![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Tok tok.... Belum lama Bill memejamkan kedua bola matanya, suara ketukan pintu tiba tiba terdengar di depan pintu masuk kamar miliknya.
"Huh, sial" Dengus nya sambil beranjak dari ranjang untuk membukakan pintu.
Kriett... Dia membuka pintu kamar tersebut dan mengira kalau orang yang baru saja mengetuk pintu adalah Lusia.
"Apa?" Tanyanya ketika melihat seseorang di hadapannya. Ternyata ia adalah seorang pelayan dan bukan Lusia seperti yang ia kira.
"Tuan, ada seseorang di bawah. Dia bilang dia adalah adik ipar Tuan" Pelayan itu memberi tahu kalau ada seseorang yang sedang mencarinya.
"Adik ipar?" Tanya Bill yang kedua kalinya. Dia merasa heran siapa sebenarnya orang yang mengaku sebagai adik iparnya itu.
"Iya. Dia memberi tahu ku namanya adalah Maria" Kata pelayan itu.
"Ya udah. Kamu ke bawah aja, suruh dia tunggu" Perintah Bill. Pelayan itupun segera angkat kaki dari tempat itu menuju ke lantai bawah.
Tak lama kemudian, Bill tiba di lantai bawah dan melihat sosok wanita bernama Maria yang mengaku sebagai adik tirinya.
"Siapa kamu?" Tanya Bill dengan tatapan arogan.
"Kamu ngga kenal aku? Aku itu Maria, adik tiri Lusia. Istri kamu sendiri" Jawab Maria sedikit kesal dengan pertanyaan Bill. Entah apa alasannya, Bill tiba tiba tertawa kecil dengan tangannya yang menutupi bibir tampan itu.
"Kenapa ketawa?!!" Tanya Maria dengan suara yang sedikit lantang. Bill yang tadinya tertawa kecil itu kini menatap Maria dengan tatapan mengerikan.
"Usir dia!!!" Perintah Bill pada penjaga yang berada di sana. Penjaga itupun segera menyeret Maria keluar dari kediaman Bill. Karena suasana rumah yang terlalu bising, Lusia jadi terbangun dari tidur lelapnya itu. Dengan rasa penasaran, Lusia berlari menuju ke sumber suara tersebut.
Sesampainya di lantai bawah, Lusia melihat seseorang yang sangat dia kenali. Seseorang itu menatapnya dengan tatapan benci pada Lusia.
"Maria?" Bill yang tiba tiba mendengar suara Lusia itu menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu di sini?!" Tanya Bill dengan nada yang tinggi.
"Aku ngga sengaja denger suara bising, jadi aku ke bawah buat liat ada masalah apa" Jawab Lusia dengan kepala menunduk.
"Sana pergi!" Bill mengusirnya di hadapan Maria yang sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Cih! Kamu di sini tuh jadi pelayan apa jadi istri, sih?!" Lontar nya dengan di iringi suara tawa.
"A--aku," Belum sempat berbicara, Bill sudah menghentikan ucapannya itu.
"Kamu ngga perlu ikut campur sama kehidupan rumah tangga aku. Lagipula kamu itu cuman orang rendahan yang aku pungut. Ngerti?" Kata kata itu benar benar membuat hati Maria bergejolak. Dia merasa lemas dan tidak dapat berkata apa apa.
"Kalo udah ngga ada urusan, kamu bisa pergi" Lanjut ucap Bill.
"Apaan sih?!! Aku kan tadinya ke sini mau ikut numpang tidur" Celetuk Maria membuat sangat pemilik rumah heran dengan ucapannya barusan.
Daripada Bill mengusirnya kembali, Maria pun segera angkat kaki dari rumah itu. Ternyata dia juga membawa mobil baru saat hendak menuju ke kediaman Bill, dia mendapatkan hadiah mobil dari Bill saat pernikahannya dengan Lusia.
"Adik kamu itu ngerepotin banget, deh" Ucapnya dengan langkah kaki meninggalkan ruangan tersebut, tangannya yang menyentuh rambut
pendeknya itu membuat Lusia jadi tak tahan melihat wajah tampan seorang CEO muda.
***
Suara kicauan burung membuat Lusia terbangun dari tidur malamnya. Ternyata langit sudah cerah dan waktu menunjukkan pukul 07.45. Secepat mungkin Lusia bangkit dari ranjangnya dan membersihkan diri menuju kamar mandi yang terletak disebelah tempat tidur miliknya.
Setelah selesai membersihkan diri, dia langsung melaksanakan pekerjaan yang diberikan oleh Bill mulai dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat.
"Pelayan Lusia," Ia pun menoleh ke sumber suara. Tatapan segar yang menatap mata Lusia itu membuatnya tidak ingin pergi secepat mungkin.
"Iya, Tuan?" Tanya Lusia dengan pandangan ke lantai seperti aturan yang sebelumnya sudah diberikan oleh Bill padanya.
"Hari ini kamu harus belanja ke mall. Tapi aku mau kamu ke mall pake pakaian rapi dan berkelas" Perintahnya.
"Ke mall?!!" Lusia merasa bahwa telinganya salah dengar dengan ucapan Bill barusan.
"Iya. Tapi kamu ke sana sendirian," Lanjut ucap Bill, dia tidak ingin Lusia salah paham dengan ucapannya tadi.
Begitu mendengarkan penjelasan dari Bill, dia hanya bisa pasrah dengan kenyataan. Karena dia pikir kali ini Bill berubah pikiran dan ingin berniat membenarkan hubungannya dengan Lusia. Tapi pikirannya itu salah, ternyata Bill benar benar masih menganggapnya sebagai seorang pelayan.
"Oke," Balas Lusia dengan singkat. Setelah itu Bill pun pergi karena sudah terburu buru untuk datang ke kantornya.
Setelah lama bersiap siap dan berdandan untuk menuju ke mall, seorang pria dengan wajah tak begitu asing datang menghampiri nya yang sedang berdiri di halaman rumah.
__ADS_1
"Lusia?" Pria itu membuka pembicaraan dengan menyebut nama Lusia.
"Iya?" Lusia yang merasa bingung hanya menjawab seadanya.
"Saya asisten Tuan Bill yang sudah ditugaskan untuk menemani anda pergi ke mall, nama saya Vien" Jelas Pria itu yang ternyata adalah seorang asisten dari suaminya.
"Mari masuk mobil" Ajak Vien mempersilahkan Lusia masuk kedalam mobil dengan pintu mobil yang sudah terbuka. Lusia pun akhirnya masuk kedalam mobil tersebut. Dan tak lama setelahnya, mereka sampai di depan sebuah bangunan besar yang tak lain lagi adalah mall.
Lusia turun dari mobil dengan sebuah pintu mobil yang langsung terbuka berkat remot yang dikendalikan oleh Vien. Rasa gugup dan takut terus terbayang di benaknya, karena selama ini dia belum pernah pergi ke mall sama sekali.
Mungkin karena gerak gerik Lusia yang sedikit aneh, Vien pun dengan senang hati menemaninya sampai ke dalam bangunan itu. Dia juga merasa khawatir jika Lusia tidak tau cara berbelanja di mall.
Sampai di sebuah toko sayuran yang berada di dalam mall, Lusia memilih beberapa sayuran yang akan ia beli. Semua sayuran itu terlihat masih segar dalam sebuah kemasan styrofoam dan ditutup dengan plastik bening.
Setelah selesai berbelanja di toko itu, ia segera menuju ke toko buah buahan untuk hidangan makanan penutup nanti malam.
2 jam lamanya ia habiskan waktu hanya untuk berbelanja di mall ditemani oleh Vien. Ketika hendak menuju parkiran, ia melihat sosok anak lelaki seumurannya. Wajahnya yang masih terus teringat dikepalanya itu membuat Lusia risih.
"Lu---Lusia!" Teriak anak lelaki itu. Dia adalah Ethan, seseorang yang sangat membantu Lusia saat ia masih berada di sekolah. Rasanya Lusia ingin segera pergi dari situasi saat ini, namun kakinya seperti tidak dapat bergerak sama sekali.
"Lusia......" Ethan tiba di hadapan Lusia. Air matanya itu keluar ketika tangannya mendarat di wajah Lusia.
"Maaf, lepasin" Ucap Lusia sambil menyingkirkan tangan Ethan dari wajahnya. Meskipun itu berat bagi Ethan, tapi ia juga tidak dapat berbuat apa apa karena ia tau kalau Lusia kini sudah bersuami.
"Aku..., aku pengin ngomong sesuatu yang penting sebentar sama kamu. Apa kamu ada waktu?" Tanya Ethan yang merasa tidak yakin jika Lusia mau meluangkan waktunya hanya untuk berbicara dengan dirinya.
"Aku ngga bisa, aku sibuk" Tolak Lusia. Jawaban itu membuat Ethan semakin ingin mengeluarkan air matanya. Namun ia berusaha agar tetap kuat berada di hadapan seorang wanita yang sangat ia khawatirkan selama ini.
"Aku mohon....." Ethan terus memohon di hadapan Lusia meskipun ia berada di tempat yang terbuka sekarang. Apalagi Vien yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan kejam pada Ethan membuatnya sedikit takut.
"Tolong hargai Nyonya Lusia" Cakap Vien yang berarti menyuruh agar Ethan segera pergi.
"Sebentar aja, cukup 20 menit"
"Oke, kita ngomong berdua" Tanpa angin tanpa badai, Lusia yang selama ini membenci Ethan tiba-tiba ingin berbicara dengannya hanya dengan empat mata. Ethan yang mendengar keputusan dari Lusia seketika berhenti menangis dan terlihat sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
"Tapi Nyonya,"
__ADS_1
"Ngga papa. Tunggu aku di sini sebentar, ya" Ucap Lusia pada Vien. Vien pun mengangguk meskipun sebenarnya ragu untuk menuruti apa kata Lusia.
Bersambung....