[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 64 [S2]


__ADS_3

Happy Reading~


Beberapa hari telah berlalu, awan cerah dibarengi dengan hembusan angin masuk ke dalam ruangan melalui celah jendela. Kicauan burung tedengar merdu bagai alunan musik. Suara alarm berbunyi nyaring menyambut pagi di hari yang baru. Lusia membuka kedua bola matanya, terlihat sekeliling ruangan yang tampak berbeda. Ia mengangkat tubuhnya yang terasa lemah setelah tidur dengan waktu yang cukup lama.


"Hoamm....."


"Bill, Bill?" Lusia memanggil manggil nama Bill lantaran pria itu tidak terlihat sejak dirinya terbangun tadi.


Tak lama setelahnya, pintu kamar tiba tiba terbuka dan terlihat sosok pria dengan tubuh kekar berdiri di tengah tengah pintu. Ia membawa semangkuk bubur serta susu hangat. Lalu pria itu melangkah mendekati ranjang.


"Sarapan dulu, biar aku suapin" Cakap nya seraya menyuapi sang istri. Perlahan Lusia membuka mulutnya lebar lebar, lalu sesendok bubur itu pun masuk ke dalam mulutnya.


"Enak, ngga?" Tanya Bill memasang raut wajah iba. Setelah merasakan bubur itu, ternyata rasanya lumayan enak juga. Ia pun mengangguk dan tersenyum ke arah pria di hadapannya.


"Ini aku yang masak sendiri tanpa dibantu pelayan" Imbuhnya seraya tersenyum.


"Ternyata kamu pinter masak, ya..."


Waktu menunjukkan pukul 07.44. Ini berarti sudah waktunya bagi Bill untuk segera menuju ke perusahaan bersama Leon. Sebelumnya, ia sudah berpamitan pada Lusia terlebih dahulu sebelum menuju perusahaan.


Tidak berselang lama, keduanya pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Kali ini Bill memutuskan untuk ke perusahaan MGK terlebih dahulu. Ia ingin mengecek semua hasil kerja keras Vien yang selama ini menggantikan posisi Lusia untuk sementara waktu.


"Kerja kamu bagus juga," Ucap Bill dengan suara dingin. Vien yang duduk berhadapan dengan sang Tuan itu lantas tersenyum sembari mengucapkan kata 'Terima Kasih'


Drrrttt.... ponsel perusahaan tiba tiba berdering ditengah perbincangan mereka. Lalu Vien pun meminta izin untuk mengangkat telepon tersebut terlebih dahulu.


"Halo, selamat pagi Tuan," Sapa Vien setelah mengangkat panggilan tersebut. Kini ia tengah berbicara dengan Jiang melalui telepon perusahaan.


"Saya ingin mengatur waktu untuk pertemuan kita. Apa anda sedang sibuk?" Tanya Jiang.

__ADS_1


"Ah, tidak kok. Bagaimana jika bertemu di cafe Y saja?" Vien menyarankan. Lalu hal itupun disetujui oleh Jiang. Setelah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Vien pun mengakhiri obrolan tersebut.


"Dia klien?" Tanya Bill setelah Vien selesai mengobrol di telepon. Lantas Vien pun mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Saya ikut" Lontar Bill, ia ingin sekali melihat sosok klien yang belum pernah ia temui sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat penasaran.


Selang beberapa waktu, semuanya telah berkumpul di cafe tempat perjanjian mereka sebelumnya. Sontak Jiang menjadi terkejut setelah melihat sosok Tuan Amedeo pemilik banyak perusahaan duduk bersebelahan dengannya. Meskipun sudah pernah bertemu, namun Jiang belum pernah sekalipun kontak langsung dengannya.


"Jadi, perkenalkan saya Jiang. Klien perusahaan MGK dari perusahaan Mount Grup" Jiang memperkenalkan dirinya pada Bill seraya mengulurkan tangan.


"Saya Bill Amedeo, suami dari pemilik perusahaan MGK" Balasnya dengan raut wajah datar. Bill juga mengulurkan tangannya terhadap Jiang.


"Bukannya dia.... pria yang kemarin sama Maria? Udahlah... ngga usah diperduliin. Lagian ngga ada hubungannya juga sama keluarga aku. Mau mereka pacaran, mau berhubungan. Toh, bukan urusan aku" Gumam Bill.


"Aiya... perkenalkan saya Leon. Saya adalah asisten pribadi Tuan Bill" Leon mengulurkan tangannya, ia juga tak luput dari senyuman manis yang biasa ditunjukkan pada orang orang sebagai tanda hormat.


"Ohh, Leon? Iya iya.. saya mengerti" Kata Jiang.


"Dia hiatus" Jawab Bill dengan singkat. Jiang pun lantas mengerti dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Seusai memperkenalkan diri masing masing, mereka pun melanjutkannya dengan membahas soal kerja sama perusahaan yang akan ditingkatkan lagi. Karena sebelumnya kedua perusahaan itu mampu berkembang pesat setelah bekerja sama, lalu mereka pun memutuskan untuk meningkatkan lagi kerja sama antar dua perusahaan itu agar lebih maju.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


"Nyonya, apa anda ingin berbelanja?" Seorang pelayan menawarkan pada Lusia untuk berbelanja lantaran Lusia terlihat begitu bosan seharian berasda di rumah.


"Mmmm... boleh juga sih, tapi---"


"Saya akan menemani Nyonya" Timpal seorang pelayan bernama Lala. Lusia tersenyum, lalu dirinya mengangguk pertanda bahwa ia setuju dengan tawaran Lala.

__ADS_1


Lusia menaiki anak tangga menuju ruang kamarnya. Dia mengambil sebuah tas yang biasa dibawanya setiap kali pergi kemana mana. Tidak perlu repot membawa uang, Lusia hanya perlu membawa sebuah kartu berwarna hitam berisi uang atau biasa disebut dengan Black card. Terkadang hanya orang orang konglomerat saja yang bisa memiliki kartu itu.


Tidak menggunakan waktu lama, Lusia berserta dengan pelayannya itu pun akhirnya tiba di depan sebuah gedung besar yang tak lain lagi adalah mall. Mereka diantar oleh sopir pribadi saat pergi menuju mall.


"Wahhh... besar banget...." Ucap Lala dalam hati.


"Kamu baru pernah ke sini, ya?" Tanya Lusia lantaran melihat wajah Lala yang seperti orang kagum. Sama seperti dirinya saat baru pertama kali datang ke mall.


"I---iya Nyonya, maaf" Jawabnya dengan kepala tertunduk. Lusia tersenyum, ia mendekati wajah Lala. Lala adalah gadis muda yang seumuran dengannya. Tapi sepertinya Lala sedikit lebih tua dari Lusia.


"Ngga perlu minta maaf. Kamu ngga salah, kok. Ayo kita belanja belanja" Ujarnya kemudian langsung menarik lengan Lala dan membawanya masuk ke dalam gedung mall.


"Tunggu Nyonya" Langkah nya terhenti, ia menatap wajah sang Nyonya dengan memasang raut wajah iba. Hal itu membuat Lusia menjadi tidak tega dengannya.


"Kenapa?" Tanya Lusia merasa penasaran dengan tingkah Lala yang tiba tiba aneh.


"Sa--saya, saya..."


"??? Kamu kenapa?"


"Saya tidak punya uang" Lanjut ucapnya.


"Ngga masalah. Saya akan belanjain kamu kok" Sontak Lala menjadi takjub dibuatnya. Ia tak menyangka bahwa Lusia akan sebaik itu terhadapnya. Gadis pelayan yang sangat rendahan.


"Dulu juga aku lebih sengsara dari kamu. Aku ngga akan biarin hidup kamu kaya hidup aku dulu, Lala. Aku pengin bikin kamu bahagia seperti aku yang sekarang" Batinnya.


Setelah cukup lama berkeliling sampai ke lantai 3, keduanya pun memutuskan untuk menuju cafe mall yang kebetulan sudah ada di depan mata. Mereka duduk berhadapan dan Lusia pun memesankan minuman untuknya serta Lala.


"Apa ini tidak masalah, Nyonya?" Tanya Lala. Ia benar benar merasa bahwa dirinya telah melewati batas sebagai seorang pelayan. Apalagi jika sang Tuan tau, yang ada didalam benaknya hanyalah omelan dari sang Tuan. Tidak hanya itu, Bill bisa saja memecatnya karena dirinya telah bersikap semena mena.

__ADS_1


"Tidak, kok. Nikmati saja semuanya...." Ujar Lusia dengan menunjukkan senyuman lebar diwajahnya.


Bersambung....


__ADS_2