![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Waktu menunjukkan pukul 17.22. Langit sudah mulai terlihat gelap dan angin bersiul mampu menerbangkan dedaunan. Ethan bersama dengan Maria berjalan menuju rumah masing masing. Namun demi keselamatan gadis itu, Ethan pun dengan senang hati mengantarkannya sampai ke rumah.
"Ah--, makasih buat hari ini! Tadi seru banget tuh" Cetus Maria sambil tersenyum malu pada Ethan.
"Ngga masalah. Lain kali jangan bolos lagi, ya" Tegur Ethan. Maria pun mengangguk menandakan bahwa dirinya berjanji. Belum sempat Ethan melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah tersebut, sebuah mobil berwarna putih tiba tiba berhenti. Seseorang yang keluar dari mobil tersebut mampu membuat keduanya terkejut.
"Lusia?!!" Seru nya dengan kompak. Lusia sendiri juga merasa terkejut melihat Ethan tengah bersama dengan adik tirinya itu.
"Kok kamu di sini?" Tanya Lusia seraya melangkahkan kaki menghampiri keduanya.
"Tadi---"
"Tadi kita ketemu di jalan, terus kak Ethan anterin aku pulang" Bohong Maria.
"Oh, hmmm...."
"Kamu ada urusan apa dateng ke sini?" Tanya Maria dengan sinis.
"Aku pamit dulu. Kalian silahkan ngobrol" Dengan perlahan Ethan mulai meninggalkan halaman rumah Maria.
****
"Jadi, aku mau ajak kamu buat tinggal di rumah Bill" Ucap Lusia yang sontak mengejutkan gadis yang duduk di sebelahnya.
"Apa apaan! Ngga mau!!!" Maria bangkit dari kursi, ia melangkahkan kaki menuju tangga untuk meninggalkan Lusia. Gadis yang menurutnya meyebalkan.
"Bill ngga akan biaya in pembantu pembantu ini lagi. Jadi, sekarang kamu mau ikut ke rumah Bill atau ngga? Sebaiknya jangan salah ambil keputusan"
Maria berhenti, ia berbalik menatap Lusia dengan raut wajah syok. Ingin rasanya marah namun tak bisa, lagipula menurutnya Lusia juga tidak ada sangkut pautnya dengan perihal ini.
__ADS_1
"Aku pergi," Lusia keluar dari pintu keluar masuk rumah dengan tas kecilnya. Sebelum memasuki mobil, Maria yang tadinya masih mematung di tangga pun berlari menghampiri kakaknya.
"Oke oke, aku tinggal di rumah Bill"
☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎
Suasana yang begitu menegangkan, ketiga orang tersebut berkumpul di ruang tengah membahas soal kehidupan Maria selanjutnya.
"Seusai lulus SMA, kamu harus sekolah di luar negeri" Ucap Bill. Maria membulatkan kedua bola matanya, menatap penuh heran pada sepasang suami istri di hadapannya.
"Haha! Jangan bercanda, deh" Sanggah nya. Namun ekspresi wajah serius tampak di kedua wajah kakak tiri dan kakak iparnya itu. Yang artinya mereka tidak sedang bermain main dengan ucapannya.
"Duh, kenapa alurnya jadi gini sih! Apa aku bakal jadi boneka mereka?" Celoteh Maria dalam hatinya.
"Besok, rambut kamu harus di cat hitam! Hilangin warna cat abu abu itu" Tegas Bill. Maria menunduk, ia tak tau harus memilih jalan apa.
"Kalo aku boleh jujur... aku mau nikah aja" Ujar Maria yang sontak membuat keduanya terkejut kalang kabut.
"Iya! Aku mau nikah sama Jiang...." Maria langsung pergi ke kamarnya setelah mengucapkan kata kata itu. Kamarnya terletak di lantai bawah. Meskipun itu adalah kamar tamu, namun desain di dalamnya tidak sebanding dengan kamar tamu pada umumnya.
"Duh, gimana ini? Masa iya dia mau nikah sama Jiang?" Lusia terus berjalan ke sana kemari memikirkan sang adik. Tak biasanya ia merasa secemas ini, namun baru kali ini dirinya merasa cemas.
"Jangan terlalu di pikirin. Pikirin aja soal kandungan kamu. Soal Maria biar aku yang urus" Timpal Bill yang masih duduk dengan santai sambil menikmati secangkir kopi avocado.
"Huh... ya udahlah... aku percaya sama kamu"
*****
Drrtttt.... ponsel Bill berdering. Seseorang tengah meneleponnya melalui telepon seluler. Bill yang masih sibuk dengan keyboard laptopnya lantas tak menghiraukan panggilan tersebut. Ia masih terus melanjutkan proyek nya yang seharusnya sudah selesai dalam beberapa jam ke depan.
Malam ini Bill benar benar sibuk, ia sampai harus lembur hingga jam 01.22 WIB. Bahkan Lusia saja sudah tidur terlebih dahulu sejak 4 jam yang lalu.
__ADS_1
"Hoammm...." Ia menguap, rasa kantuk benar benar sudah meluap di matanya. Ia pun bangkit dari kursi kerjanya menuju dapur untuk membuat kopi. Saat hendak menuju dapur, entah mengapa dirinya tiba tiba penasaran dengan suatu hal yang sedang dilakukan Maria malam ini. Dia menuruni tangga demi tangga hingga tiba di lantai paling bawah.
Kriett... pintu itu terbuka. Ternyata Maria sudah terlelap di ranjangnya. Bill pun kembali menuju lantai atas dimana letak dapur itu berada. Ia menuangkan air dari dalam termos ke dalam gelasnya.
Begitu duduk kembali di kursi kerjanya, Bill pun menyempatkan untuk membuka layar ponselnya sejenak. Ternyata orang yang tadi menghubungi nya adalah Leon. Karena merasa ada suatu hal yang pastinya penting, dengan cepat Bill menghubungi Leon. Namun panggilan tersebut tak di angkat oleh asisten pribadinya itu. Rasa heran terus terlintas di benaknya lantaran Leon tiba tiba saja tidak bisa dihubungi setelah menghubungi dirinya.
"Mungkin aja dia udah tidur kali ya" Pikirnya seraya meletakkan ponsel di samping laptop. Selang beberapa waktu, teleponnya itu kembali berdering. Setelah dilihatnya, ternyata Leon kembali menghubunginya.
"Leon, kenapa?" Tanya Bill setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Anu Tuan, umm.... apa saya boleh meminta cuti 2 hari lagi? Karena saya belum menyelesaikan masalah pribadi saya" Ucapnya dengan suara orang seperti habis berlari jauh.
"Tadi kenapa tiba tiba ngga bisa dihubungi?" Tanya Bill tiba tiba.
"Iya, tadi saya ke toilet dan meninggalkan ponsel saya di kamar. Maaf," Ucapnya.
"Ya udah. Kamu boleh cuti lagi. Tapi setelah itu ngga ada ya!" Tegas nya. Kemudian ia pun mengakhiri panggilan secara sepihak.
Karena malam yang sudah begitu larut bahkan hampir menjelang pagi, Bill pun memutuskan untuk beristirahat saja dan melanjutkan pekerjaannya di hari esok agar besok bisa lebih fit saat bekerja. Perlahan Bill memasuki ruang kamar yang sudah tertutup rapat, ia berbaring di atas ranjang bersebelahan dengan Lusia.
"Waktu tidur pun, kamu tetep cantik" Ucapnya seraya mengelus lembut kepala sang istri. Lusia membuka kedua bola matanya dan sempat mengejutkan pria yang tengah menatapnya dengan santai.
"Astaga!" Karena terkejut, ia pun mengangkat tubuhnya dan terduduk.
"Lain kali jangan iseng, dong" Oceh Bill dengan menunjukkan raut wajah sebal. Lusia pun menjadi tertawa dibuatnya.
"Capek, ya? Udah sana tidur dulu.... " Seloroh Lusia. Ia kemudian kembali menutup kedua bola matanya dan menutup tubuhnya dengan kain selimut.
"Ugh, niatnya juga mau tidur. Tapi kamunya bikin kaget sih!!!" Batinnya.
Malam itupun ia mampu tidur dengan nyenyak, meskipun tidak banyak waktu baginya untuk beristirahat. Sebenarnya juga Lusia merasa kasihan padanya setelah meninggalkannya di ruang kerja seorang diri, namun apa boleh buat? Dia juga butuh istirahat demi calon anaknya.
__ADS_1
Bersambung....