![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
"𝘗𝘢𝘺𝘢𝘩! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪?" Batinnya merasa sebal. Tak lama setelahnya, Bill datang dan melihat sosok Lusia sedang berdiri di sana. Pelayan itupun segera pergi.
"Darimana?" Tanya Bill dengan raut wajah sinis.
"Bukan urusan kamu" Lusia pun berjalan angkat kaki dari ruangan tersebut dan meninggalkan Bill seorang.
*****
Beberapa hari telah berlalu. Rasanya sudah lama tidak merasakan suhu panas di kota itu setelah sekian lama terjadi musim dingin. Suasananya kini sudah seperti hari hari biasa, aktivitas orang orang juga tidak terhenti lagi akibat musim dingin. Bill yang sudah terbiasa dengan mengenakan pakaian tebal dia pun mulai memakai pakaian kantoran lagi. Apalagi setelah pertengkaran hari itu, Bill dan Lusia bahkan sudah tidak pernah kontak langsung. Meskipun mereka berada di satu rumah yang sama.
Ketika hendak menuruni anak tangga untuk menuju halaman rumah, Bill melihat Lusia yang sedang melamun di tengah tengah anak tangga itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan di sana. Bill ingin berbicara dan mendekatinya, tapi ia ragu untuk melakukan hal tersebut karena sudah lama mereka tidak pernah kontak.
Akhirnya Bill pun hanya melewatinya dan tidak menghiraukan Lusia. Kemudian setelah tiba di halaman rumah, ia pun bergegas menaiki mobil yang sudah siap melaju dengan dikendarai oleh Leon.
Lusia yang masih setia dengan lamunannya, ia sampai lupa kalau ini sudah waktunya untuk berangkat ke kantor. Dengan cepat ia bergegas menuju kamarnya untuk mengambil sebuah tas kecil untuk dibawanya kemana mana setiap kali dirinya pergi.
Selang beberapa waktu, Lusia pun akhirnya tiba di kantor dengan suasana yang begitu ramai diperbincangkan oleh orang orang. Sesekali dia menengok ke arah kanan dan kirinya, orang orang itu menatap sinis wajah Lusia. Lusia yang tidak tau apa apa hanya dibuat heran oleh perangai mereka.
"𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘨𝘪𝘯𝘪?" Ia terus bertanya tanya dalam hatinya.
Setelah tiba di ruangan kerjanya, dia melihat Vien sudah berada di sana. Rasa heran terus terpikirkan dalam benaknya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pagi ini?
"Selamat pagi Nyonya," Sambut Vien ketika Lusia memasuki ruangan tersebut. Namun Lusia hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Nyonya, ada yang ingin saya katakan" Ucap Vien dengan tatapan ragu pada Lusia.
"Oh, iya"
"Tadi ada anak sekolah yang datang kemari. Dia mencari Nyonya, saya khawatir jika dia membuat masalah di perusahaan ini. Jadi, tidak ada cara lain selain saya mengusirnya" Jelas Vien.
"𝘗𝘢𝘯𝘵𝘦𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘪𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘦𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘦𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪? 𝘋𝘶𝘩.... 𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪?"
"Nyonya?" Vien mengibaskan telapak tangannya tepat di depan wajah Lusia yang terlihat panik. Sebenarnya Vien juga tau siapa yang telah datang kemari. Dia juga mengerti apa yang sedang Lusia pikirkan saat ini.
"Iya, ngga papa. Usir aja mereka kalo dateng ke sini lagi, aku khawatir kalo mereka sampe bikin keributan di perusahaan ini" Cetus Lusia dengan sedikit senyuman ragu di wajahnya. Vien yang melihat raut wajah Lusia lantas menjadi cemas padanya.
"Baik, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu Nyonya" Papar Vien sambil membungkuk hormat pada Lusia. Itu adalah cara menghormati atasan mereka yang biasa mereka lakukan.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa hari sudah terlihat semakin sore, matahari yang tadinya berapa di arah timur kini sudah terlihat di bagian barat dan hampir tenggelam. Sebenarnya Lusia sudah ingin cepat cepat pulang ke rumah dan beristirahat. Namun karena pekerjaannya yang masih begitu banyak membuatnya jadi terjebak di perusahaan dan tidak bisa pulang.
Karena ingin menghilangkan rasa lelah, Lusia pun mencoba untuk menuju restoran perusahaan. Dia melewati banyak anak tangga untuk sampai di lantai bawah tempat restoran tersebut. Ia sengaja tidak menaiki lift karena ia lebih suka dengan anak tangga yang bisa membuatnya lebih lama untuk tiba ke lantai bawah. Kalian semua pasti aneh dengan sikap Lusia, kan? Hehe... autho juga tidak tau kenapa dia lebih memilih anak tangga dibandingkan dengan menaiki lift.
Setibanya di restoran, Lusia memilih beberapa menu minuman yang belum pernah ia coba sebelumnya. Karena setiap kali datang ke tempat ini Lusia hanya membeli coklat panas dan brownies coklat lumer. Yah, karena coklat adalah makanan yang paling ia sukai. Kali ini Lusia memilih menu minuman matcha, dia juga memesan makanan yaitu kue roll. Tidak lain lagi, dia juga menginginkan agar diberi toping coklat di atas minuman dan makanannya.
Tidak menggunakan waktu lama, makanan dan minuman yang ia pesan pun dihidangkan. Pelayan itu juga menyediakan coklat dalam wadah besar agar Lusia puas dengan memakan coklat sebanyak itu.
"Wahhh, makasih" Ucap Lusia merasa terkesima dengan coklat yang dibawakan oleh sang pelayan restoran.
"Sama sama Nyonya, silahkan dinikmati. Jika ada sesuatu yang Nyonya perlukan Nyonya bisa panggil kami" Cetus nya yang kemudian langsung pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
Lusia menikmati setiap lelehan toping coklat di kue roll. Dia juga tidak lupa menambahkan lelehan coklat tersebut di atas minuman matcha nya. Entah kenapa saat ia sedang menikmati makanan tersebut, dirinya tiba tiba teringat kembali dengan ucapan Vien bahwa ada seseorang yang datang kemari tadi pagi.
Jika dipikir pikir, Vien tidak menyebutkan jumlah anak yang datang menemuinya. Dia hanya mengatakan 'dia'. Lusia juga baru teringat, mungkin saja bukan Nara dan temannya yang datang melainkan Ethan. Setelah cukup lama menghabiskan hidangan itu, Lusia memutuskan untuk pergi menuju halaman depan perusahaan terlebih dahulu sebelum kembali ke ruangan kerjanya.
Ketika berada di halaman perusahaan, ia menoleh ke sana kemari. Melihat barangkali orang yang tadi pagi mencarinya datang kembali ke tempat itu. Tapi karena sudah cukup lama Lusia berdiri di sana namun tidak ada tanda tanda orang yang sedang mencarinya, ia pun lebih baik kembali ke ruangan kerjanya agar pekerjaannya cepat selesai dan ia bisa pulang lebih awal.
********
"Hoammmmm" Lusia menguap. Ia melihat arah jarum jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 20.11. Tidak disangka ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dengan langkah yang terburu buru, Lusia masuk kedalam lift dan melihat Vien yang juga sedang berada di sana.
"Iya, Nyonya"
"Kamu mau pulang?" Tanyanya dengan nada rendah.
"Iya. Apa Nyonya juga akan pulang?" Lusia mengangguk dan kemudian memalingkan pandangannya dari wajah Vien.
Begitu tiba di basement, Vien menyarankan agar Lusia pulang bersamanya saja. Soal mobil Lusia yang berada di sana nanti akan ia urus. Asalkan Lusia bisa pulang dengan selamat.
"Nyonya saya antarkan pulang saja. Nanti biar mobil Nyonya saya yang urus" Cakap Vien.
"Hmmm, ngga perlu. Lagipula ini masih jam segini, saya bisa pulang sendiri" Tolak Lusia yang akhirnya membuat Vien mengalah.
Sepanjang perjalanan ternyata Vien mengikuti mobil Lusia dari belakang. Hal itu juga ternyata disadari oleh Lusia yang berkali kali melihat kaca bagian depan mobilnya.
"Padahal aku ngga kenapa napa. Bisa aja dia ikutin aku dari tadi" Ucap nya dengan tangan yang masih setia mengendalikan mobil.
Setelah tiba di kediaman Amedeo, Vien tidak kunjung masuk ke halaman rumah itu melainkan hanya melewatinya saja. Ia sengaja mengikuti Lusia dari belakang karena merasa cemas. Begitu memasuki kediaman Amedeo, Lusia merasa ada yang sedikit berbeda. Ia melihat sekeliling ruangan dan tidak mendapati Bill. Ternyata Bill belum juga kunjung pulang.
__ADS_1
Tetapi Lusia tidak memikirkan soal itu, ia pun mmbersihkan tubuhnya di kamar mandi dan kemudian mengganti pakaiannya dengan piama. Karena merasa belum ingin tidur, Lusia pun memutuskan untuk berdiri di anak tangga itu saja sambil memikirkan seseorang. Orang yang sedang ia pikirkan adalah orang yang tengah mencarinya tadi pagi.
"𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘝𝘪𝘦𝘯 𝘢𝘫𝘢?" Ia pun akhirnya mencoba menghubungi Vien. Vien yang mendengar ada panggilan di teleponnya lantas ia langsung mengangkat pangggilan tersebut.
"Nyonya?" Sahit Vien membuka pembicaraan.
"Hmmm, aku mau nanya" Ucap Lusia basa basi.
"Oh, apa yang ingin Nyonya tanyakan?" Vien pun memberhentikan mobilnya sejenak dan menepi.
"Orang yang tadi pagi cari saya di perusahaan, namanya siapa?"
"Saya tidak tau Nyonya. Tapi yang jelas dia laki laki dan hanya datang sendirian"
Sudah pasti yang terlintas dibenak Lusia adalah Ethan. Ia sangat yakin kalau orang itu adalah Ethan.
"Kalo besok dia dateng lagi, aku mau minta tolong sama kamu buat usir dia. Dan jangan sampe dia nyariin aku lagi" Paparnya. Vien pun mengangguk.
Setelah cukup lama ia berada di tengah tengah anak tangga, tiba tiba saja suara mobil terhenti di halaman rumahnya. Ia mengerti kalau orang itu sudah pasti adalah Bill. Untuk menghindari sang suami, Lusia pun bersembunyi di kamarnya dan hanya membuat sedikit celah di pintu masuk kamar.
"Tuan, ayo kita ke atas" Ucap Leon yang terdengar jelas sampai kamar Lusia. Karena ruangan tersebut juga tidak dipenuhi dengan barang, jadi suara siapapun akan terdengar jelas meskipun dengan suara lirih.
Lusia yang merasa penasaran akhirnya mencoba keluar dari kamar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap ke lantai bawah, dan ternyata di sana sedang ada dua pria yang tidak jelas sedang melakukan apa.
"Hahahaaa!!!!" Bill terus tertawa. Lusia yang melihatnya lantas dibuat bingung oleh perangainya.
"Huhhh.... susah juga kalo atur orang mabuk" Lontar Leon yang sontak membuat Lusia terkejut. Dia baru menyadari jika ternyata Bill tengah mabuk. Karena merasa khawatir akan terjadi apa apa padanya jika mendekati orang mabuk, ia pun kembali bersembunyi di dalam kamarnya
Waktu menunjukk pukul 23.34. Suasana di rumah itu begitu hening. Lantas Lusia yang sedari tadi sudah berada di dalam kamarnya itu ternyata belum bisa memejamkan kedua bola matanya. Rasa kantuk juga tidak kunjung kunjung nya datang. Karena penasaran dengan keadaan Bill saat ini, Lusia pun nekat keluar dari kamar dan menuju kamar milik Bill yang terletak bersebelahan dengan kamarnya meskipun sedikit dihalangi oleh jarak.
Krieetttt___ Dengan langkah kaki ragu Lusia memasuki ruangan kamar tersebut. Ruangannya yang begitu luas, sudah lama ia tidak masuk ke dalam kamar ini setelah berpisah kamar dengan Bill. Dia melihat sosok sang suami tengah tertidur lelap.
Ia menempelkan telapak tangannya di jidat Bill. Dengan perasaan santai, Lusia juga mengelus lembut pipi Bill. Ia sama sekali tidak berpikir jika wajahnya itu begitu tampan meskipun saat tertidur.
Grep!! Tubuh Bill menghalangi tangan Lusia. Kini tangan Lusia terjebak dalam pelukannya. Wajahnya langsung memucat karena takut Bill akan terbangun. Tangannya juga gemeteran di tambah dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.
Lusia mencoba melepaskan pelukan Bill. Ia menarik tangannya dengan sangat perlahan, namun Bill beberapa kali bergerak jika Lusia mencoba untuk menarik tangan tersebut. Setelah cukup lama berusaha menarik tangannya, ia pun akhirnya berhasil dan langsung berlari keluar dari kamar Bill karena ia takut akan ketahuan jika terlalu lama berada di sana.
Bersambung....
__ADS_1