[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 32


__ADS_3

Happy Reading~


Terik matahari menyinari kota itu. Cuaca yang begitu panas ditambah dengan aktivitas manusia dengan kendaraan mereka membuat udara menjadi kotor dan suhu yang begitu panas. Lusia menuangkan air dari termos kedalam sebuah gelas. Kemudian ia mengaduk bubuk kopi yang dicampur dengan air panas itu menggunakan sebuah sendok.


"Aku masih kepikiran sama foto ini" Cetus nya sembari mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku rok nya. Dia masih saja dibuat penasaran dengan sosok Calvin yang sebenarnya entah siapa. Apakah dia bagian dari sahabat Bill? Ataukah dia adalah bagian dari keluarga Amedeo? Pertanyaan itu terus saja terlintas di benak Lusia karena belum menemukan jawaban.


"Selamat siang, Nyonya" Sapa Vien ketika memasuki sebuah dapur yang di sana terdapat Lusia sedang memegang secangkir gelas berisi kopi panas.


"Pagi," Balasnya sambil tersenyum lebar.


"𝘝𝘪𝘦𝘯 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘊𝘢𝘭𝘷𝘪𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘩? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘊𝘢𝘭𝘷𝘪𝘯?" Batinnya.


"Vien, aku mau nanya sesuatu sama kamu" Ucap Lusia. Vien yang hendak membuka mie kemasan itu kemudian terhenti.


"Silahkan Nyonya, saya akan menjawabnya sebaik mungkin"


"Calvin itu siapa?" Tanya Lusia yang sontak membuat Vien terkejut. Sebenarnya dia tidak ingin jika Lusia mengungkit soal Calvin, sedangkan Calvin sendiri sudah dihabisi oleh Bill, suaminya sendiri.


"Ah, saya tidak tau siapa itu Calvin" Bohong Vien. Lusia hanya mengangguk pelan, dia tidak bisa percaya begitu saja dengan jawaban asisten pribadinya sendiri. Karena dia begitu yakin pasti Vien tau siapa Calvin sebenarnya.

__ADS_1


"Ya udah, aku mau ke ruangan aku dulu. Kamu lanjutin aja bikin mie nya" Papar Lusia sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan dapur tersebut. Vien pun membalasnya dengan mengangguk.


"𝘕𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘉𝘪𝘭𝘭. 𝘋𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘧𝘰𝘵𝘰 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘮𝘮𝘮𝘮, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘓𝘦𝘰𝘯? 𝘈𝘩, 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢! 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘬𝘦𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘉𝘪𝘭𝘭. 𝘈𝘱𝘢..... 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘢𝘫𝘢, 𝘺𝘢? 𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘪𝘰𝘳. 𝘋𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘧𝘰𝘵𝘰 𝘪𝘯𝘪, 𝘉𝘪𝘭𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘬𝘦𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘊𝘢𝘭𝘷𝘪𝘯"


****


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.44. Karena terik matahari yang begitu menyengat saat siang hari membuat sore hari di sana begitu mendung. Rintik rintik hujan mulai membasahi seluruh kota. Tak lama setelahnya suara hujan bergemuruh dan membuat bangunan serta jalanan di kota itu basah kuyup. Hujan yang disertai angin kencang dan guntur membuat orang orang ketakutan untuk keluar dari ruangan.


Lusia menatap hujan deras dari jendela ruangan kerjanya. Karena pekerjaannya yang tidak begitu menumpuk hari ini, diapun bisa dengan cepat menyelesaikan tugasnya. Sebenarnya dia sudah akan pulang, namun karena cuaca buruk yang tidak mendukungnya untuk pulang membuat Lusia terjebak di perusahaan.


Tok tok tok.... Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Lusia pun segera membukakan pintu tersebut dan ternyata Vien adalah orang yang tengah mengetuk pintu.


"Apa Nyonya udah selesai?" Vien bertanya balik pada Lusia.


"Hmmm, udah. Saya udah niat mau pulang, tapi kayanya cuacanya ngga baik. Jadi saya pikir nunggu agak reda aja" Lontar nya.


"Nyonya bisa pulang bersama saya," Ajaknya namun ditolak baik baik oleh Lusia.


"Ah, ngga perlu. Saya pulang sendiri aja nanti"

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau Nyonya. Saya permisi" Vien pun beranjak pergi meninggalkan ruangan kerja Lusia setelah tidak ada urusan lagi.


Selang beberapa waktu, hujan yang tidak kunjung reda itu membuat Lusia benar benar bosan berada di ruangannya sedangkan pekerjaannya sudah selesai. Ia pun memutuskan untuk pulang saja di cuaca yang begitu buruk ini.


Saat berada di depan sebuah taman, ia tak sengaja melihat Ethan tengah terduduk di taman tersebut dalam keadaan basah kuyup. Lusia segera memberhentikan mobilnya dan menepi di jalan itu. Sosok Ethan yang hanya seorang diri terlihat dari kejauhan membuat Lusia merasa sedih, namun untuk apa dirinya sedih sedangkan Ethan adalah orang yang telah membuat hidupnya sengsara.


**Flashback on**


12 tahun yang lalu, ketika Lusia masih berusia 5 tahun dan duduk di bangku TK. Ia adalah gadis yang bahagia dengan kedua orang tuanya. Lusia hidup dengan kasih sayang penuh terutama dari sang Ibu. Namun belum lama ia merasakan kasih sayang itu, ibunya telah pergi meninggalkan sosok Lusia kecil. Kabarnya sang ibu tercinta tiada karena seseorang telah membunuhnya. Namun hakim tidak mengadili, kasus kematian ibunya telah ditutup rapat rapat dan tidak ditindaklanjuti. Sebenarnya Lusia tengah menyaksikan kematian ibunya saat dibunuh oleh seorang wanita dari balik pintu. Tetapi sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengungkap ini kepada publik, tidak ada seorang pun yang mau percaya padanya. Bahkan Ayahnya sendiri juga tidak percaya dengan omong kosong Lusia. Hal itu membuat Lusia begitu sedih tak berdaya, namun ia juga tidak dapat berbuat apa apa karena hanya seorang anak kecil. Setelah kematian sang ibu, Lusia pun hanya tinggal dengan seorang Ayah. Karena kematian istrinya, Kyne sangat tidak terima dan frustasi. Lusia yang mengetahui Ayahnya seperti ingin mengakhiri dirinya itu akhirnya memberi solusi agar dia menikah lagi dengan seorang wanita. Namun yang membuat Lusia kecewa setelah Ayahnya menikah adalah, istri pilihan Kyne sangat salah. Bahkan sepersen pun kasih sayang tak ia berikan pada Lusia. Apalagi dengan kedatangan ibu tirinya yang membawa seorang gadis kecil membuatnya sangat kesal.


Sejak saat itu, Lusia bukannya mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya malah mendapatkan perlakukan buruk. Sang Ayah yang terus membela bela kesalahan ibu dan adik tirinya itu sangat membuat Lusia tertekan. Hingga akhirnya saat Kyne mendapat sebuah musibah, hal itu benar benar mengubah keadaan suasana rumah. Akibat dari pekerjaan Kyne yang terhenti membuatnya jadi stres terlebih dan suka mabuk. Sikapnya pada Lusia juga berubah 100% dan bahkan lebih mencintai keluarga baru nya.


Setelah Lusia berusia 14 tahun dan duduk dibangku SMP, ia merasa dirinya sudah cukup dewasa dan ingin mengungkap soal kematian ibunya yang sebenarnya. Namun hakim tidak mempercayai omongannya, apalagi kejadian itu terjadi 9 tahun yang lalu dan sudah lama ditutup. Lusia yang merasa dunia ini begitu tidak adil padanya, dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Namun jika ia mengakhiri hidupnya, siapa orang yang akan adil terhadap kematian ibunya.


Saat hari kelulusan, ia tak sengaja melihat sosok wanita yang telah membunuh sang ibu tercintanya 9 tahun yang lalu. Dia juga sempat melihat wanita itu kontak langsung dengan seorang anak laki-laki seumurannya. Lusia berusaha menguping pembicaraan mereka dari balik tembok. Ia sangat terkejut ketika mendengar wanita itu memanggil dengan sebutan 'sayang' pada anak laki-laki dihadapannya. Ternyata mereka adalah sepasang Ibu dan anak. Betapa sedihnya ia, Lusia langsung terduduk lemas begitu mengetahui wanita itu adalah Ibu dari temannya sendiri, Ethan. Teman yang selalu mengerti perasaannya dan selalu ada untuknya. Ternyata ibunya adalah seorang pembunuh. Kenyataan itu membuat Lusia benar benar membenci Ethan.


Namun siapa sangka, ternyata Lusia dan Ethan berada dalam satu kelas yang sama sejak duduk di kelas 10 sampai dengan kelas 12. Lusia yang selalu mendapat perlakuan buruk dari Nara dan teman satu kelasnya. Tidak ada seorangpun yang membelanya, kecuali Ethan. Sosok anak laki-laki yang benar benar ia benci karena ulah ibunya. Tetapi Lusia tidak tau, apakah Ethan telah mengetahui bahwa Ibunya adalah seorang pembunuh yang telah membunuh Ibu dari Lusia atau tidak. Ethan adalah satu satunya anak yang selalu berada di sisi Lusia selama 3 tahun ini. Selama 3 tahun ini juga Lusia tidak pernah merasa nyaman satu kelas dengannya apalagi dengan circle perundung yang selalu membully nya akibat Lusia adalah anak dari keluarga miskin.


Lusia juga tidak habis pikir dengan diri Ethan. Padahal Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di SMA ini, tidak ada seorang pun yang tau soal hubungan kepala sekolah yang sebenarnya adalah Ayah dari Ethan. Kenapa Ethan tidak melaporkan kejahatan yang telah diperbuat oleh Nara dan teman temannya pada Lusia?? Itu juga membuat Lusia semakin benci. Padahal sudah 3 tahun lamanya ia selalu tersiksa di sekolahnya, hanya Ethan satu satunya anak yang perduli dan melindungi Lusia. Tapi entah kenapa Ethan sendiri tidak melaporkan perundungan yang menimpa pada Lusia sedangkan Ayahnya adalah seorang kepala sekolah. Jadi sia sia saja jika Ethan perduli padanya, bisa dibilang ia juga sebenarnya hanya ingin membunuh Lusia diam diam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2