong buka gerbangnya" Ucap Lusia pada seorang pengaawal yang tengah menjaga gerbang rumahnya. Ia pun menuruti perkataan Lusia dan perlahan membuka gerbang tersebut.


Sontak Lusia dibuat kaget oleh sosok gadis seumurannya yang keluar dari mobil tersebut.


"Lusia!" Teriaknya yang kemudian langsung memeluk erat tubuh Lusia.


"Ah, i--iya...." Lusia yang merasa tidak nyaman akhirnya mencoba untuk melepaskan tangan gadis itu dari tubuhnya.


"Kenapa? Kok kamu nangis?" Tanya Lusia, meskipun ia merasa ragu jika menanyakan hal itu padanya.


"Lusia...... hiks... hiks...." Gadis itu terus menangis dihadapan Lusia. Entah apa yang telah terjadi padanya sehingga membuatnya datang ke kediaman Amedeo. Tidak pernah sekalipun gadis itu menangis dihadapan Lusia apalagi sampai memeluk erat tubuhnya. Karena selama ini dialah orang yang selalu menyakiti Lusia bersama dengan sejoli nya. Tak lain lain gadis yang kini berada dihadapan Lusia adalah Catarin.


"Coba tenang dulu, gimana kalo kita masuk aja?" Ajaknya sambil menenangkan Catarin. Catarin mengangguk tanda setuju. Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu. Di sana terlihat Catarin yang masih terus saja merintih. Namun Lusia tetap setia menunggu sampai Catarin tenang dan mampu menceritakan kejadian yang ia alami sampai membuatnya seperti ini.


Kurang lebih 20 menit lamanya mereka hanya saling terdiam lantaran Catarin yang masih terus saja menangis. Karena kini Catarin sudah mulai tenang, Lusia pun mencoba menanyakan nya kembali.


"Cat, kamu kenapa? Kok nangis gitu? Kalo ada masalah... kamu bisa cerita sama aku" Ucapnya dengan lembut sambil mengelus pundak Catarin.


"Hiks... Lusia... a--aku"

__ADS_1


Bersambung....


Penasaran kan sama kelanjutannya? Kalian juga pasti bingung kenapa sosok Catarin tiba tiba nangis. Hehe, ayo tebak! Tebak di kolom komentar, ya.... 🍩


__ADS_2