![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
"Aku mau minta tolong sama kamu, Lusia... aku mohon, kamu bantu aku ya" Cakap nya masih dengan diiringi tangisan.
"Iya, kamu cerita dulu apa masalah kamu. Nanti kalo aku bisa bantu, aku bakal bantu" Kata Lusia.
"Jadi, aku mau minta tolong sama kamu. Aku bener bener butuh dana buat pengobatan Ibu aku. Aku ngga tau harus minta tolong sama siapa lagi selain sama kamu"
"Hah? Bukannya... kamu itu orang kaya?" Tanya Lusia merasa kaget setelah mendengar perkataan Catarin kalau dirinya ingin meminta dana pengobatan sang Ibu.
"Yah, sebenernya aku bukan orang kaya. Selama ini aku keliatan kaya orang kaya, kan? Aku cuman sekedar berlagak aja, ngga lebih" Tuturnya yang kini dengan kepala tertunduk. Terus terang, Lusia benar benar bingung dengan perkataan Catarin.
Flasback on...
Suasana malam dengan udara dingin terasa sangat menyejukkan. Terlihat seorang gadis berjalan melewati sebuah jalanan sepi seorang diri. Kala itu waktu menunjukkan pukul 22.13. Ia terus melangkah meskipun tidak memiliki tujuan tempat yang akan ia datangi.
Drap! Gadis itu menghentikan langkahnya ketika melihat sosok wanita seumurannya berhenti tepat dihadapannya dengan sebuah mobil Ferrari. Wajahnya cantik, namun dia bukanlah wanita yang baik. Ia tersenyum sinis pada gadis itu, lalu menghampiri nya yang tengah mematung.
"Halo, aku Nara" Ucap wanita itu yang ternyata adalah Nara. Naraya Charlotte, kalian masih ingat kan dengan karakter tokoh ini? Dia adalah sosok yang telah membully Lusia habis habisan saat Lusia masih bersekolah. Dan gadis yang tengah dihampiri nya adalah Catarin Isabella atau yang biasanya disebut dengan Catarin.
"Na... Nara?" Ucapnya gugup. Ia tak tau kenapa Nara menatapnya dengan tatapan sinis padanya. Lantas karena tidak berani, ia pun menundukkan kepalanya tak mampu menatap Nara yang kini tengah dihadapannya.
"Jangan nunduk, aku ngga suka orang kaya gitu" Cetus Nara yang sontak membuat Catarin jadi mengangkat kepalanya kembali.
"Aku mau bicara sama sama kamu, ayo ikut" Ucapnya kemudian langsung menarik lengan Catarin dan memasukkan nya ke dalam mobil.
Tidak menggunakan waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di tempat tujuan yang tak lain lagi adalah tempat yang cocok untuk mengobrol yaitu cafa. Keduanya duduk di dekat pintu masuk cafe tersebut. Sebelum membicarakan hal penting, Nara lebih dulu memesan minuman yang juga untuk Catarin.
"Kamu inget aku, kan? Kita satu kelas" Ucap Nara. Yah, saat itu mereka baru saja memasuki tahun ajaran baru di SMA Jeowon. Mereka baru saja memasuki kelas 10. Catarin mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Kita jadi teman ya" Seloroh Nara tiba tiba yang sontak membuat Catarin terkejut heran. Ia tidak percaya jika ada gadis seumurannya yang ingin berteman dengannya. Karena dari sepengetahuan Catarin, dia hanyalah gadis yang terlahir dari keluarga sederhana. Meskipun wajahnya cukup menawan.
"Kenapa?" Lantas heran, ia pun bertanya.
"Hmmm... ngga papa. Kalo kamu mau jadi temen aku, nanti kedudukan kamu di sekolah bakalan tinggi. Aku bakal traktir jajan kamu setiap hari. Tapi tenang aja, aku bakal jaga rahasia soal kehidupan kamu kalo kamu itu terlahir dari keluarga sederhana" Jelasnya.
__ADS_1
Entah kenapa Catarin pun langsung menerima ajakan Nara tanpa berpikir terlebih dahulu. Setelah cukup lama menunggu pesanan, akhirnya minuman yang mereka pesan pun dihidangkan. Dan setelah membahas hal penting keduanya lantas kembali menuju kediaman masing masing.
Flasback off...
"Hiks... hiks...." Catarin masih saja menangis meskipun sudah menceritakan semua kebenaran pada Lusia.
"Aku ngga nyangka, ternyata selama ini dia juga dibawah kendali Nara" Batin Lusia merasa tidak percaya dengan kenyataan.
"Jadi lebih tepatnya... kamu cuman alat buat Nara?" Tanyanya yang kian memiliki rasa penasaran tinggi. Catarin pun mengangguk sebagai tanda jawaban.
"A--aku,,"
Flasback on....
Terik matahari begitu menyengat di siang hari. Dikarenakan cuaca panas yang cukup tinggi. Catarin mengalahkan kakinya menuju rumah Nara hanya dengan berjalan kaki. Ia benar benar membutuhkan Nara di saat seperti ini, karena Ibunya harus menjalani operasi dan ia membutuhkan dana yang cukup besar.
"Nara?" Panggilnya ketika telah tiba di halaman rumah sahabatnya. Nara membukakan pintu dengan penampilan yang sangat mengejutkan. Ia hanya memakai pakaian pendek yang tak seharusnya ia pakai pada siang hari. Yah, Nara memang hanya tinggal seorang diri di rumah sebesar ini, dia juga memiliki setidaknya dua atau tiga seorang pelayan untuk membantunya membereskan rumah.
"Ayo masuk" Ajaknya.
Mereka duduk di sebuah sofa ruang tamu, Catarin menatap Nara dengan tatapan serius. Kini tujuannya mengunjungi rumah sang sahabat bukanlah untuk bercanda melainkan untuk meminta bantuan.
"Apa?" Tanyanya dengan wajah santai seperti biasanya.
"Aku butuh dana buat operasi Ibu aku, please...."
"Pffttt" Entah apa alasan Nara tersenyum, hal itu benar benar membuat Catarin tak habis pikir dengan sifatnya.
"Kamu pikir, aku bakalan bantu kamu?!!!" Celoteh nya sembari bangkit dari sofa, ia berjalan mengitari Catarin yang masih terduduk.
"Maksud kamu?" Catarin yang tidak mengerti apa maksud dari perkataan Nara lantas bertanya,
"Selama ini kan kita cuman sahabat bohongan, terus... disaat seperti ini kamu mau minta dana? Iya??? Aku ngga ada hubungannya sama Ibu kamu, okey? Paham, kan?"
"Ha, hahah..... oh, jadi selama ini kamu itu anggap aku apa?"
__ADS_1
"Kamu cuman alat, sebenernya aku butuhin kamu buat jatuhin Lusia doang. Udah kok, ngga lebih. Apalagi anggap kamu sahabat. Cih! Ngga level" Lontar nya. Lantaran kesal, Catarin pun memukul Nara dengan tangannya.
Plak!!!!
"Catarin!"
"Apa????!!!!"
"Jangan harap kamu bisa tenang!"
"Emangnya kamu siapa ngomong kaya gitu ke aku?"
"Hubungan kita cukup sampe di sini, selanjutnya... jangan pernah lagi anggap aku sahabat" Tutur Nara yang kemudian langsung mendorong Catarin keluar dari rumahnya.
"Sial!"
Flasback off....
"Ya ampun, aku turut kasian sama kamu. Yang sabar ya...." Celetuk Lusia menenangkan Catarin.
"Kamu butuh berapa dana?" Tanyanya sambil beranjak dari sofa.
"Ka--kamu mau bantu aku?" Lusia mengangguk.
"Aku butuh $5000" Sontak Lusia pun dibuat terkejut kalang kabut. Tapi sebagai teman, dirinya rela memberikan uang sebanyak itu meskipun butuh bantuan juga dari sang suami.
"Sebentar ya. Aku ambil dulu" Kata Lusia yang kemudian langsung meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.
Setelah tuba di kamarnya, ia menelpon Bill untuk meminta uang yang ia butuhkan agar bisa membantu Catarin.
"Kenapa?" Tanya Bill setelah mengangkat panggilan telepon dari Lusia. Lantas Lusia pun menceritakan semua masalah yang tengah di alami oleh Catarin. Meskipun sempat ragu, Bill akhirnya mengirimkan uang sejumlah yang Lusia butuhkan melalui rekeningnya.
Setelah menerima uang dari Bill, dirinya kembali menuju ruang tamu untuk menemui Catarin yang masih duduk terdiam di sofa.
"Cat, kasih nomor rekening kamu. Biar aku transfer" Ucap Lusia setelah tiba di hadapan Catarin.
__ADS_1
"xxxxxxx" Selang beberapa waktu, Catarin akhirnya bisa mendapatkan uang sebesar itu dari Lusia. Orang yang pernah ia bully habis habisan di sekolah, namun siapa sangka ternyata sosok gadis itulah yang kini membantunya saat dirinya terperosok.
Bersambung....