![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Tak terasa langit sudah terlihat gelap, setelah cukup lama mereka berdua di tempat itu, Bill pun membawa Lusia ke suatu tempat yang belum diketahui oleh Lusia. Selama diperjalanan, mereka hanya saling terdiam. Tidak ada satupun diantara mereka yang membuka pembicaraan. Sekitar 1 jam lamanya menghabiskan waktu diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba ditempat tujuan.
Sontak Lusia merasa bingung dengan tempat yang ia kunjungi bersama Bill. Ia melihat sekeliling namun belum mengerti tempat aneh apa ini. Terlihat beberapa buah mobil yang terparkir bersebelahan dengan mobil yang ia tumpangi.
"Ini... tempat apa?" Tanya Lusia merasa heran.
"Ayo, ikut!" Ajaknya yang kemudian langsung menarik tangan Lusia.
Lantas mereka berdua pun menaiki sebuah bukit. Bill berjalan didepan dan Lusia mengikutinya dari belakang. Begitu tiba di atas bukit, Lusia baru mengerti mengenai tempat ini. Disana terlihat sebuah pemandangan indah namun tak banyak orang yang datang. Bill membawa Lusia ke sebuah kursi kayu yang dekat dengan tebing. Bisa dikatakan ini adalah sebuah wisata yang memang cocok dikunjungi pada malam hari. Sebuah lampu berwarna-warni yang terpasang serta beberapa penjual di sana membuat tempat ini lebih berarti.
"Bill, aku takut" Tuturnya sembari memeluk erat tangan Bill. Bill yang melihat perangainya hanya bisa tersenyum kecil melihat sang istri ketakutan.
"Ngga papa. Duduk sini" Ucapnya. Lusia pun akhirnya duduk disebelah Bill yang kini tengah duduk di kursi tersebut.
"Indah, kan" Imbuhnya dengan pandangan mata yang terus menatap ke arah Lusia. Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Bill, sebenernya kamu itu orang yang baik ya. Aku ngga nyangka bisa ketemu pria kaya kamu, bahkan sampe nikah sama kamu" Batinnya merasa tidak percaya.
Malam itupun mereka habiskan dengan melihat pemandangan kota yang begitu indah dari atas bukit. Lantaran keduanya yang hanya fokus mengobrol, mereka sampai tidak sadar jika ternyata ada sosok pria yang tengah memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
"Syukurlah...." Hembus nya sambil terus menatap keduanya. Namun kedatangan pria itu ternyata lebih dulu dari Bill dan Lusia. Sekitar dua puluh menit yang lalu pria itu datang ke tempat ini dan kemudian di susul dengan Bill serta Lusia.
"Kamu tau darimana tempat ini?" Tanya Lusia begitu tidak percaya melihat tempat seindah ini.
__ADS_1
"Emmmm.... ini...."
**Flashback on**
Suatu ketika, terjadi sebuah masalah dalam keluarga Amedeo. Saat itu Bill masih berusia delapan tahun. Ia belum mengerti apa apa dan sempat membuat masalah yang pada akhirnya melibatkan masalah dengan dua pihak. Namun mereka tidak ada yang tau siapa dalang dibalik semua masalah ini.
Pada akhirnya saat malam hari, Tuan Ling selaku anak pertama dari keluarga Amedeo itu menemukan pelaku yang telah menyebabkan masalah besar. Tak lain lagi pelaku itu adalah sosok Bill kecil yang belum mengerti apa apa. Lantas mereka semua mempermasalahkan hal ini, namun karena Nyonya Alice yang tidak terima dengan kenyataan yang telah ada, ia pun lebih memilih untuk kabur dari rumah dengan membawa Bill untuk sementara waktu.
Nyonya Alice mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tak ingin siapapun dalam keluarganya mengikutinya dari belakang. Setelah cukup lama menghabiskan waktu diperjalanan, Nyonya Alice serta Bill pun tiba di sebuah tempat. Tempat itu begitu indah, namun tidak terlihat seperti sebuah tempat penuh makna jika dilihat dari bawah. Tetapi ketika menaikinya hingga ke paling ujung, tempat yang terlihat aneh itu sudah sangat jelas terlihat indah. Bahkan seperti tempat tersembunyi.
Nyonya Alice menggandeng tangan Bill. Ia tak ingin satu satunya anak yang ia miliki hilang di tengah keramaian. Karena Nyonya Alice juga pernah mengalaminya sewaktu dia masih kecil. Kala itu dirinya sempat kehilangan sang Ayah ditempat keramaian.
"Bu, ini tempat apa?" Tanya Bill yang kini tengah duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Ia bersama Nyonya Alice berada di dekat tebing sambil menatap pemandangan kota malam dari atas bukit.
"Ini.... ini indah, kan?" Tuturnya pelan sambil menatap wajah putranya dengan penuh kasih sayang. Tangannya kini menyentuh wajah Bill, ia kemudian menciun keningnya.
"Maksud Ibu? Emmm... kesalahan aku apa?" Tanyanya yang merasa bingung dengan ucapan sang Ibu. Nyonya Alice tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan Bill.
"Ibu, jawab aku"
"Ngga ada sayang, kamu ngga bikin kesalahan apapun kok"
"Tapi tadi ibu bilang--" Ucapnya namun terjeda,
"Ngga perlu dibahas"
__ADS_1
Flashback off....
Namun kini Bill telah mengerti, apa yang telah ia perbuat semasa kecil yang sempat menyebabkan masalah dengan dua pihak keluarga.
"Oh... jadi gitu" Bill mengangguk.
Zzrrasshhh!!!! Suara hujan tiba tiba terdengar. Sebuah badai menerjang tempat itu. Badai yang disertai dengan guntur terdengar sangat mengerikan. Bill segera bangkit dari kursi dan beranjak pergi meninggalkan Lusia seorang diri.
"Eh? Bill!!" Teriaknya. Ia benar benar merasa panik saat Bill tengah berlari meninggalkannya seorang diri di sana. Namun tak lama setelah itu, Bill kembali datang dengan sebuah payung di tangannya. Ia memberikan payung tersebut kepada Lusia.
"Ini," Ucapnya sambil memberikan payung itu. Ia sengaja membeli dua buah payung agar Lusia bisa memilikinya sendiri.
Karena cuaca yang tidak begitu mendukung, Bill pun memutuskan untuk kembali ke tempat parkir. Meskipun hal itu juga sulit karena mungkin saja jalanan akan licin. Tetapi tidak ada pilihan lain juga, ia pun terpaksa turun dari bukit bersama Lusia dengan keadaan saat ini. Ia menuruni bukit dengan sangat perlahan begitu juga dengan Lusia. Tangannya terus menggandeng erat tangan Bill.
"Bill," Panggil nya. Namun Bill sepertinya tidak mendengar karena suara badai yang begitu berisik membuatnya sulit untuk bisa mendengar.
"Bill!!" Seru nya lagi. Tetapi Bill tidak juga mendengarnya. Karena sempat kesal, Lusia pun menarik lengan Bill. Namun sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Bill terjatuh yang kemudian membuat Lusia juga ikut terjatuh.
"Ahhh!!!" Teriak Lusia. Kini posisi mereka bertubrukan. Jalanan yang licin dipenuhi dengan lumpur membuat pakaian mereka habis terkena kotoran tanah.
"Sial" Jengkel Bill. Ia pun bangkit. Namun tidak dengan Lusia yang masih dengan posisi sebelumnya.
"Bantu," Ucapnya dengan memasang raut wajah iba. Tidak ada pilihan lain lagi, Bill pun membantu Lusia berdiri. Ia mengulurkan tangannya dan kemudian dibalas dengan uluran tangan oleh Lusia. Karena Lusia memakai pakaian yang cukup terbuka membuat Bill jadi gagal fokus. Ia malah semangat melihat dua gunung kembar yang terlihat begitu jelas karena pakaiannya yang tidak cukup untuk menutupi dua gunung kembar tersebut.
"Kenapa?" Tanya Lusia yang kini telah berhadapan dengan Bill.
__ADS_1
"Mana payungnya?" Imbuhnya bertanya lagi. Ia melihat sekeliling namun yang tampak hanyalah sebuah payung yang telah rusak. Dengan pasrah mereka pun akhirnya melanjutkan turun dari bukit tanpa sebuah payung. Lagipula penampilan mereka juga kini sudah berantakan.
Bersambung....