[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 67 [S2]


__ADS_3

Happy Reading~


Tak.. tuk... tak... tuk.... detik jam terus berputar. Hanya ada suara keheningan di seluruh ruangan, ruangan yang begitu sepi dan hawa dingin mulai menyelimuti. Beberapa tempat terlihat gelap lantaran tidak adanya cahaya lampu serta jarang sekali ruangan di pakai. Lusia melewati sebuah ruang tamu, dan di ruangan berikutnya terlihat dua sosok manusia yang tak lain lagi adalah mertuanya.


"Selamat siang, Ayah... Ibu.... " Sapa Lusia ketika telah tiba di hadapan mereka. Sontak keduanya pun terkejut melihat kedatangan sang menantu yang tiba tiba.


"Kok ke sini nya ngga kabarin dulu?" Tanya Alice seraya tersenyum pada Lusia.


"Duduk dulu yo, di ruang tengah aja" Lanjut ucapnya. Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang tengah. Terlihat setiap sudut ruangan yang begitu bersih, apalagi warna cat tembok yang elegan mampu menambah daya tarik tersendiri.


"Jadi..., ada yang mau aku tanyain" Ucap Lusia tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Soal apa?" Tanya Jasper dengan bersemangat.


"Apa kalian kenal sama Calvin?" Lantas keduanya langsung terdiam, wajahnya seketika memucat dan mulutnya membisu. Lusia heran, setelah melihat raut wajah aneh kedua mertuanya.


"Kenapa mereka tiba tiba jadi gitu? Wajahnya.... serem" Gumamnya. Ia pun tersenyum kecil dan jadi merasa tidak enak telah menanyakan soal Calvin pada mereka.


"Kenapa kamu tiba tiba tanya soal Calvin?" Seru Alice. Lusia tercengang, saat melihat Ibunya tengah menatapnya dengan raut wajah curiga.


"Aku pengin tau aja, soalnya aku liat Bill cukup deket sama orang itu" Bohongnya. Alice mengangguk, ia paham apa yang dikatakan oleh Lusia barusan.


"Dia itu kakak sepupunya Bill. Emmmm, lebih tepatnya Ayahnya Calvin itu kakak kami" Jelas Alice. Kepalanya langsung tertunduk seakan sedang menahan rasa sedihnya. Lusia sendiri jadi merasa bersalah setelah melihat ekspresi yang keluar dari wajah sang Ibu mertua.


"Tuh kan bener! Sejak awal aku udah curiga, ternyata mereka emang punya hubungan darah. Tapi, apa maksud dari kata katanya Ibu, ya? Dia bilang.... Ayahnya Calvin itu kakak 'kami' kenapa bukan kakak aku? Atau kakaknya Jasper gitu?" Pikir nya.


Setelah cukup lama menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Jasper dan Alice, wanita itupun lantas berpamitan untuk kembali ke rumah. Sebelum pergi meninggalkan mertuanya, ia sempat berpesan agar tidak memberitahu Bill bahwa dirinya sempat berkunjung ke rumah mereka dengan membahas soal Calvin. Dan hal itupun disetujui oleh keduanya meskipun mereka sempat merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada hal yang disembunyikan oleh Lusia.


Kurang lebih 1 jam lamanya Lusia mengendarai mobil menuju rumah, ia pun akhirnya tiba di halaman rumah yang luas. Namun ia sempat terkejut dan tak sengaja rem mendadak setelah melihat sebuah mobil milik adik tirinya tengah terparkir di halaman rumah. Lusia langsung bergegas turun dari mobil dan menghampiri Maria. Penampilannya terlihat begitu kacau, matanya terus mengeluarkan air mata dan wajahnya telah di basahi oleh air matanya.


"Ka--kamu, kenapa?!!!" Tanya Lusia kalang kabut. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi pada adiknya. Benaknya terus mengarah pada seorang pria yang selalu berdampingan dengannya, tak lain dan bukan lain lagi pria itu adalah Jiang.


"Apa ini karena pria itu??!!!! Iya?!!!!" Tanpa disadari, ternyata dirinya telah mengeluarkan emosi. Ia tak bisa menahan emosinya lantaran melihat sang adik yang terus menangis di hadapannya. Maria menggeleng, ia masih terus mengeluarkan air mata dari kedua bola matanya.

__ADS_1


"Ayah... Ibu.... mereka... mereka..... "


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Tok tok.... seseorang tengah mengetuk pintu ruang kerja Bill. Ia segera menyuruhnya masuk.


"Selamat sore, Tuan" Sapa nya sembari membungkukkan badan dengan hormat. Bill pun hanya mengangguk sebagai tanggapan.


"Ini, ada beberapa berkas penting yang harus anda tanda tangani" Ucap pria itu dengan menyerahkan sebuah lembaran penting pada Bill.


"Liat Leon ngga?" Tanya Bill. Tangannya masih sibuk dengan keyboard komputer.


"Tidak Tuan,"


"Uh, kenapa masih ketik mulu sih?!!! Ngga tau apa liat gue berdiri nungguin dia!" Decak pria itu dalam hati. Matanya terus memandang Bill dengan sinis. Namun siapa sangka, ternyata Bill sempat melihat tatapan sinis dari pria itu.


"Kamu bisa pergi dulu. Nanti aku yang anter ke ruangan kamu aja" Cetus Bill. Pria itupun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Bill dengan langkah yang semangat.


Tingg..... ting.... ia menyeduh sebuah kopi di dalam gelas, lalu meminumnya. Tak! Ia membuka layar ponselnya, dan melihat sebuah panggilan tidak terjawab dari nomor baru.


"Siapa?" Pikirnya dalam hati. Lekas Bill langsung menelepon balik nomor yang sempat menghubungi nya, namun orang itu bukannya mengangkat malah mengakhiri panggilan.


"Sialan, dasar orang aneh" Decak nya merasa kesal.


Setelah kembali menuju ruang kerja, ia tak sadar bahwa ternyata seseorang terus meneleponnya. Ia tak mendengar nada dering ponsel karena ia menaruhnya di saku jas. Ia juga tak merasakan getaran ponsel akibat silent.


****


"Duh, kenapa ngga di angkat, sih! Plis... ini penting" Ucap Lusia, ia beberapa kali mencoba menghubungi sang suami, namun tidak ada jawaban. Tiba tiba sebuah ide muncul dalam benaknya, dengan cepat dirinya langsung mencoba untuk menghubungi Leon.


Drrrtttt..... begitu mendengar ponselnya berdering, Leon pun langsung mengangkatnya.


"Halo, selamat sore Nyonya. Ada apa, ya?" Tanya Leon sekaligus membuka obrolan.

__ADS_1


"Kamu dimana? Lagi sama Bill ngga?"


"Saya sedang di luar Nyonya, nanti saya akan coba hubungi Tuan" Papar nya.


"Emmm, oke deh"


"Memangnya ada keperluan apa?" Tanyanya lagi.


"Anu, suruh dia pulang ya"


"Baik"


Tut!


"Nyonya Lusia... apa dia lagi berada dalam masalah? Atau.... " Gumamnya.


"Itu Nyonya?" Tanya Vien. Mereka berdua kini tengah berada di cafe untuk bisa menenangkan pikiran sejenak. Leon pun mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Aku coba hubungi Tuan dulu" Kata Leon. Ia langsung mengubungi sang Tuan. Namun hasilnya nihil, karena Bill tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Ia pun bangkit dari kursi dan masuk ke dalam mobil pribadi miliknya.


"Mau kemana?" Tanya Vien dengan wajah datar, ia memang tidak suka tersenyum apalagi banyak bertanya.


"Mau ke perusahaan dulu. Tuan ngga angkat angkat teleponnya. Takutnya Nyonya udah nungguin" Seru Leon dari dalam mobil. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat tiba di tempat tujuan.


Drrrtttt.... baru beberapa menit diperjalanan menuju perusahaan, ponselnya tiba tiba berdering. Saat dilihatnya, ternyata Bill tengah menghubunginya. Dengan cepat Leon pun mengangkat panggilan tersebut.


"Leon? Kenapa?" Tanya Bill setelah Leon mengangkat panggilannya darinya.


"Nyonya mencari anda. Sebaiknya Tuan segera pulang karena Nyonya menginginkannya.... " Ucap Leon yang sontak membuat Bill jadi panik. Bill pun langsung bergegas menuju basement setelah mengakhiri obrolannya dengan Leon. Alhasil Leon pun terpaksa melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan.


Bersambung....


*Jangan lupa tinggalkan jejak!

__ADS_1


__ADS_2